1.NASAB DAN KEDUDUKAN ALI BINABI THALIB RA.
Nama
lengkap beliau, Ali binAbi Thalib ra. bin Abdi Manaf bin Abdul
Muththalib bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murrah bin
Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin an-Nadhar bin Kinanah
Abul Hasan dan Husein, digelari Abu Turab874, keponakan sekaligus
menantu Rasulullah saw. dari puteri beliau, Fathimah az-Zahra’.
Ibu beliau bernama Fathimah binti Asad
bin Hasyim bin Abdi Manaf bin Qushay, ibunya digelari Wanita Bani Hasyim
pertama yang melahirkan seorang putera Bani Hasyim.875 Beliau memiliki
beberapa orang saudara laki-laki; Thalib, Aqiel dan Ja’far. Mereka semua
lebih tua dari beliau, masing-ma-sing terpaut sepuluh tahun. Beliau
memiliki dua orang saudara perempuan; Ummu Hani’ dan Jumanah. Keduanya
adalah puteri Fathimah binti Asad, ia telah masuk Islam dan turut
berhijrah. Ayah beliau bernama Abu Thalib. Dia adalah paman kandung yang
sangat menyayangi Rasulullah saw. nama sebenarnya Abdi Manaf.
Demikianlah disebutkan oleh Imam Ahmad dan ulama-ulama ahli nasab dan
sejarah.
Kaum Rafidhah mengira Abu Thalib ini bernama Imran, bahwa dialah yang dimaksud dalam firman Allah SWT.: ” Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Null, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing).” (Ali Imran: 33).
Kaum Rafidhah ini telah jatuh dalam
kesalahan yang amat besar. Mereka tidak memperhatikan ayat-ayat
al-Qur’an lainya sebelum mereka mengucapkan kedustaan tersebut dengan
menafsirkan ayat seenaknya. Karena setelah itu Allah SWT. mengatakan, ” (Ingatlah), ketika isteri Imran berkata, ‘ Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis)’.” (Ali Imran: 35). Allah SWT. menyebutkan kelahiran Maryam binti Imran. Begitulah zhahirnya, alhamdulillah.
Abu Thalib ini sangat menyayangi
Rasulullah saw. namun ia tidak ber-iman kepada beliau. Bahkan ia mati di
atas kekufuran seperti yang telah diriwayatkan dalam Shahih al-Bukhari.876
Ali binAbi Thalib ra. termasuk salah seorang sahabat yang dijamin masuk
surga dan salah seorang dari enam orang ahli syura. Beliau termasuk
sahabat yang Rasulullah saw. wafat dalam keadaan ridha kepadanya. Beliau
adalah khalifah rasyid yang keempat.
2. Sifat Fisik Ali Bin Abi Thalib ra.
Beliau memiliki kulit berwarna sawo
matang, bola mata beliau besar dan berwarna kemerah-merahan,877 berperut
besar dan berkepala botak. Berpe-rawakan pendek dan berjanggut lebat.
Dada dan kedua pundak beliau padat dan putih, beliau memiliki bulu dada
dan bahu yang lebat, berwajah tampan dan memiliki gigi yang bagus,
ringan langkah saat berjalan.878
3. Keislaman Ali bin Abi Thalib ra. dan Peran Beliau Sebelum Diangkat Menjadi Khalifah
Ali binAbi Thalib ra. masuk Islam saat
beliau berusia tujuh tahun, ada yang mengatakan delapan tahun, dan ada
pula yang mengatakan sepuluh tahun. Dikatakan bahwa beliau adalah orang
yang pertama kali masuk Islam. Namun yang shahih adalah beliau merupakan
bocah yang pertama kali masuk Islam, sebagaimana halnya Khadijah adalah
wanita yang pertama kali masuk Islam, Zaid bin Haritsah adalah budak
yang pertama kali masuk Islam, Abu Bakar ra adalah lelaki merdeka yang
pertama kali masuk Islam. Ali bin Abi Thalib ra. Memeluk Islam dalam
usia muda disebabkan ia berada di bawah tanggungan Rasulullah saw. Yaitu
pada saat penduduk Makkah tertimpa paceklik dan kelaparan, Rasulullah
saw. mengambilnya dari ayahnya. Ali bin Abi Thalib kecil hidup bersama
Rasulullah saw. Dan ketika Allah mengutus beliau menjadi seorang rasul
yang membawa kebenaran, Khadijah serta ahli bait beliau, termasuk di
dalamnya Ali bin Abi Thalib, segera memeluk Islam. Adapun keislaman yang
bermanfaat dan menyebar manfaatnya kepada manusia adalah keislaman Abu
Bakar ash-Shiddiq Diriwayatkan dari Ali bahwa ia berkata, “Aku adalah
orang yang pertama kali masuk Islam.” namun sanadnya tidak shahih. Telah
diriwayatkan juga haditshadits yang semakna dengan ini yang
diriwayatkan oleh Ibnu Asakir, namun kebanyakan dari hadits itu adalah
munkar dan tidak shahih, wallahu a’lam.
Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi berkata,
“Wanita pertama masuk Islam adalah Khadijah, kaum lelaki pertama yang
masuk Islam adalah Abu Bakar dan Ali , hanya saja Abu Bakar menyatakan
keislamannya sementara Ali menyembunyikannya.” Menurut saya, “Yang
demikian itu karena ia takut kepada ayahnya, kemudian ayahnya
memerintahkannya supaya mengikuti dan membela keponakannya.” Ali turut
berhijrah setelah Rasulullah saw. keluar dari kota Makkah. Rasulullah
saw. menugaskannya untuk memberaskan hutang piutang beliau dan
mengembalikan barang-barang yang dititipkan kepada beliau. Kemudian Ali
menyusul beliau setelah melaksanakan perintah beliau dan turut
berhijrah. Rasulullah saw. mempersaudarakannya dengan Sahal bin Hunaif .
Ibnu Ishaq dan penulis sejarah lainnya
menyebutkan, “Rasulullah saw. mempersaudarakannya dengan diri beliau
sendiri. Telah diriwayatkan banyak hadits tentangnya tapi tidak shahih,
karena sanadnya dhaif. Dan sebagian matannya sangat
ganjil, dalam sebuah matan disebutkan, ‘Engkau adalah saudaraku,
pewarisku, khalifah setelahku, dan sebaik-baik amir sepeninggalku’.”
Hadits ini maudhu‘ (palsu) dan bertentangan dengan hadits-hadits yang shahih dalam kitab Shahihain dan
kitab-kitab hadits lainnya. Beliau ikut serta dalam perang Badar dan
beliau memiliki jasa yang besar dalam peperangan tersebut. Beliau juga
turut serta dalam peperangan Uhud, pada saat itu beliau tergabung dalam
sayap kanan pasukan yang memegang panji setelah Mush’ab bin Umair.
Beliau juga turut serta dalam perang Khandaq. Dalam peperangan ini
beliau berhasil menewaskan jagoan Arab dan salah seorang pemberani
mereka yang sangat populer, yakni Amru bin Abdi Wud al-’Amiri. Beliau
juga turut serta dalam perjanjian Hudaibiyah dan Bai’atur Ridhwan.
Beliau juga mengikuti peperangan Khaibar. Dalam peperangan ini beliau
menunjukkan aksi yang luar biasa dan kepahlawanan yang mengagumkan.
Allah member kemenangan lewat tangannya.
Dan dalam peperangan ini beliau berhasil menewaskan Mirhab al-Yahudi.
Beliau juga turut serta dalam Umrah Qadha’. Pada saat itulah Rasulullah
saw. berkata kepadanya, “Engkau bagian dariku dan aku adalah bagian darimu.”879 Adapun kisah yang banyak diceritakan oleh para qushshash (tukang
cerita) bahwa beliau pernah bertarung melawan jin di sumur Dzatul
ilmi,880 sebuah sumur di dekat Juhfah, adalah kisah yang tidak ada
asal-usulnya. Kisah itu termasuk kisah yang diada-adakah oleh
orang-orang jahil dan tukang cerita, janganlah
terpedaya dengannya. Beliau juga
mengikuti penaklukan kota Makkah, peperangan Hunain dan ath-Thaif.
Beliau berperang dengan gagah berani lalu beliau berumrah bersama
Rasulullah saw. dari al-Ji’ranah. Ketika Rasulullah saw. berangkat ke
Tabuk, beliau mengangkatnya sebagai pengganti beliau di Madinah. la
berkata kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah saw. apakah engkau
membiarkan aku bersama kaum wanita dan anak-anak?” Rasulullah saw.
berkata kepadanya, ” Tidakkah engkau ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada nabi setelahku. “881
Rasulullah saw. mengutusnya sebagai amir
dan hakim di negeri Yaman bersama dengan Khalid bin al-Walid. Kemudian
beliau menyusul Rasul pada haji wada’ ke Makkah dengan membawa onta
korban beliau. la bertahallul sebagaimana tahallulnya. Rasulullah
saw. dan memberinya bagian dari hewan korban beliau.882 Lalu ia tetap
mengenakan kain ihramnya bersama Rasulullah saw. dan menyembelih hewan
korban bersama beliau setelah menyelesaikan manasik haji. Ketika
Rasulullah saw. sakit, al-Abbas berkata kepadanya, “Tanyalah kepada
Rasulullah saw. , siapakah yang berhak meme-gang kepemimpinan setelah
beliau?” Ali berkata, “Demi Allah aku tidak akan menanyakannya kepada
beliau, sebab apabila beliau melarangnya dari kita maka orang-orang
tidak akan menyerahkannya kepada kita selama-lamanya.”883
Hadits-hadits yang shahih dan jelas
menunjukkan bahwa Rasulullah saw. tidak mewasiatkan jabatan kekhalifahan
kepadanya ataupun kepada selainnya. Bahkan beliau mengisyaratkan dengan
menyebut Abu Bakar. Beliau member isyarat yang dapat dipahami dan
sangat jelas sekali maksudnya. Seperti yang telah kami sebutkan dalam
juz sebelumnya, alhamdulillah884
Adapun kebohongan yang dilontarkan oleh
orang-orang jahil dari kalangan Syi’ah dan tukang cerita yang bodoh
bahwa Rasulullah saw. telah mewasiatkan jabatan kekhalifahan kepada Ali
jelas merupakan sebuah kedustaan dan kebohongan yang sangat besar yang
menjerumuskan mereka ke dalam kesalahan yang sangat besar pula. Seperti
tuduhan para sahabat telah berkhianat dan bersepakat menggagalkan wasiat
Rasulullah saw. dan menahannya dari orang yang telah diberi wasiat.
Lalu menyerahkannya kepada orang lain tanpa alasan dan sebab. Setiap
mukmin yang beriman kepada Allah dan RasulNya, meyakini bahwa Dienul
Islam adalah haq pasti mengetahui batil-nya kedustaan ini. Karena para
sahabat adalah sebaik-baik manusia setelah para nabi. Mereka adalah
generasi terbaik umat ini yang merupakan umat terbaik di dunia maupun di
akhirat berdasarkan nash al-Qur’an serta berda-sarkan ijma’ salaf dan
khalaf, alhamdulillah.
Adapun cerita yang disampaikan oleh
orang-orang awam tukang cerita di pasar-pasar tentang wasiat-wasiat yang
khusus diberikan kepada Ali dalam hal adab (etika), akhlak, adab makan
dan minum, adab berpakaian, seperti cerita mereka, “Wahai Ali, janganlah
pakai imamah (sorban) sambil duduk. Wahai Ali, janganlah pakai celanamu
sambil berdiri. Wahai Ali, janganlah memegang tiang pintu. Dan
janganlah duduk di depan pintu. Janganlah menjahit pakaian yang
sedangeng kau kenakan.” Dan wasiat-wasiat sejenis-nya. Semua itu adalah
cerita kosong yang tidak ada asal-usulnya. Bahkan termasuk dusta, bohong
dan palsu.
Kemudian, ketika Rasulullah saw. wafat,
Ali termasuk salah seorang yang memandikan, mengkafani dan mengebumikan
jenazah Rasulullah saw. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq dibai’at menjadi
khalifah pada hari Saqifah, Ali termasuk salah seorang yang berbai’at di
masjid, seperti yang telah kami jelaskan sebelumnya.885 Abu Bakar
ash-Shiddiq dalam pandangan Ali bin Abi Thalib ra. sama seperti para
umara’ dari kalangan sahabat yang lainnya, beliau berpandangan mentaati
Abu Bakar merupakan kewajibannya dan merupakan perkara yang paling ia
sukai. Ketika Fathimah wafat enam bulan setelah Rasulullah saw. ketika
itu ia kurang puas terhadap beberapa keputusan Abu Bakar disebabkan
warisan yang tidak ia peroleh dari ayahnya. Ia belum mengetahui nash
khusus dalam masalah ini bagi para nabi, yakni mereka tidak mewariskan
harta warisan kepada sanak famili.
Ketika hal itu sampai kepadanya ia
me-minta kepada Abu Bakar agar mengangkat suaminya sebagai pengawas
sedekah (harta warisan) tersebut, akan tetapi Abu Bakar menolaknya. Maka
ia terus memendam ketidakpuasan terhadap Abu Bakar seperti yang telah
kami jelaskan terdahulu. Maka Ali berusaha mengambil hati istrinya.
Setelah Fathimah wafat, Ali memperbaharui kembali bai’atnya kepada Abu
Bakar ash-Shiddiq Ketika Abu Bakar wafat lalu Umar memegang jabatan
khalifah atas dasar wasiat Abu Bakar kepadanya, Ali bin Abi Thalib ra.
termasuk salah seorang sahabat yang membai’at Umar. Ali selalu bersama
Umar dan memberikan masukan positif kepadanya. Disebutkan bahwa Umar
memintanya menjadi qadhi (hakim) pada masa kekhalifahannya. Beliau
menyertai Umar bersama para tokoh dari kalangan sahabat ke negeri Syam
dan menghadiri khutbah Umar di al-Jabiyah.
Ketika Umar ditikam dan beliau
menyerahkan urusan musyarawah kepada enam orang sahabat, salah seorang
di antaranya adalah Ali bin Abi Thalib ra. Lalu mereka menetapkan dua
orang calon, yaitu Utsman dan Ali. Lalu Utsman terpilih menjadi
khalifah. Namun begitu, Ali tetap mendengar dan taat kepada Utsman.
4. KEUTAMAAN ALI BIN ABI THALIB RA.
Imam Ahmad, Ismail al-Qadhi, An-Nasa’i
dan Abu Ali an-Naisaburi berkata, “Belum ada riwayat-riwayat shahih
berkenaan dengan keutamaan sahabat yang lebih banyak daripada riwayat
tentang keutamaan Ali bin Abi Thalib ra. .”886 Al-Hafizh Ibnu Hajar
al-Asqalani berkata, “Sebabnya adalah karena beliau adalah yang
terakhir, yaitu khalifah rasyid yang terakhir. Banyak ter-jadi
perselisihan pada zaman beliau, sebagian orang membangkang terhadap
beliau. Irulah sebabnya riwayat-riwayat tentang keutamaan beliau
tersebar, bersumber dari penjelasan para sahabat sebagai bantahan
terhadap orang-orang yang menyelisihi beliau. Oleh karena itu Ahlus
Sunnah wal Jama’ah memandang penting untuk menyebarkan riwayat-riwayat
tentang keutamaan beliau. Sehingga banyaklah para perawi yang
menukilnya. Karena pada hakikatnya seluruh khalifah rasyid yang empat
masing-masing memiliki banyak keutamaan-keutamaan.
Dan apabila ditimbang dengan mizan yang adil pasti tidak akan keluar dari perkataan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.”887
Ibnu Katsir berkata,888 “Di antara
keutamaannya, beliau merupakan salah satu dari sepuluh orang sahabat
yang dijamin masuk sorga yang paling dekat hubungan nasabnya kepada
Rasulullah saw. ” Di antara keutamaannya, khutbah Rasulullah saw. pada
hari kedelapan belas Dzulhijjah pada haji wada1 di tempat yang bernama
Ghadir Khum, dalam khutbahnya beliau berkata, ” Barangsiapa yang menjadikan aku sebagai walinya maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya. “889
Dalam sebagian riwayat disebutkan: “Ya Allah
belalah siapa saja yang membelanya (yakni Ali), musuhilah siapa saja
yang memusuhinya dan hinakanlah siapa saja yang menghinakannya.“
Namun yang shahih adalah yang pertama.
Ali termasuk salah seorang sahabat yang ikut serta dalam peperangan
Badar. Rasulullah saw. telah berkata kepada Umar, “Tahukah kamu, sesungguhnya Allah telah mengetahui apa yang akan dilakukan oleh para peserta perang Badar. Allah mengatakan, ‘Lakukanlah sesukamu sesungguhnya Aku telah mengampuni kamu’.”890 Ali juga ikut serta dalam Bai’atur Ridhwan. Allah telah berfirman, “Sesunggidinya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon.” (Al-Fath: 18).
Rasulullah saw. bersabda, “Tidak akan masuk neraka orang-orang yang ikut dalam bai’at di bawah sebuah pohon (yakni Bai ‘at Ridhwan). “891
Berikut ini akan kami cantumkan keutamaan-keutamaan Ali bin Abi Thalib ra. yang lainnya yang kami ambil dari kitab Shahihain, berdasarkan metodologi yang kami pakai dalam menyebutkan keutamaan khalifah-khalifah sebelumnya . Imam al-Bukhari berkata dalam Shahihnya892, Bab: Keutamaan Ali bin Abi Thalib al-Qurasyi al-Hasyimi Abul Hasan . Rasulullah saw. bersabda,
“Engkau bagian dariku dan aku adalah
bagian darimu.”893 Umar berkata, “Rasulullah saw. wafat dalam keadaan
beliau meridhainya.”894
5. Ali Termasuk Orang yang Mencintai Allah dan RasulNya
Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ady bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah, niscaya akan kuserahkan bendera ini esok hari kepada seseorang yang mencintai Allah serta RasidNya dan dia dicintai Allah serta RasidNya. Semoga Allah memberikan kemenangan melalui tangannya.” Maka
semalam suntuk orangorang membicarakan siapakah di antara mereka yang
akan diserahi bendera itu. Keesokan harinya mereka mendatangi Rasulullah
saw. masing-masing berharap dialah yang diserahi bendera itu. Lalu
Rasulullah saw. bersabda, “Di manakah Ali bin Abi Thalib ra.?” Dijawab, “Dia sedang sakit pada kedua matanya.” Rasulullah saw. bersabda, “Panggil dan bawa dia kemari.” Dan
dibawalah Ali kehadapan Rasulullah saw. . Rasulullah saw. lalu meludah
pada kedua belah matanya seraya berdoa untuknya. Seketika saja dia
sembuh seakan-akan tidak pernah terkena penyakit. Kemudian Rasulullah
saw. menyerahkan bendera itu kepadanya. Ali berkata, “Wahai Rasulullah
saw., aku memerangi mereka hingga mereka menjadi seperti kita.”
Rasulullah saw. bersabda, “Majulah ke depan dengan tenang! Sampai kami tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Allah yang wajib mereka tunaikan. Demi Allah, sekiranya Allah memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah.”895
6. Kelembutan Rasulullah saw. Kepada Ali ra. dan Pemberian Kuniyah untuknya
Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad ia
berkata, “Ali menemui Fathimah kemudian keluar lalu berbaring di masjid.
Rasulullah saw. bertanya, “Dimanakali putera pamanmu itu?” Fathimah menjawab, “Di masjid.”
Maka Rasulullah saw. keluar menemuinya dan mendapati selendangnya
terjatuh dari pungungnya sehingga tanah mengotori punggungnya.
Rasulullah saw. menghapus tanah tersebut dari punggungnya seraya
berkata, “Duduklah wahai Abu Turab.” Beliau mengucapkannya dua kali.896
7. Keterangan Abdullah bin Umar Tentang Keutamaan Ali bin Abi Thalib ra.
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Ubaidah, ia
berkata, “Seorang lelaki datang menemui Abdullah bin Umar dan bertanya
kepadanya tentang Utsman. Ibnu Umar menyebutkan kebaikan-kebaikan
Utsman. Beliau berkata, ‘Barangkali kamu tidak menyukainya?’ ‘Benar!’
Sahutnya. ‘Semoga Allah menghinakanmu.’ Kemudian ia bertanya tentang
Ali. Ibnu Umar menyebutkan kebaikankebaikannya. Beliau berkata,
‘Begitulah keutamaannya, rumahnya berada di tengah-tengah rumah-rumah
Rasulullah saw.’ Kemudian beliau berkata, ‘Barangkali kamu tidak
menyukainya.’ ‘Benar!’ sahutnya. Abdullah bin Umar pun berkata, ‘Semoga
Allah menghinakanmu, menjauhlah kamu dariku sejauh-jauhnya1.”
8.Kedudukan Ali di sisi Rasulullah saw. dan Apa yang Telah Rasulullah saw. Pilihkan Buat Beliau.
Diriwayatkan dari al-Hakam, ia berkata,
“Aku mendengar Ibnu Abi Laila berkata, Ali bin Abi Thalib ra. ia
bercerita kepada kami, ‘Fathimah datang menemui Rasulullah saw. untuk
meminta pem-bantu (khadim) namun ia tidak bertemu dengan beliau. Ia
bertemu dengan ‘Aisyah ra. dan mengabarkan maksud kedatangannya. Ali bin
Abi Thalib ra. menuturkan, ‘Rasulullah saw. datang menemui kami ketika
kami telah berada di pembaringan. Aku ingin bangkit menyambut beliau,
namun beliau berkata, ‘Tetaplah ditempat kalian,’ beliau duduk di antara
kami hingga aku merasakan dinginnya kedua telapak kaki beliau di
dadaku. Beliau berkata, ‘Maukah kalian aku ajari sesuatu yang lebih baik daripada yang kalian minta? Apabila kalian mendatangi pembaringan kalian ucapkanlah Allahu akbar sebanyak 34 kali, subhanallah sebanyak 33 kali dan alhamdulillah sebanyak 33 kali. Sesunggidinya itu lebih baik bagi kalian daripada seorang khadim’.”
Diriwayatkan dari Sa’ad bin Ibrahim bin
Abdurrahman bin ‘Auf ia berkata, Aku mendengar Ibrahim bin Sa’ad bin Abi
Waqqash meriwayatkan dari ayahnya, dari Rasulullah saw. bahwa beliau
berkata kepada Ali, “Apakah engkau tidak ridha kedudukanmu di sisiku seperti kedudukan Harun disisi Musa?”897
9.Ali bin Abi Thalib ra. Membenci Perselisihan.
Diriwayatkan dari Abidah bin Amru
as-Salmani dari Ali bin Abi Thalib ra., ia berkata, “Putuskanlah hukum
seperti kalian memutuskannya dahulu. Sesungguhnya aku membenci
perselisihan. Upayakanlah agar kaum muslimin satu jama’ah, atau aku mati
sebagaimana sahabat-sahabatku mati.” Ibnu Sirin menyimpulkan bahwa
hampir seluruh riwayat yang dinukil dariAli adalah dusta.898
10 Wasiat Supaya Berpegang Teguh dengan Kitabullah dan Memelihara Hak Ahli Bait.
Imam Muslim berkata, “Zuhair bin Harb dan
Syuja’ bin Makhlad telah menceritakan kepada kami dari Ibnu Ulayyah,
Zuhair berkata, Ismail bin Ibrahim telah menceritakan kepada kami, ia
berkata, Abu Hayyan telah menceritakan kepada kami, ia berkata, Yazid
bin Hayyan telah bercerita kepada kami, ‘Aku bersama Hushain bin Sabrah
dan Umar bin Muslim berangkat menemui Zaid bin Arqam. Ketika kami duduk
bersamanya. Hushain berkata kepadanya, ‘Engkau telah memperoleh kebaikan
yang sangat banyak wahai Zaid! Engkau telah melihat Rasulullah saw.
engkau telah mendengar hadits-hadits beliau, berperang bersama beliau
dan shalat di belakang beliau. Engkau telah memperoleh kebaikan yang
sangat banyak wahai Zaid. Maka dari iru sampaikanlah kepada kami
hadits-hadits yang engkau dengar dari Rasulullah saw.’ Zaid pun berkata,
‘Wahai saudaraku, demi Allah usiaku telah lanjut, ajalku sudah dekat
dan aku sudah lupa sebagian yang dahulu aku hafal dari Rasulullah saw.
Terimalah hadits yang aku sampaikan ini kepada kalian. Dan apa-apa yang
tidak aku sampaikan maka janganlah kalian bebani aku dengannya.’
Kemudian Zaid berkata, ‘Pada suatu hari Rasulullah saw. menyampaikan
khutbah di sebuah mata air bernama Khum899 yang terletak antara Makkah
dan Madinah. Setelah memanjatkan puja dan puji kepada Allah, memberi
peringatan dan nasehat beliau berkata, ‘Amma ba’du, ketahuilah wahai sekalian manusia, sesungguhnya aku hanyalah seorang manusia, hampir tiba masanya kedatangan seorang utusan Rabbku dan aku akan menyambut panggilannya. Sungguh, aku telah tinggalkan padamu dua perkara, pertama Kitabullah, di dalamnya terdapat petunjuk dan cahaya. Ambillah pedoman dari Kitabullah dan pegang teguhlah ia. Beliau memerintahkan untuk berpegang teguh kepada Kitabullah dan mencintainya, kemudian beliau bersabda, ‘ Dan aku peringatkan kepada Allah agar kalian menjaga ahli baitku’ Beliau ulangi sebanyak tiga kali.’
Al-Husain berkata kepadanya, ‘Siapakah
ahli bait nabi wahai Zaid? Bukankah istri beliau termasuk ahli bait?’
Zaid berkata, ‘Istri beliau termasuk. Ahli bait, dan juga termasuk ahli
bait adalah karib kerabat beliau yang diharamkan menerima zakat’
‘Siapakah mereka?’ Tanya al-Husain lagi. Zaid menjawab, ‘Keluarga Ali,
keluarga Aqil, keluarga Ja’far dan keluarga Abbas. ‘Apakah mereka
diharamkan menerima zakat?’ Tanya al-Husain lagi. ‘Benar!’ jawab
Zaid.”900
Diriwayatkan dari Zirr bin Hubaisy dari
Ali bin Abi Thalib ra. ia ber-kata, “Demi Allah yang menumbuhkan
biji-bijian dan menciptakan jiwa, ini merupakan pesan nabi yang ummi kepadaku
bahwasanya tidaklah sese-orang mencintaiku melainkan ia seorang mukmin
dan tidaklah membenciku melainkan ia seorang munafik.”901
11. ISTRI-ISTRI BELIAU DAN PUTERA-PUTERI BELIAU
Istri pertama yang dinikahi Ali adalah
Fathimah binti Rasulullah saw. Ia berkumpul dengannya setelah pulang
dari peperangan Badar. Beliau mem-peroleh dua orang putera, al-Hasan dan
al-Husain. Ada yang mengatakan putera ketiga beliau bernama Muhasin,
namun meninggal dunia saat masih bayi. Beliau memperoleh dua orang
puteri, yaitu Zainab al-Kubra dan Ummu Kaltsum al-Kubra yang kemudian
dinikahi oleh Umar bin al-Khaththab . Ali tidak menikahi wanita lain di
samping Fathimah hingga ia wafat enam bulan setelah wafatnya Rasulullah
saw. Setelah Fathimah wafat, Ali menikahi beberapa wanita, di antara
istri-istrinya ada yang wafat pada saat beliau masih hidup, ada yang
beliau ceraikan dan ketika wafat beliau meninggalkan empat istri.
12. Di antara istri-istri beliau.902
Ummul Banin binti Hizam. Hizam adalah
Abul Muhill bin Khalid bin Rabi’ah bin al-Wahid bin Ka’ab bin Amir bin
Kilab. Dari Ummul Banin beliau memperoleh empat orang putera, al-Abbas,
Ja’far, Abdullah dan Utsman. Mereka semua terbunuh bersama saudara
mereka, yakni al-Husein, di padang Karbala. Tidak ada generasi penerus
keturunan ini kecuali al-Abbas. * Laila binti Mas’ud bin Khalid bin
Malik dari Bani Tamim. Dari Laila beliau memperoleh dua orang putera,
Ubaidullah dan Abu Bakar. Hisyam bin al-Kalbi berkata, “Keduanya juga
terbunuh di padang Karbala. Menurut al-Waqidi, Ubaidullah dibunuh oleh
Mukhtar bin Abi Ubaid pada pepe-rangan al-Madzar. * Asma’ binti ‘Umais al-Khats’amiyyah, darinya beliau memperoleh dua orang putera: Yahya dan Muhammad al-Ashghar. Demikian dikatakan oleh Ibnul Kalbi.
Al-Waqidi mengatakan, “Beliau memperoleh dua orang putera darinya, Yahya dan ‘Aun, adapun Muhammad al-Ashghar berasal dari ummul walad (budak wanita).” * Ummu Habib903 binti Rabi’ah
bin Bujair bin al-Abdi bin ‘Alqamah, ia adalah ummu walad (budak
wanita) dari tawanan yang ditawan oleh Khalid bin Walid dari Bani
Taghlib ketika ia menyerbu wilayah ‘Ainut Tamr. Darinya beliau
memperoleh seorang putera bernama Umar -yang diberi umur panjang 85
tahun- dan seorang puteri bernama Ruqayyah.
* Ummu Sa’id binti Urwah bin Mas’ud bin Mu’attib bin Malik ats- Tsaqafi, darinya beliau memperoleh dua orang puteri, Ummul Hasan dan Ramlah al-Kubra.
* Binti Umru’ul Qais bin Ady bin Aus bin Jabir bin Ka’ab bin Ulaim bin
Kalb al-Kalbiyah. Darinya beliau
memperoleh seorang puteri. Suatu ketika Ali membawanya saat ia masih
kecil ke masjid, ditanyakan kepadanya, “Siapakah bibimu?” Ia menjawab,
“Hugh, hugh!” Maksudnya Bani Kalb.
* Umamah binti Abil Ash bin ar-Rabi’
bin Abdil Uzza bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay, ibunya adalah
Zainab binti Rasulullah saw. S§|, dialah yang digendong oleh Rasulullah
saw. W-, dalam shalat, saat bangkit beliau menggendongnya dan
saat sujud beliau meletakkannya. Darinya Ali memperoleh seorang putera
bernama Muhammad al-Ausath.
* Khaulah binti Ja’far bin Qais
bin Maslamah bin Ubaid bin Tsa’lab bin Yarbu’ bin Tsa’labah. Ia ditawan
oleh Khalid bin Walid pada masa kekha-lifahan Abu Bakar ash-Shiddiq
pada peperangan melawan kaum murtad. Ia berasal dari Bani Hanifah.
Kemudian ia diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib ra. Dari Khaulah ini
Ali memperoleh seorang putera bernama Muhammad al-Akbar (lebih dikenal
dengan sebutan Muhammad bin al-Hanafiyah). Di antara kaum Syi’ah ada
yang menganggap beliau sebagai imam yang ma’-shum. Ia memang termasuk tokoh kaum muslimin, namun bukanlah ma’s/zum, ayahnya juga tidak ma’shum bahkan orang yang lebih utama dari ayahnya, yaitu Khulafa’ur Rasyidin sebelum beliau, juga tidak ma’shum, wallahu a’lam.
Ali bin Abi Thalib ra. memiliki banyak
anak keturunan lainnya dari sejumlah ummu walad (budak wanita). Saat
wafat beliau meninggalkan empat istri dan sembilan belas budak wanita.
Di antara putera puteri beliau yang tidak diketahui nama ibunya adalah:
Ummu Hani’, Maimunah, Zainab ash-Shughra, Ramlah ash-Shughra, Ummu
Kaltsum ash-Shughra, Fathimah, Umamah, Khadijah, Ummul Kiram, Ummu
Ja’far, Ummu Salamah, Jumanah dan Nafisah. Ibnu Jarir berkata, “Jumlah
keseluruhan anak kandung beliau adalah empat belas orang putera dan
tujuh belas orang puteri.”904
Al-Waqidi berkata, “Generasi penerus Ali
ada lima; al-Hasan, al-Husain, Muhammad bin al-Hanafiyah, al-Abbas
al-Kilabiyah dan Umar bin at-Taghlibiyah.”
905
13 RIWAYAT HIDUP, NASIHAT-NASIHAT, KHUTBAH KHUTBAH DAN WASIAT-WASIAT ALI BIN ABI THALIB RA.
Abdul Warits906 meriwayatkan dari Abu
Amru bin al-Ala1 dari ayahnya, ia berkata, “Ali berkata dalam
khutbahnya, ‘Wahai sekalian manusia, demi Allah yang tiada ilah yang
berhak disembah selain Dia. Aku tidaklah mengambil harta kalian sedikit
maupun banyak kecuali ini.’ Kemudian beliau mengeluarkan botol kecil
berisi parfum dari saku bajunya lalu beliau berkata, ‘Ad-Dihqaan
menghadiahkan ini untukku.’
Diriwayatkan dari Abdullah bin Zurair
al-Ghafiqi, ia berkata, “Kami datang menemui Ali pada hari ‘Iedul Adha.
Lalu beliau menghidangkan khazirah907 kepada kami.
Kami berkata, ‘Semoga Allah memperbaiki kea-daanmu, alangkah baik bila
engkau hidangkan kepada kami bebek dan angsa ini. Karena Allah telah
menurunkan kebaikan yang sangat banyak.1 Ali berkata, ‘Wahai Ibnu
Zurair, sesungguhnya aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ” Tidak halal bagi khalifah mengambil bagian dari harta Allah (maksudnya harta baitul mal) kecuali dua piring saja. Satu piring untuk ia makan bersama keluarganya dan satu piring lagi untuk ia berikan kepada orang lain. “908
Abu Ubaid909 berkata,”Abad bin Awam telah
menceritakan kepada kami dari Harun bin ‘Antarah dari ayahnya, ia
berkata, ‘Aku datang menemui Ali bin Abi Thalib ra. di al-Khurnaq,
beliau mengenakan selimut beludru sambil gemetar menahan dingin. Aku
berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin, sesung-guhnya Allah telah memberikan
bagian untukmu dan keluargamu dari harta ini (baitul mal), mengapa anda
memilih selimut tipis ini untuk dirimu?’ Ali berkata, ‘Demi Allah,
sesungguhnya aku tidak akan mengambil harta kalian sedikitpun. Selimut
inilah yang kubawa dari rumahku -atau beliau mengata-kan, dari
Madinah-.”
Ya’qub bin Sufyan910 berkata, “Abu Bakar
al-Humaidi telah menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Sufyan telah
menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Abu Hayyan telah
menyampaikannya kepada kami, ia berkata, Dari Mujami’ bin Sam’an
at-Taimi, ia berkata, ‘Ali keluar dari rumahnya ke pasar dengan membawa
pedangnya. Beliau berkata, ‘Siapakah yang mau membeli pedangku ini?
Sekiranya aku punya uang empat dirham untuk membeli sarung niscaya aku
tidak akan menjualnya’.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abad bin
Awam dari Hilal bin Khabab dari Maula Abu ‘Ushaifir, ia berkata, “Aku
melihat Ali bin Abi Thalib ra. Keluar menemui seorang lelaki penjual
kain kasar. Ali berkata kepadanya, ‘Apakah engkau menjual gamis sunbulaniT Lelaki
itu mengeluarkan sepotong gamis lalu Ali pun mengenakannya, ternyata
panjang gamis itu sampai ke tengah betisnya. Beliau melihat ke kanan dan
ke kiri lalu berkata, ‘Aku lihat ukurannya sudah cocok, berapa
harganya?’ Lelaki itu berkata, ‘Empat dirham wahai Amirul Mukminin!’
Beliaupun mengeluarkan uang dari sarungnya dan menyerahkannya kepadanya
kemu-dian beliau pergi1.”911
Muhammad bin Sa’ad912 berkata, “Al-Fadhl
bin Dukkain telah menceritkan kepada kami, ia berkata, al-Hur bin Jurmur
telah menceritakan kepada kami bahwa ayahnya berkata, ‘Aku melihat Ali
keluar dari rumahnya dengan mengenakan dua helai kain Qithriyah913,
yaitu sarung sampai ke tengah betis dan selendang yang dilipat, beliau
menuntun untanya di pasar sembari menganjurkan manusia agar bertakwa
kepada Allah dan berjual beli dengan cara yang baik. Beliau berkata,
‘Sempurnakanlah takaran dan tim-bangan’.”
Amru bin Syimr914 meriwayatkan dari Jabir
al-Ju’fi dari Asy-Sya’bi, ia berkata, “Ali bin Abi Thalib ra. menemukan
baju perangnya di tangan seorang lelaki Nasrani. Ali mengadukan lelaki
itu kepada Syuraih. la mendatangi Syuraih lalu berkata, ‘Hai Syuraih,
kalaulah lawanku itu seorang muslim niscaya aku akan duduk bersamanya.
Akan tetapi ia adalah seorang Nasrani, Rasulullah saw. Telah bersabda, ‘Jika kalian berpapasan dengan mereka di tengah jalan maka desaklah mereka ke pinggir jalan dan rendahkanlah mereka seperti Allah telah merendahkan mereka tanpa bersikap melampaui batas.’
Kemudian Ali berkata, ‘Baju perang ini
adalah milikku, aku tidak pernah menjual dan tidak pernah pula
menghadiahkannya.’ Syuraih berkata kepada lelaki Nasrani itu, ‘Bagaimana
tanggapanmu terhadap tuduhan Amirul Muk-minin tadi?’ Lelaki Nasrani itu
berkata, ‘Baju perang ini adalah milikku. Dan dalam pandanganku Amirul
Mukminin bukanlah seorang pendusta.’ Syuraih menoleh kepada Ali dan
berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin; adakah bukti-bukti atas tuduhanmu?’ Ali
tertawa sembari berkata, ‘Syuraih benar, aku tidak punya bukti.’
Syuraih memutuskan baju perang itu adalah milik lelaki Nasrani. Lalu
lelaki Nasrani itu mengambilnya, ia berjalan beberapa langkah kemudian
kembali dan berkata, ‘Aku bersaksi bahwa ini adalah hukum para nabi,
Amirul Mukminin mengajukan diriku ke majelis hakim dan majelis hakim
memutuskan hukum atas dirinya. Aku bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusanNya. Demi Allah, baju perang ini adalah milikmu wahai Amirul Mukminin, aku mengikuti pasukan ketika engkau berangkat ke peperangan Shiffin dengan mengendarai untamu yang berwarna abu-abu.’ Ali berkata, ‘Karena engkau sudah masuk Islam maka ambillah baju perang itu.’ Maka lelaki itupun membawanya dengan kudanya.”
Asy-Sya’bi berkata, “Orang-orang yang
melihatnya menceritakan kepadaku bahwa ia ikut berperang bersama Ali
melawan kaum Khawarij pada peperangan Nahrawan.” Sa’id bin Ubaid915
meriwayatkan dari Ali bin Rabi’ah, ia berkata, “Ja’dah bin
Hubairah datang menemui Ali dan berkata,
‘Wahai Amirul Mukminin, tadi datang dua orang lelaki kepadamu, yang
pertama mencintaimu lebih daripada cintanya kepada keluarga dan
hartanya. Sedang yang kedua, kalaulah ia sanggup menyembelihmu niscaya
ia akan menyembelihmu. Lalu mengapa engkau putuskan memenangkan hukum
untuk lelaki yang kedua atas lelaki yang pertama?!’ Ali menegurnya
sembari berkata, ‘Kalaulah sekiranya hukum ini milikku tentu akan aku
menangkan lelaki yang pertama. Namun hukum ini adalah milik Allah
semata.’
Abul Qasim al-Baghawi916 berkata,
“Kakekku menceritakan kepadaku, ia berkata, Ali bin Hasyim telah
bercerita kepadanya dari Shalih, penjual goni bahwa neneknya berkata,
‘Aku pernah melihat Ali membeli kurma seharga satu dirham. Lalu ia bawa
dengan kain selimutnya. Seorang lelaki berkata, ‘Wahai Amirul Mukminin,
biar aku saja yang memikulnya untukmu.’ Ali berkata, ‘Kepala keluarga
lebih berhak untuk memikulnya’.”
Yahya bin Ma’in917 meriwayatkan dari Ali
bin al-Ja’d dari al-Hasan bin Shalih, ia berkata, “Orang-orang sedang
membicarakan tentang para zuhad (orang-orang zuhud) di hadapan
Umar bin Abdil Aziz. Salah seorang berkata, ‘Si Fulan.’ Yang lain
berkata, ‘Si Fulan.’ Lalu Umar bin Abdul Aziz angkat bicara, ‘Orang yang
paling zuhud di atas dunia adalah Ali bin Abi Thalib ra.
14. Petikan Kata-kata Mutiara Ali bin Abi Thalib ra.
Ibnu Abid Duniya918 meriwayatkan bahwa
Ali bin al-Ja’d meriwayatkan kepada kami, ia berkata, “Amru bin Syimr
menceritakan kepada kami, ia berkata, Ismail as-Suddi berkata, Aku
mendengar Abu Arakah berkata, ‘Aku pernah mengerjakan shalat fajar
bersama Ali bin Abi Thalib ra. . Setelah ber-geser ke kanan beliau duduk
sejenak seolah beliau sedang berduka. Ketika matahari meninggi di atas
dinding masjid sejauh satu tombak beliau bangkit dan mengerjakan shalat
dua rakaat. Kemudian beliau membalikkan tangan lalu berkata, ‘Demi Allah
aku telah melihat sahabat Muhammad , namun sekarang aku tidak melihat
seorangpun yang menyerupai mereka. Mereka mengerjakan shalat fajar
dengan wajah coklat, rambut acak-acakan dan berdebu, di antara kedua
mata mereka terdapat bekas kapalan (kulit yang mengeras) karena mereka
melalui malam dengan sujud dan berdiri karena Allah. Mereka membaca
Kitabullah, berdiri silih berganti antara dahi dan telapak kaki mereka.
Pagi harinya mereka berdzikir mengingat Allah, mereka bergoyang seperti
goyangnya pepohonan pada hari angin kencang. Air mata mereka berlinang
hingga pakaian mereka basah.
Demi Allah, seolah-olah orang sekarang
melewati malam dalam keadaan lalai.’ Kemudian beliau bangkit dan tidak
pernah terlihat beliau berhenti ibadah dan tertawa hingga musuh Allah,
al-Fasiq Ibnu Muljam, membunuh beliau.” Waki’919 meriwayatkan dari Amru
bin Munabbih dari Aufa bin Dalham dari Ali bin Abi Thalib ra. 4#b bahwa
beliau berkata, “Tuntutlah ilmu niscaya kamu akan dikenal karenanya.
Amalkanlah ilmu niscaya kamu akan menjadi ahlinya.
Sebab akan datang satu zaman suatu saat
nanti yang mana sembilan puluh persen dari kebenaran akan diingkari.
Tidak akan selamat darinya kecuali setiap nuwamah920 yang memberantas penyakit. Merekalah imam di atas hidayah dan lentera ilmu, bukan orang yang sembrono dan madzayi’ budzur.”921
Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya
dunia telah pergi berlalu dan akhirat akan datang menyongsong.
Masing-masing memiliki anak. Jadilah kamu anak akhirat dan janganlah
menjadi anak dunia. Ketahuilah, sesungguhnya orang zuhud di dunia adalah
yang menjadikan bumi sebagai tikarnya, tanah sebagai pembaringannya,
air sebagai wewangiannya. Ketahuilah, barangsiapa rindu kepada akhirat
maka ia akan menahan diri dari syahwat. Barangsiapa takut kepada api
neraka maka ia akan meninggalkan perkara haram. Barangsiapa mengejar
surga maka ia akan segera berbuat taat. Barangsiapa zuhud di dunia maka
akan. terasa ringan musibah baginya. Ketahuilah, sesungguhnya
Allah memiliki hambahamba yang seakan-akan mereka melihat penduduk surga
kekal di dalam surge dan melihat penduduk neraka diadzab di dalam-nya.
Keburukan mereka dapat diamankan, hati
mereka senantiasa bersedih, diri mereka selalu terpelihara kesuciannya,
kebutuhan mereka sedikit, mereka sabar melalui hari-hari yang tinggal
sedikit dan pergi untuk memperoleh ketenangan abadi di akhirat. Pada
malam hari mereka merapatkan kaki-kaki mereka dalam barisan shalat, air
mata mereka mengalir di pipi mereka, mereka merintih memohon kepada Rabb
mereka seraya berkata, ‘Ya Rabbi, ya Rabbi!’
Mereka meminta pembebasan diri mereka
(dari api neraka). Siang hari mereka adalah ulama yang santun, orang
baik lagi bertakwa. Seolah-olah mereka tonggak yang dilihat oleh
orang-orang sembari berkata, ‘Orang sakit!’ Padahal mereka bukanlah
orang yang sakit’.”
Waki’922 meriwayatkan dari Amru bin
Munabbih dari Aufa bin Dal-ham, ia berkata, “Pada suatu hari Ali
berkhutbah, ia berkata dalam khutbahnya, ‘Amma ba’du, sesungguhnya
dunia akan segera pergi dan mengucapkan selamat tinggal. Dan
sesungguhnya akhirat akan segera tiba dan mengucapkan selamat datang.
Sesungguhnya start pada hari ini dan finish pada esok hari. Ketahuilah,
sesungguhnya kalian hidup pada masa-masa penuh harapan, di hadapannya
telah menunggu ajal. Barangsiapa menyia-nyiakan masa harapannya sebelum
ajal tiba berarti sia-sialah amalnya. Beramallah hanya karena Allah pada
saat senang sebagaimana kamu beramal pada saat takut. Ketahuilah, belum
pernah aku melihat seperti surga, orang-orang yang ingin mengejarnya
malah terlelap.
Dan belum pernah aku melihat seperti
neraka, orang-orang yang ingin lari darinya malah terlena. Ketahuilah,
sesungguhnya kalian telah diperintahkan untuk berangkat dan telah
ditunjukkan perbekalan kepadamu. Ketahuilah wahai hadirin sekalian,
sesungguhnya dunia adalah materi yang telah tersedia, yang dapat
dinikmati oleh orang baik dan orang jahat. Dan sesungguhnya akhirat
adalah janji yang benar. Raja Yang Mahakuasa akan menjatuhkan hukumNya.
Ketahuilah, sesungguhnya setan menakut-nakuti kamu dengan kemiskinan dan
menyuruh kamu berbuat jahat, sedang Allah menjanjikan untukmu ampunan
dan karunia.
Dan Allah Maha luas karuniaNya dan Maha
Mengetahui. Wahai sekalian manusia, berbuat baiklah sepanjang usiamu dan
jagalah masa depanmu. Karena Allah telah menjanjikan surga bagi yang
mentaatiNya dan mengancam dengan neraka terhadap orang yang
mendurhakaiNya. Neraka yang tidak pernah tenang gejolaknya, tidak akan
bisa lari tawanannya dan tidak akan dapat diperbaiki siapa saja yang
hancur di dalamnya. Panasnya sangat tinggi, lubang-nya sangat dalam dan
airnya adalah nanah. Sesungguhnya perkara yang sangat aku takutkan atas
kamu adalah mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan.”
Dalam riwayat lain disebutkan,
“Sesungguhnya mengikuti hawa nafsu dapat menghalanginya dari kebenaran
dan panjang angan-angan dapat mem-buatnya lupa akhirat.”
15. Nash Wasiat Ali bin Abi Thalib ra. -
“Dengan menyebut nama Allah Yang Maha
Pengasih lagi Maha Penya-yang, ini adalah wasiat Ali bin Abi Thalib ra.,
bahwasanya dia bersaksi tiada ilah yang berhak disembah selain Allah
semata tiada sekutu bagiNya. Dan bahwasanya Muhammad adalah hamba dan
utusanNya. Yang telah mengutusnya dengan membawa hidayah dan dien yang
haq agar mengatasi segala agama walaupun orang-orang musyrikin benci.
Kemudian setelah itu, sesungguhnya shalatku, ibadahku (yakni
penyembelihan korban), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Rabb
semesta alam, tiada sekutu bagiNya, demikian itulah yang diperintahkan
kepadaku dan aku termasuk seorang muslim.
Aku wasiatkan kepadamu hai Hasan, juga
kepada seluruh putera-puteri, istri-istriku dan siapa saja yang sampai
kepadanya wasiatku ini agar bertakwa kepada Allah dan janganlah
sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. Berpegang
teguhlah kalian seluruhnya dengan tali Allah dan janganlah berpecah
belah, sesungguhnya aku mendengar Abul Qasim s|i bersabda, “Sesungguhnya mendamaikan dua pihak yang berselisih lebih utama daripada banyak ibadah shalat dan puasa.“
Perhatikanlah hak-hak karib kerabatmu,
sambunglah tali silaturahim dengan mereka niscaya Allah akan meringankan
hisabmu. Jagalah hak-hak anak yatim! Jangan sampai mulut mereka tidak
berisi makanan923 (jangan sampai mereka kelaparan). Janganlah mereka
terlantar di hadapan kalian. Peliharalah hak-hak tetanggamu,
sesungguhnya nabi kalian telah berwasiat agar berbuat baik kepada
tetangga. Beliau senantiasa mewasiatkannya se-hingga kami mengira beliau
akan memberi hak waris bagi tetangga. Jagalah hak-hak al-Qur’an,
janganlah kalian didahului orang lain dalam mengamal-kannya. Jagalah
ibadah shalat, karena shalat adalah tiang agama kalian. Jagalah hak-hak
rumah Rabb kalian (masjid), janganlah sampai kosong selama kalian masih
hidup. Sesungguhnya apabila kalian meninggalkannya niscaya kalian tidak
akan dihiraukan. Peliharalah ibadah bulan Ramadhan. Karena berpuasa pada
bulan Ramadhan adalah perisai dari api neraka. Peliharalah jihad fi sabilillah dengan harta dan jiwa raga kalian. Jagalah pembayaran zakat, karena zakat dapat memadamkan kemarahan Ar-Rabb. Jagalah
hak-hak orang yang dilindungi oleh nabi kalian, janganlah mereka
dizhalimi dihadapan kalian. Jagalah hak-hak sahabat nabi kalian,
sesungguhnya Rasulullah saw. telah mewasiatkan agar menjaga hak-hak
mereka. Jagalah hak-hak kaum faqir miskin, berilah mereka dari sebagian
rezeki kalian. Jagalah hak-hak budak yang kalian miliki, karena itulah
pesan terakhir yang disampaikan oleh Rasulullah saw. beliau bersabda, “Aku mewasiatkan agar kalian memperhatikan dua manusia yang letnah, yakni wanita dan budak-budak yang kalian miliki.“
Jagalah ibadah shalat, jagalah ibadah
shalat, janganlah kalian takut terhadap celaan orang-orang yang suka
mencela dalam menegakkan agama Allah niscaya kalian akan terhindar dari
kejahatan orang-orang yang bermak-sud jahat kepadamu dan ingin berlaku
semena-mena terhadapmu. Berkatalah kepada manusia dengan perkataan yang
baik seperti yang telah Allah perin-tahkan kepadamu. Janganlah kalian
tinggalkan amar ma’ruf nahi mungkar, jika tidak maka orang-orang yang
jahat akan berkuasa atas kalian sehingga doa kalian tidak dikabulkan.
Hendaklah kalian saling menyambung ikatan dan saling memberi, dan
hindarilah saling membelakangi, saling memutus hubungan dan berpecah
belah. Bertolongtolonganlah kamu dalam kebaikan dan ketakwaan, janganlah
bertolong-tolongan dalam perbuatan dosa dan pelanggaran. Bertakwalah
kepada Allah sesungguhnya Allah Mahakeras siksaNya. Semoga Allah menjaga
kalian dari dan semoga Allah menjaga nabi kalian di tengah-tengah
kalian, aku ucapkan selamat berpisah wassalamu ‘alaikum iva rahmatullah.”924
16 PERISTIWA TERBUNUHNYA AMIRUL MUKMININ ALI BIN ABI THALIB RA.
Amirul Mukminin menghadapi masalah yang
berat, kondisi negara saat itu tidak stabil, pasukan beliau di Iraq dan
di daerah lainnya membang-kang perintah beliau, mereka menarik diri dari
pasukan. Kondisi di wilayah Syam juga semakin memburuk. Penduduk Syam
tercerai berai ke utara dan selatan. Setelah peristiwa tahkim penduduk
Syam menyebut Mu’awiyah sebagai amir. Seiring bertambahnya kekuatan
penduduk Syam semakin lemah pula kedudukan penduduk Iraq. Padahal amir
mereka adalah Ali bin Abi Thalib ra. sebaik-baik manusia di atas muka
bumi pada zaman itu, beliau yang paling taat, paling zuhud, paling alim
dan paling takut kepada Allah. Namun walaupun demikian, mereka
meninggalkannya dan membiarkannya seorang diri. Padahal Ali telah
memberikan hadiah-hadiah yang melimpah dan harta-harta yang banyak.
Begitulah perlakuan mereka terhadap beliau, hing-ga beliau tidak ingin
hidup lebih lama dan mengharapkan kematian.
Karena banyaknya fitnah dan merebaknya
pertumpahan darah. Beliau sering berkata, ” Apakah gerangan yang menahan
peristiwa yang dinanti-nanti itu? Mengapa ia belum juga terbunuh?”
Kemudian beliau berkata, “Demi Allah, aku akan mewarnai ini sembari
menunjuk jenggot beliau- dari sini!” -sembari menunjuk kepala
beliau-.925
17. Kronologis Terbunuhnya Ali ra.
Ibnu Jarir dan pakar-pakar sejarah
lainnya926 menyebutkan bahwa tiga orang Khawarij berkumpul, mereka
adalah Abdurrahman bin Amru yang dikenal dengan sebutan Ibnu Muljam
al-Himyari al-Kindi sekutu Bani Jaba-lah dari suku Kindah al-Mishri,
al-Burak bin Abdillah at-Tamimi dan Amru bin Bakr at-Tamimi.927 Mereka
mengenang kembali perbuatan Ali bin Abi Thalib ra. yang membunuh
teman-teman mereka di Nahrawan, mereka memo-hon rahmat buat teman-teman
mereka itu. Mereka berkata, “Apa yang kita lakukan sepeninggal mereka?
Mereka adalah sebaik-baik manusia dan yang paling banyak shalatnya,
mereka adalah penyeru manusia kepada Allah. Mereka tidak takut celaan
orang-orang yang suka mencela dalam menegakkan agama Allah. Bagaimana
kalau kita tebus diri kita lalu kita da tangi pemimpin-pemimpin yang
sesat itu kemudian kita bunuh mereka sehingga kita membe-baskan negara
dari kejahatan mereka dan kita dapat membalas dendam atas kematian
teman-teman kita.”
Ibnu Muljam berkata, “Aku akan menghabisi Ali bin Abi Thalib ra.!”
Al-Burak bin Abdillah berkata, “Aku akan menghabisi Mu’awiyah bin Abi Sufyan.”
Amru bin Bakr berkata, “Aku akan
menghabisi Amru bin al-Ash.” Merekapun berikrar dan mengikat perjanjian
untuk tidak mundur dari niat semula hingga masing-masing berhasil
membunuh targetnya atau terbunuh. Merekapun mengambil pedang
masing-masing sambil menyebut nama sahabat yang menjadi targetnya.
Mereka sepakat melakukannya serempak pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40
H. Kemudian ketiganya berangkat menuju tempat target masing-masing.
Adapun Ibnu Muljam berangkat ke Kufah.
Setibanya di sana ia menyembunyikan identitas, hingga terhadap
teman-temannya dari kalangan Khawarij yang dahulu bersamanya. Ketika ia
sedang duduk-duduk bersama beberapa orang dari Bani Taim ar-Ribab,
mereka mengenang teman-teman mereka yang terbunuh pada peperangan
Nahrawan. Tiba-tiba datanglah seorang wanita bernama Qatham binti
Asy-Syijnah, ayah dan abangnya dibunuh oleh Ali pada peperangan
Nahrawan. La adalah wanita yang sangat cantik dan populer. Dan ia telah
mengkhususkan diri beribadah dalam masjid jami’. Demi melihatnya Ibnu
Muljam mabuk kepayang. Ia lupa tujuannya datang ke Kufah. Ia meminang
wanita itu. Qatham mensyaratkan mahar tiga ribu dirham, seorang khadim,
budak wanita dan membunuh Ali bin Abi Thalib ra. untuk dirinya. Ibnu
Muljam berkata, “Engkau pasti mendapatkannya, demi Allah tidaklah aku
datang ke kota ini melainkan untuk membunuh Ali.”
Lalu Ibnu Muljam menikahinya dan
berkumpul dengannya. Kemudian Qathami mulai mendorongnya untuk
melaksanakan tugasnya itu. Ia meng-utus seorang lelaki dari kaumnya
bernama Wardan, dari Taim Ar-Ribab, untuk menyertainya dan
melindunginya. Lalu Ibnu Muljam juga menggaet seorang lelaki lain
bernama Syabib bin Bajrah al-Asyja’i al-Haruri. Ibnu Muljam berkata
kepadanya, “Maukah kamu memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat?” “Apa
itu?” Tanyanya. “Membunuh Ali!” Jawab Ibnu Muljam. Ia berkata, “Celaka
engkau, engkau telah mengatakan perkara yang sangat besar! Bagaimana
mungkin engkau mampu membunuhnya?” Ibnu Muljam berkata, “Aku
mengintainya di masjid, apabila ia keluar untuk mengerjakan shalat
subuh, kita mengepungnya dan kita membunuhnya. Apabila berhasil maka
kita merasa puas dan kita telah membalas dendam.
Dan bila kita terbunuh maka apa yang
tersedia di sisi Allah lebih baik dari-pada dunia.” Ia berkata, “Celaka
engkau, kalaulah orang itu bukan Ali tentu aku tidak keberatan
melakukannya, engkau tentu tahu senioritas beliau dalam Islam dan
kekerabatan beliau dengan Rasulullah saw. Hatiku tidak terbuka untuk
membunuhnya.”
Ibnu Muljam berkata, “Bukankah ia telah membunuh teman-teman kita di Nahrawan?”
“Benar!” jawabnya. “Marilah kita bunuh ia sebagai balasan bagi teman-teman kita yang telah dibunuhnya” kata Ibnu Muljam.
Beberapa saat kemudian Syabib
menyambutnya. Masuklah bulan Ramadhan. Ibnu Muljam membuat kesepakatan
dengan teman-temannya pada malam Jum’at 17 Ramadhan. Ibnu Muljam
berkata, “Malam itulah aku membuat kesepakatan dengan teman-temanku
untuk membunuh target masing-masing. Lalu mulailah ketiga orang ini
bergerak, yakni Ibnu Muljam, Wardan dan Syabib, dengan menghunus pedang
masing-masing. Mereka duduk di hadapan pintu928 yang mana Ali biasa
keluar dari-nya. Ketika Ali keluar, beliau membangunkan orang-orang
untuk shalat sembari berkata, “Shalat….shalat!” Dengan cepat Syabib
menyerang dengan pedang-nya dan memukulnya tepat mengenai leher beliau.
Kemudian Ibnu Muljam menebaskan pedangnya ke atas kepala beliau.929
Darah beliau mengalir mem-basahi jenggot beliau . Ketika Ibnu Muljam
menebasnya, ia berkata, “Tidak ada hukum kecuali milik Allah, bukan
milikmu dan bukan milik teman-temanmu, hai Ali!” Ia membaca firman
Allah:
“Dan di antara manusia ada orang yang
mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha
Penyantun kepada hamba-hambaNya.” (Al-Baqarah: 207).
Ali berteriak, “Tangkap mereka!” Adapun
Wardan melarikan diri namun berhasil dikejar oleh seorang lelaki dari
Hadhramaut lalu membunuhnya. Adapun Syabib, berhasil menye-lamatkan diri
dan selamat dari kejaran manusia. Sementara Ibnu Muljam berhasil
ditangkap. Ali menyuruh Ja’dah bin Hubairah bin Abi Wahab930 untuk
mengimami Shalat Fajar. Ali pun dibopong ke rumahnya. Lalu digiring pula
Ibnu Muljam kepada beliau dan dibawa kehadapan beliau dalam keadaan
dibelenggu tangannya ke belakang pundak, semoga Allah memburukkan
rupanya. Ali berkata kepadanya,” Apa yang mendorongmu melakukan ini?”
Ibnu Muljam berkata, “Aku telah mengasah pedang ini selama empat puluh
hari. Aku memohon kepada Allah agar aku dapat membunuh dengan pedang ini
makhlukNya yang paling buruk!”
Ali berkata kepadanya, “Menurutku engkau
harus terbunuh dengan pedang itu. Dan menurutku engkau adalah orang yang
paling buruk.” Kemudian beliau berkata, “Jika aku mati maka bunuhlah
orang ini, dan jika aku selamat maka aku lebih tahu bagaimana aku harus
memperlakukan orang ini!”
18. Pemakaman Jenazah Ali bin Abi Thalib ra.
Setelah Ali wafat, kedua puteranya yakni
al-Hasan dan al-Husein memandikan jenazah beliau dibantu oleh Abdullah
bin Ja’far. Kemudian jenazahnya dishalatkan oleh putera tertua beliau,
yakni al-Hasan. Al-Hasan bertakbir sebanyak sembilan kali.931 Jenazah
beliau dimakamkan di Darul Imarah di Kufah, karena kekhawa-tiran kaum
Khawarij akan membongkar makam beliau. Itulah yang masyhur. Adapun yang
mengatakan bahwa jenazah beliau diletakkan di atas kendaraan beliau
kemudian dibawa pergi entah ke mana perginya maka sungguh ia telah
keliru dan mengada^ada sesuatu yang tidak diketahuinya. Akal sehat dan
syariat tentu tidak membenarkan hal semacam itu. Adapun keyakinan
mayoritas kaum Rafidhah yang jahil bahwa makam beliau terletak di tempat
suci Najaf, maka tidak ada dalil dan dasarnya sama sekali. Ada yang
mengatakan bahwa makam yang terletak di sana adalah makam al-Mughirah
bin Syu’bah . Al-Khathib al-Baghdadi932 meriwayatkan dari al-Hafizh Abu
Nu’aim dari Abu Bakar Ath-Thalahi dari Muhammad bin Abdillah
al-Hadhrami al-Hafizh Muthayyin, bahwa ia berkata, “Sekiranya
orang-orang Syi’ah menge-tahui makam siapakah yang mereka agung-agungkan
di Najaf niscaya mereka akan lempari dengan batu. Sebenarnya itu adalah
makam al-Mughirah bin Syu’bah 933″
Al-Hafizh Ibnu Asakir934 meriwayatkan
dari al-Hasan bin Ali, ia berkata, “Aku mengebumikan jenazah Ali di
kamar sebuah rumah milik keluarga ja’dah.” Abdul Malik bin Umair935
bercerita, “Ketika Khalid bin Abdullah meng-gali pondasi di rumah
anaknya bernama Yazid, mereka menemukan jenazah seorang Syaikh yang
terkubur di situ, rambut dan jenggotnya telah memutih. Seolah jenazah
itu baru dikubur kemarin. Mereka hendak membakarnya, namun Allah
memalingkan niat mereka itu. Mereka membungkusnya dengan kain Qubathi,
lalu diberi wewangian dan dibiarkan terkubur di tempat semu-la. Tempat
itu berada dihadapan pintu al-Warraqin setelah kiblat masjid di rumah
tukang sepatu. Hampir tidak pernah seorang pun bertahan di tempat itu
melainkan pasti akan pindah dari situ.
Diriwayatkan dari Ja’far bin Muhammad
ash-Shadiq, ia berkata, “Jenazah Ali dishalatkan pada malam hari dan
dimakamkan di Kufah, tem-patnya sengaja dirahasiakan, namun yang pasti
di dekat gedung imarah (istana kepresidenan).” 936
Ibnu Kalbi937 berkata, “Turut mengikuti
proses pemakaman jenazah Ali pada malam itu al-Hasan, al-Husain, Ibnul
Hanafiyyah, Abdullah bin Ja’far dan keluarga ahli bait beliau yang
lainnya. Mereka memakamkannya di dalam kota Kufah, mereka sengaja
merahasiakan makam beliau karena kekhawa-tiran terhadap kebiadaban kaum
Khawarij dan kelompok-kelompok lainnya.
19. Tanggal Terbunuhnya Ali bin Abi Thalib ra. dan Usia Beliau
Ali ra, terbunuh pada malam Jum’at waktu
sahur pada tanggal 17 Ramadhan tahun 40 H. Ada yang mengatakan pada
bulan Rabi’ul Awwal. Namun pendapat pertama lebih shahih dan populer.Ali
ditikam pada hr Jum’at 17 Ramadhan tahun 40 H, tanpa ada perselisihan.
938
Ada yang mengatakan beliau wafat pada
hari beliau ditikam, ada yang mengatakan pada hari Ahad tanggal 19
Ramadhan. Al-Fallas berkata, “Ada yang mengatakan, beliau ditikam pada
malam dua puluh satu Ramadhan dan wafat pada malam dua puluh empat dalam
usia 58 atau 59 tahun.” 939
Ada yang mengatakan, wafat dalam usia 63
tahun.940 Itulah pendapat yang masyhur, demikian dituturkan oleh
Muhammad bin al-Hanafiyah, Abu Ja’far al-Baqir, Abu Ishaq as-Sabi’i dan
Abu Bakar bin ‘Ayasy. Sebagian ulama lain mengatakan, wafat dalam usia
63 atau 64 tahun. Diriwayatkan dari Abu ja’far al-Baqir, katanya, “Wafat
dalam usia 65 tahun.” Masa kekhalifahan Ali lima tahun kurang tiga
bulan. Ada yang mengatakan empat tahun sembilan bulan tiga hari. Ada
yang mengatakan empat tahun delapan bulan dua puluh tiga hari, semoga
Allah meridhai beliau.941
874 Kuniyah beliau yang masyhur adalah
Abul Hasan, Rasulullah saw. menggelarinya Abu Turab dalam sebuah klsah
yang masyhur yang diriwayatkan oleh imam al-Bukhari dalam Shahihnyz, hadits nomor441, 3703 dan 3280 dan Muslim dalam Shahihnya, hadits nomor 2409.
875 Yang mengatakan demikian adalah az-Zubair bin Bakkar seperti yang disebutkan dalam kitab SiyarA’lam an-Nubala’, 2/118 dan al-Bidayah wan Nihayah, 11/29. Kalimat yang dicantumkan oleh Ibnu Hajar dalam kitab al-Ishabah adalah:
“Dia adalah wanita Bani Hasyim pertama yang melahirkan khalifah,
kemudian setelah itu Fathimah az-Zahra’ «§&.” Saya katakan,
“Barangkali kalimat di atas itulah yang benar.”
876 Shahih al-Bukharinomor: 3884 dalam kitab Manaqib al-AnsharBab: Kisah Abu Thalib.
877 Asykalal Ainain yakni berbola mata kemerah-merahan. Silakan lihat Lisanul Arab materi syakala, 11/358.
878 Silakan lihat penjelasan tentang sifat jasmani beliau dalam kitab ath-ThabaqatuIKubra karanqan Ibnu Sa’ad, 3/25 dan 27, dan Tarikh ath-Thabari,5/153.
879 Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Shahltmya nomor 4251 dalam kisah hadhanah {pemeWbaran) puteri
Hamzah, saat itu Rasulullah saw. memutuskan bahwa hak pemeliharan jatuh
ke tangan bibinya, yaitu istri Ja’far. Beliau mengatakan perkataan ini
kepada Ali dan mengatakan kepada Ja’far, “Perawakan dan watakmu sangat
mirip denganku.” Dan beliau berkata kepada Zaid bin Haritsah , “Engkau adalah saudara dan maula kami.”
880 Aku belum menemukan sumbemya
881 Muttafaqun ‘alaih, diriwayatkan oleh al-Bukhari, 3706 dan Muslim, 2404.
882 Silakan lihat al-Bidayah wan Nihayah, 7/556.
883 Hadits riwayat al-Bukhari dalam Shahihnya nomor 4447.
884 Silakan lihat Khilafah ash-Shiddiq dalam kitab al-Bidayah wan Nihayah halaman 64 dan setelahnya yang telah kami susun
885 Silakan lihat juz pertama, Khilafah Abu Bakar ash-Shiddiq halaman 61 dari kitab al-Bidayah wan Nihayah yang telah kami susun
886 Fathu/Ban, 7/71.
887 FathulBari, yakni tingkat keutamaan mereka sama seperti posisi mereka dalam urutan khilafah.
888 Al-Bidayah wan Nihayah, 11/29.
889 Diriwayatkan melalui beberapa jalur sanad dan jalan-jalan yang banyak hingga adz-Dzahabi berkata, “Hadits yang berbunyi: “Barangsiapa menjadikan aku sebagai walinya maka sesungguhnya ia telah menjadikan Ali sebagai walinya” adalah hadits mutawatir, kami yakin Rasulullah saw. Sg telah mengucapkannya.” Lihat al-Bidayah wan Nihayah, 7/681,
akan tetapi di dalamnya terdapat tambahan-tambahan yang mungkar.
Al-Hafizh adz-Dzahabi dan Ibnu Katsir telah memperingatkannya. Silahkan
lihat Silsilah al-ahadits ash-Shahihah karya Syaikh al-Albani hadits nomor 1750.
890 Hadits muttafaqun ‘alaihiriwayat al-Bukhari, 3983 dan Muslim, 2494.
891 Hadits muttafaqun ‘alaihi riwayat al-Bukhari, 4840 dan Muslim, 1856.
892 Yakni dalam kitab Shahih, kitab Fadhail’ ash-Shahabah Bab FadhailAli, 7/70-71 dari kitab FathulBari.
893 Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata dalam kitab Fathul Ban, 7/72, “Riwayat ini telah diriwayatkan secara maushul(tersambung
sanadnya) oleh penulis dalam kisah perjanjian Hudaibiyah dan kisah
Umratul Qadha’ secara lengkap. Dan ini bukanlah keistimewaan yang hanya
dimiliki oleh beliau seperti yang dikira oleh sebagian orang. Sebab
Rasulullah saw. fe.juga berkata kepada kaum Asy’ariyyin, ‘Mereka
adalah bagian dariku dan aku adalah bagian darl mereka.’ Rasulullah
saw. xgjuga berkata kepada Julaibib, ‘Engkau adalah bagian dariku dan
aku adalah bagian darimu’.”
894 Hadits riwayat al-Bukhari nomor 37 dalam bab Manaqib Utsman
895 Hadits riwayat Muslim dari hadits Abu Hurairah «$a nomor 4205 dan dari hadits Sahal bin Sa’ad ^# nomor 2406.
896 Hadits riwayat Muslim dalam Shahihnya nomor 2409.
897 Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab al-Maghazi Bab Perang Tabuk hadits nomor 4416 dengan lafal yang lebih lengkap dari ini, di dalamnya ditambahkan, “Hanya saja tidakada nabi setelafiku.” Diriwayatkan juga oleh Muslim nomor
2404. Al-Qadhi Iyadh berkata, “Hadits ini termasuk dalil yang dipakai oleh kaum Rafidhah, Imamiyah dan
seluruh kelompok Syi’ah bahwasanya kekhalifahan adalah hak Ali ^, dan
bahwasanya Rasulullah saw. Sl§ telah mewaslatkan jabatan khalifah
kepadanya.Kemudian mereka berselisih pendapat. Kaum Rafidhah mengkafirkan
seluruh sahabat karena telah mendahulukan selain Ali. Sebagian mereka
bahkan mengkafirkan Ali bin Abi Thalib karena menurut anggapan mereka
Ali tidak menuntut haknya. Mereka ini adalah kelompok yang paling buruk
madzhabnya dan paling rusak akalnya, ucapan mereka tidak perlu dibantah
lagi dan tidak perlu didebat.” Al-Qadhi melanjutkan, ‘Tidak syak lagi
tentang kafirnya orang yang mengatakan seperti itu. Karena orang yang
mengkafirkan seluruh umat dan generasi pertamanya berarti ia telah
membatalkan penukilan syariat dan telah merubuhkan Islam. Adapun selain
kelompok radikal ini tidaklah berpandangan seperti itu. Kaum Imamiyah
dan sebagian Mu’tazilah mengatakan, ‘Mereka (para sahabat) telah keliru
karena mendahulukan selain Ali, bukan kafir.’ Sebagian kaum Mu’tazilah
bahkan mengatakan bahwa mereka (para sahabat) tidak keliru, karena
menurut mereka boleh saja mendahulukan yang tidak utama daripada yang
utama.”
Hadits ini bukanlah hujjah bagi mereka. Bahkan ini merupakan penetapan keutamaan Ali bin Abi Thalib. Karena Rasulullah saw. sl| telah menunjuk beliau sebagai khalifah sementara di kota Madinah saat beliau mengikuti perang Tabuk.
Hal ini dikuatkan pula dengan kenyataan
bahwa Harun bukanlah khalifah setelah Musa, bahkan Harun wafat pada saat
nabi Musa masih hidup, yakni beliau wafat empat puluh tahun sebelum
nabi Musa wafat. Berdasarkan keterangan yang masyhur dari pakar sejarah,
mereka berkata, “Nabi Musa menunjuknya sebagai khalifah ketika beliau
pergi untuk bermunajat kepada Rabbnya.”
Saya katakan, Penunjukan Ali sebagai
khalifah pengganti di Madinah adalah bersifat khusus untuk mengurus dan
memelihara keluarga beliau saat beliau pergi ke peperangan Tabuk. Adapun
khalifah pengganti yang bersifat umum untuk kota Madinah kala itu
adalah Muhammad bin Maslamah al-Anshari seperti yang telah disebutkan
oleh ulama sejarah.
898 Ibnu Hajar berkata dalam FathulBart, 7/73, “Maksudnya adalah ucapan-ucapan yang diriwayatkan oleh kaum Rafidhah dari Ali bin Abi Thalib, di antaranya yang berisi penyelisihan beliau terhadap Abu Bakar dan Umar sge. Maksudnya bukanlah
899 riwayat-riwayat yang dinukil dari
beliau tentang masalah-masalah hukum syar’i. Ibnu Sa’ad telah
meriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Abbas *$£> ia berkata, “Jika seorang tsiqah menyampaikan
kepada kami dari Ali sebuah fatwa maka kami tidak akan melangkahinya.”
2a Khum adalah mata air yang terletak tiga mil dari Juhfah, mata air
yang dikenal dengan sebutan Ghadir Khum. Silahkan lihat Mu’jam al-Buldan, 2/389
900 Saya katakan, Mereka adalah Bani
Hasyim, Rasulullah saw. memasukkan Bani Abdul Muthailib bin Abdi Manaf
ke dalam bagian karib kerabat, tidak seluruh anak keturunan Abdi Manaf.
Karena mereka adalah sekutu Bani Hasyim yang tidak pernah terpisahkan
baik pada masa jahiliyah maupun setelah datangnya Islam. Silakan lihat Tafsirlbnu Katsir, 3/63 dan 64.
901 Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shah/hnya dalam Kitabul Iman nomor 78 dan dalam Sunan an-Nasa’i kitab Fadhailash-Sahabah nomor 50.
902 Ath-Thabaqatal-Kubra, 3/19-20 dan Tarikh ath-Thabari, 5/153-155.
903 Namanya ash-Shahba’ seperti yang disebutkan dalam kitab ath-Thabaqat, 3/20 dan Nasab Quraisy karangan az-Zubairi halaman 42.
904 Dalam kitab Ibnu Sa’ad 3/20
disebutkan: Sembilan belas orang puteri, sesuai dengan yang disebutkan
secara rinci di sini.Ibnu Katsir menukilnya dari ath-Thabari dalam Tarikhnys, 5/155, “Barangkali perkataannya Tujuh belas orang puteri adalah kesalahan tulis.”
905 * Dalam kitab Ath-Thabaqat al-Kubra, 3/20
Muhammad bin Sa’ad mengatakan, ‘Tidak ada riwayat yang shahih yang
sampai kepada kami tentang putera puteri Ali selain mereka yang telah
kami sebutkan tadi.”
906 Diriwayatkan oleh Ibnu Asaakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/373-374 (Manuskrip asli) dari jalur Abdul Warits.
907 Khazirah adalah daging yang
diiris kecil-kecil kemudian di masak dengan air yang banyak dan garam,
apabila sudah matang ditaburkan gandum di atasnya lalu diaduk sampai
rata kemudian dihidangkan dengan lauk yang lainnya. Disebutjuga alhisaa’yang terbuat dari lemak dan gandum. Silakan lihat Kamusal-Wasith.
908 Hadits riwayat Ahmad dalam al-Musnad, 1/78, sanadnya shahih, sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/374 dari jalur Imam Ahmad.
909 Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliya’, 1/82 dan Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/374 keduanya dari jalur Abu Ubaid.
910 Al-Ma’rifah wat Tarikh, 2/683 sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/375 dari jalu Ya’qub bin Sufyan.
911 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/375 dari jalur Imam Ahmad.
912 Ath-Thabaqatul Kubra, 3/28.
913 Qithriyah adalah sejenis kain berwarna merah yang berasal dari wilayah Bahrain, silakan lihat Lisanul Arab.
914 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, X2I111 dari jalur Amru bin Syimr. Ketika mengomentari haditshadits dalam kitab al-Muhadzdzab Ibnu Asakir berkata, “Sanadnya majhul.” Demikian disebutkan dalam kitab al-Irwaa’.
Al-Albani berkata, “Sanadnya sangat lemah sekali, Amru dan Jabir, yakni Jabir bin Yazid al-Ju’fi adalah dua orang perawi matruk. Silakan lihat Irwaul Ghalil, 8/243.
915 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/378 dari jalur Sa’id bin Ubaid
916 Tarikh Dimasyq, 12/378 dari jalur Abul Qasim al-Baghawi
917 Tarikh Dimasyq, 12/379 dari jalur Yahya bin Ma’in.
918 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/380 dari jalur Ibnu Abid Dunya.
919 Tarikh Dimasyq, 12/380-381 dari jalur Waki’.
920 Nuwamah maksudnya adalah
orang-orang yang menahan diri pada saat terjadi fitnah (pertumpahan
darah), ia tidak melibatkan diri sedikitpun. Silahkan lihat Lisanul Arab.
921 Madzayi’ artinya orang yang suka menyiarkan berita. Budzur attirtya orang yang suka membuka rahasia dan tidak dapat menyembunyikannya. Silahkan lihat Lisanul Arab
922 Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikh Dimasyq, 12/383 dari jalur Waki’.
923 Dalam Tarikh ath-Thabaridiriwayatkan dengan lafal: wa la tu’nuu. Wa laa ta’fuu afwahahum artinya jangan kosongkan mulut mereka dari makanan
924 Al-Bidayah wan Nihayah, 11/16-17.
925 Rasulullah saw. H telah mengabarkan bahwa Ali ^k> akan mati terbunuh seperti yang disebutkan dalam MusnadImam Ahmad, 1/102-130-156 dan kitab Dala’il an-Nubuwwah karangan al-Baihaqi, 6/438 dengan sanad shahih seperti yang dikatakan oleh Ahmad Syakir.
926 Silahkan lihat Tarikh ath-Thabari, 5/143-146, ath-Thabaqat karangan Ibnu Sa’ad, 3/36-37, al-Muntazham, 5/172-173, al- Kamil, 3/388-389 dan Tarikh Islam juz Khulafaur Rasyidin halaman 607-608.
927 Dalam kitab ath-Thabaqat Ibnu Sa’ad disebutkan bahwa mereka berkumpul di Makkah.
928 As-Suddah adalah pintu rumah dan atap yang menutupi pintu rumah, atau pekarangan di depan rumah, lihat kamus al-Wasith.
929 Qarnulinsan, adalah bagian atas kepala. Silakan lihat kamus Muhith.
930 Ibnu Hajar menyebutkan biografinya dalam al-Ishabah, 1/484
dan 527, dan menyebutkan kontroversi tentang statusnya apakah termasuk
sahabat atau bukan. Ibunya adalah Ummu Hani’ binti Abi Thalib, berarti
Ali adalah pamannya.
931 Dalam sejumlah riwayat lainnya disebutkan empat kali takbir, barangkali itulah yang benar, silakan lihat ath-Thabaqat al-Kubra, 3/38.
932 Tarikh Baghdad, 1/138.
933 Karena mereka sangat membenci al-Mughirah bin Syu’bah *&>, pent.
934 Tarikh Dimasyq, 12/420.
935 Silahkan lihat Tarikh Baghdad, 1/137.
936 Silatrkan lihat Tarikh Is/am karangan Adz-D*at\abi juz Khutafaur Rasyidin halaman 650.
937 Silakan lihat Tarikh Dimasyq, 12/421.
938 Perkataan beliau, “Tanpa ada
perselisihan,” maksudnya tahunnya, adapun bulan dan tanggalnya telah
terjadi perselisihan di dalamnya.
939 Silakan lihat Tarikh ath-Thabari, 5/151.
940 Ibnu Sa’ad menukil dalam kitab ath-Thabaqat, 3/381
dari al-Waqidi bahwasanya ia berkata, “Itulah pendapat yang shahih
menurut kami.” Saya katakan, Ini bersesuaian dengan pendapat yang
mengatakan bahwa tahun kelahirannya adaiah dua puluh tahun sebelum
Rasulullah saw. s£, diangkat menjadi rasul.
941 Silakan lihat Tarikh ath-Thabari, 5/152-153, demikian pula Tarikh Dimasyq, 12/423
dan 428. Pendapat-pendapat ini saling berdekatan, perbedaan antara
pendapat pertama, kedua dan ketiga didasarkan atas perbedaan penentuan
tanggal pembai’atan beliau dan tanggal wafat beliau setelah ditikam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar