Jumat, 06 April 2012
Makam WaliAllah di Jakarta
2. SYARIFAH SALMA BINTI HUSEIN AL-AYDRUS
3. MBAH PANGERAN SYARIF (DATUK BANJIR) BIN SYEIKH ABDURROHMAN (LUBANG BUAYA)
4. AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HASAN BIN HUD AL-ATHOS (Al-Khaerot)
5. AL-HABIB ‘ALI BIN HUSEIN AL-ATHOS (Al-Hawi)
6. AL-HABIB AHMAD BIN ABDULLAH BIN HASAN AL-ATHOS (Al-Khaerot)
7. AL-HABIB ‘IDRUS BIN HUSEIN AL-HAMID AL-KHOIROT (Kramat Al-Khaerot)
8. PANGERAN JAYAKARTA BIN PANGERAN SUNGRASA WIJAYA KARTA BIN TUBAGUS ANGKE (Klender)
9. PANGERAN LAHUT (Klender)
10. PANGERAN SEGIRI BIN SULTAN AGUNG TIRTAYASA (Klender)
11. PANGERAN SURYA (KLENDER)
12. RATU ROFIAH (KLENDER)
13. SYEIKH KOMPI UBAN (KRAMAT CIPINANG)
14. SYEIKH DATUK GEONG (KRAMAT JATI)
15. SYEIKH DATUK BANJAR (KRAMAT JATI)
16. KYAI QOSIM BIN KYAI TOHIR (PULO)
17. AL-HABIB UMAR (KRAMAT KOMPI MAS SEMPER)
18. AL-HABIB MUHAMMAD SYARIF BIN ALWI BIN HASAN BIN ALI ASSEGAF (KOMPI JENGGOT)
19. SYEIKH KOMPI TIMUR (KRAMAT SUNTER)
20. SYEIKH KOMPI BARAT (KRAMAT SUNTER)
21. SYEIKH KOMPI RESO (KRAMAT SUNTER)
22. SYEIKH KOMPI PENGANTIN (KRAMAT YOS SUDARSO)
23. AL-HABIB SYARIF BIN ‘ALI BIN HUSEIN BIN UTSMAN (CUCU SUNAN GUNUNG JATI 19, KRAMAT MENGKOK) SEMPER
24. SAYYID ALI (KRAMAT BATU TIMBUL/TUMBUH SEMPER)
25. PANGERAN PUGER BIN MUHAMMAD BIN SULTAN HASANUDIN (KRAMAT DEWA KEMBAR)
26. AL-HABIB SALIM BIN SYEIKH ABU BAKAR (DEWA KEMBAR)
27. AL-HABIB SAYYID HUSEIN BIN HASAN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT DEWA KEMBAR)
28. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD ABDULLOH AL-HABSYI/MBAH SAYYID ARELI DATO KEMBANG (KRAMAT ANCOL)
29. SYARIFAH ENENG (KRAMAT ANCOL)
30. AL-HABIB HANUN BIN SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)
31. HABABAH SYARIFAH REGOAN BINTI HANUN BINTI SYEIKH ABU BAKAR (KRAMAT ANCOL)
32. AL-HABIB HASAN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (MBAH PRIUK)
33. AL-HABIB SYARIF MUHSIN BIN ‘ALI BIN ISHAQ BIN YAHYA (KRAMAT CILINCING)
34. AL-HABIB SYEIKH ABDUL HALIM BIN YAHYA (KRAMAT AL-ALAM MARUNDA)
35. AL-HABIB MUHAMMAD BIN UMAR AL-QUDSY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
36. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN BA’ALAWY (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
37. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ALWI ASSATIRI (KRAMAT KAMPUNG BANDAN)
38. SYARIFAH FATIMAH KECIL BINTI HUSEIN AL-AYDRUS (KRAMAT PEKOJAN)
39. AL-HABIB HUSEIN BIN ABU BAKAR AL-AYDRUS (KRAMAT LUAR BATANG)
40. AL-HABIB MUHAMMAD BIN SYEIKH BIN HUSEIN AL-BAHAR (KRAMAT TUNGGAK)
41. MU’ALLIM SYAFI’I HADZAMI BIN SHOLEH RO’IDI (KEBAYORAN)
42. AL-HABIB UTSMAN BIN ABDULLOH BIN AQIL BIN YAHYA BIN AL’ALAWY (PONDOK BAMBU)
43. PANGERAN SYARIF HAMID AL-QODRI BIN AL-HABIB SULTON SYARIF ABDUL ROHMAN AL-QODRY BIN MAULANA SYARIF HUSEIN (KRAMAT ANGKE)
44. SYARIFAH AMINAH BINTI PANGERAN SYARIF HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)
45. AL-HABIB SHOLEH AL-HABSYI (KRAMAT ANGKE)
46. KOMPI NA SYEIKH (KRAMAT ANGKE)
47. SYEIKH JA’FAR (KRAMAT ANGKE)
48. SYEIKH LIONG (KRAMAT ANGKE)
49. SYARIFAH MARIAM (KRAMAT ANGKE)
50. PANGERAN TUBAGUS ANJANI (KRAMAT ANGKE)
51. AL-HABIB SAYYID ABU BAKAR BIN SAYYID ALWI BAHSAN JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)
52. AL-HABIB ALWI BIN AHMAD JAMALULLAIL (KRAMAT MANGGA DUA)
53. AL-HABIB ABU BAKAR BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)
54. SYARIFAH HUDZAIFAH BINTI ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT WACUNG)
55. PANGERAN WIJAYA KUSUMA (KRAMAT KEDOYA)
56. PANGERAN PAPAK ADIPATI TANJUNG JAYA (KRAMAT PEDONGKELAN)
57. AL-HABIB UMAR BIN HAMID BIN HASAN BIN ABDULLOH BIN AHMAD BIIN HASAN BIN SHOHIBUL ROTIB AL-HADDAD (KRAMAT PESING)
58. AL-HABIB ABBAS BIN ABU BAKAR BIN HUSEIN BIN AHMAD BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT RAYA BOKOR)
59. AL-HABIB UTSMAN BIN MUHAMMAD BIN AHMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)
60. AL-HABIB UMAR BIN UTSMAN BIN MUHAMMAD BANAHSAN (KRAMAT ABIDIN)
61. SHOHIBUL KAROMAH WAL BAROKAH AL-HABIB ABU BAKAR BIN ALWI BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (KRAMAT ABIDIN PONDOK BAMBU)
62. SAYYID HABIB HUSEIN BIN UMAR BIN ‘ALI BIN SYAHAB (KRAMAT PECENONGAN)
63. AL-HABIB ALI BIN SHOLEH ABDURROHMAN AL-QODRY RADEN ATENG KERTADRIA (KRAMAT JAYAKARTA)
64. AL-HABABAH SYARIFAH FATHIMAH (KRAMAT SAWAH BESAR)
65. AL-HABIB HASAN BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
66. AL-HABIB ABDUL QODIR BIN MUHAMMAD AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
67. AL-HABIB UMAR BIN ‘IDRUS AL-BAHAR (KRAMAT SALEMBA)
68. AL-HABIB ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI (KWITANG)
69. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ‘ALI BIN ABDURROHMAN AL-HABSYI KWITANG)
70. SYARIFAH NI’MAH BINTI ZEIN BIN AHMAD BIN SYAHAB (KWITANG)
71. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN ABDULLOH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)
72. SYARIFAH AL-HABSYI (KRAMAT CIKINI)
73. SYEIKH UPU DAENG H.ARIF UDIN (KRAMAT SENEN, WAFAT TAHUN 17)
74. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
75. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
76. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
77. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
78. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
79. AL-HABIB THOHA BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
80. AL-HABIB ABDURROHMAN BIN HASAN BIN SHAHAB (KALIBATA)
81. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)
82. AL-HABIB AHMAD BIN ‘ALWI BIN AHMAD BIN HASAN BIN ‘ABDULLOH AL-HADDAD / HABIB KUNCUNG (KALIBATA)
83. AL-HABIB ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA AL-HADDAD (KALIBATA)
84. AL-HABIB ABDULLOH BIN HUSEIN ASSAMI AL-ATHOS
85. AL-HABIB THOHA BIN MUHAMMAD BIN ABDULLOH BIN JA’FAR BIN THOHA BIN ABDULLOH BIN THOHA BIN UMAR BIN ALWI AL-HADDAD (KALIBATA)
86. SYEIKH RAHMATULLOH (KEBAYORAN)
87. DATUK BIRU (KRAMAT RAWA BANGKE)
88. AL-HABIB ZEIN BIN ABDULLOH AL-AYDRUS (AL-HAWI)
89. AL-HABIB SALIM BIN JINDAN (AL-HAWI)
90. WAN SYARIFAH FATHIMAH BINTI ABDULLOH AL’AIDID (KRAMAT PETOGOGAN)
91. AL-HABIB ‘ALI BIN AHMAD BIN ZEIN AL’AIDID (KRAMAT PULAU PANGGANG, KECAMATAN PULAU SERIBU, JAKARTA / KRAMAT TIMUR)
92. AL-HABIB HUSEIN BIN AQIL BIN AHMAD BIN SOFI ASSEGAF (KRAMAT BARAT PULAU PANGGANG)
93. AL-HABIB MUSTOFA BIN IDRUS BIN HASAN AL-BAHAR (KRAMAT LUBANG BUAYA)
94. SAYYID AHMAD BIN HAMZAH AL-ATHOS (KRAMAT PEKOJAN)
95. AL-HABIB ZEIN BIN MUHAMMAD AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
96. AL-HABIB AHMAD ZEIN AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
97. AL-HABIB ‘ALI BIN ZEIN ALHADDAD (KRAMAT PRIUK)
98. AL-HABIB MUHAMMAD BIN ABDUL QODIR AL-HADDAD (KRAMAT PRIUK)
99. AL-HABIB SALIM BIN THOHA JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
100. AL-HABIB UMAR BIN JA’FAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
101. AL-HABIB ‘ALI BIN HASAN BIN UMAR AL-HADDAD (PASAR MINGGU)
102. RA KANJENG ADIPATI DALAM NEGERI 1 SOSRODININGRAT (KRAMAT JAYAKARTA)
103. RA AJENG SULARTI (KRAMAT JAYAKARTA)
104. SYEIKH MANSYUR (KRAMAT LIO-PASAR PAGI)
105. HABIB ALWI BIN HUSEIN AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
106. HABIB MUHAMMAD BIN ALWI AL-HABSYI (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
107. PANGERAN USMAN (KRAMAT PEDAENGAN-CAKUNG)
108. AL-HABIB SALIM BIN ABDULLOH AL-QODRY / PANGERAN SALIM (KRAMAT PULO GEBANG
Sejarah Pangeran Achmad Djaketra dan Masjid Jami As-Salafiyah
Sekitar
bulan Mei tahun 1619 di daerah Mangga Dua, pasukan Pangeran
Jayawikarta, disebut juga Pangeran Achmad Djaketra, yang selanjutnya
lebih dikenal dengan Jayakarta, berhadap-hadapan dengan tentara
Pemerintah Hindia Belanda pimpinan Gubernur Jenderal Jan Pietersen Coen.
Pertempuran sengit terjadi, dan pasukan Pangeran Jayakarta terdesak.
Pasukan
Belanda mengepung dari arah Senen, Pelabuhan Sunda Kelapa dan Tanjung
Priok. Karena terjepit Pangeran Jayakarta dan pasukannya bergerak mundur
ke timur hingga daerah Sunter, lalu ke selatan. Sambil terus bergerak
ke selatan, ketika itu Pangeran Jayakarta membuang jubahnya ke sebuah
sumur tua. Pasukan Belanda mengira Pangeran Jayakarta jatuh dan tewas ke
sumur. Mereka kemudian menembaki sumur dan menganggap Pangeran
Jayakarta sudah mati. Pasukan Belanda kemudian menimbun sumur itu dengan
tanah. Tempat ini selama bertahun-tahun diyakini sebagai makan Pangeran
Jayakarta. Padahal, sebenarnya ia belum meninggal.
Pangeran
dan sisa pasukannya menuju ke arah Jakarta Timur. Dahulu, daerah ini
masih berupa hutan jati dan rawa. Untuk sementara mereka beristirahat di
tepi Kali Sunter yang membelah hutan itu yang kemudian dikenal masih
bagian dari daerah Jatinegara. Daerah ini kemudian diberi nama
Jatinegara yang berarti pemerintahan sejati.
Seterusnya
Pangeran Jayakarta dan pengikutnya menetap dan membangun perkampungan
baru di tempat itu. Perkampungan berkembang dengan kehadiran kaum
pendatang lainnya. Dikisahkan, karena di tempat itu masih banyak hutan
jati, maka sumber ekonomi masyarakatnya mengandalkan diri dari kerajinan
kayu jati. Inilah mungkin mengapa daerah Klender yang berdekatan dengan
Jatinegara Kaum, dikenal sebagai pusat industri furnitur hingga kini.
Mulai
tahun 1620, Pangeran Jayakarta membangun sebuah masjid yang diberi nama
Masjid Assalafiyah, artinya masjid tertua, yang lokasinya berdekatan
dengan Kali Sunter. Masjid ini pada awal dibangun hanya merupakan masjid
kecil dengan empat tiang pokok dan satu cungkup (atap masjid). Dalam
perkembangannya, masjid ini rupanya digunakan oleh Pangeran Jayakarta
untuk menggalang kekuatan kembali. Berpuluh-puluh tokoh masyarakat dan
jawara serta ulama seringkali berkumpul di masjid ini menyusun strategi
perjuangan dan dakwah Islam.
Pangeran
Jayakarta terus bergerilya dan mengatur strategi melawan Belanda dari
Masjid Assalafiyah ini. Ia tinggal di sini hingga wafat pada tahun 1640
dan dimakamkan di tempat ini. Ia berwasiat kepada keturunannya agar
tidak memberitahukan keberadaannya baik saat ia hidup maupun meninggal
kecuali jika Belanda sudah tidak berada di negeri ini.
Wasiat
ini dijaga dengan baik oleh keturunan Pangeran Jayakarta, mereka
menjaga masjid dan makamnya, namun hanya mereka yang tahu bahwa Pangeran
Jayakarta dimakamkan di tempat ini. Orang-orang mengira makam Pangeran
Jayakarta ada di Mangga Dua, tempat dimana Belanda menyangka ia tewas
dahulu. Demi menjaga wasiat Pangeran Jayakarta, keturunan Pangeran
Jayakarta tidak menikah dengan orang lain di luar keluarga Pangeran
Jayakarta.
Tahun
1700 Pangeran Sugeri, putera Sultan Fatah dari Banten, memugar masjid
ini. Sebelumnya bersama-sama dengan Pangeran Jayakarta, Sugeri dan Fatah
yang terbuang dari Kesultanan Banten ini –karena Sultan Haji saudara
Sultan Fatah melakukan kup dibantu Belanda–, berjuang melawan Pemerintah
Hindia Belanda di Batavia. Pangeran Jayakarta dan Pangeran Sugeri
kemudian dimakamkan di kompleks masjid bertiang penyangga jati ini.
Pemugaran juga dilakukan oleh Tubagus Aya Kasim pada tahun 1884.
Cagar budaya
Setelah
Indonesia merdeka, pada tahun 1960-an, barulah keturunan Pangeran
Jayakarta memberitahu kepada masyarakat bahwa keberadaan makam Pangeran
Jayakarta yang sebenarnya ada di Masjid Assalafiyah, terletak di Jalan
Jatinegara Kaum, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. “Baru pada zaman
Gubernur Henk Ngantung keberadaan makam ini diungkapkan kepada umum,”
ujar R Suprijadi Rosjid yang mengaku termasuk keturunan ke-13 dari
Pangeran Jayakarta. Henk Ngantung adalah gubernur DKI Jakarta antara
1964-1965. Kini, masjid Assalafiyah ditetapkan menjadi cagar budaya dan
suaka peninggalan sejarah. Pengelolaannya berada di bawah dinas
kebudayaan dan permuseuman DKI Jakarta.
Saat
ini Masjid Assalafiyah dirawat oleh Rosjid yang juga menjaga
peninggalan berupa makam dan masjid juga mendapat peninggalan berupa
senjata Biring Galih dan Biring Lanang, yang memiliki makna jaya di laut
dan jaya di darat. Selain mendapat amanah dari Pangeran Jayakarta
selaku keturunannya, Rosjid juga mendapat Surat Keputusan Gubernur yang
menyatakan bahwa ia ditugaskan sebagai juru pelihara masjid dan makam.
Rosjid
yang tadinya adalah pengusaha mebel rela menomorduakan usahanya demi
menjalankan amanah sebagai juru pelihara masjid dan makam. Pria dengan
delapan anak dan tiga cucu ini lebih banyak mengandalkan pendapatan dari
honor sebagai juru pelihara masjid dan makam. Lagipula, di usianya yang
menginjak 58 tahun ia merasa sudah saatnya ia pensiun dari usaha
mebelnya. Rosjid mengatakan, perhatian Pemerintah kepada keberadaan
bangunan bersejarah ini sudah baik. “Setiap Gubernur pasti memasukkan
anggaran untuk pemugaran Masjid Assalafiyah di setiap periodenya,”
ujarnya.
Keluarga
Jatinegara Kaum sendiri juga secara swadaya melakukan pemugaran pada
tahun 1933. setelah merdeka, pemerintah mulai mengambil alih urusan
pemugaran ini. Pada tahun 1968 Gubernur Ali Sadikin melakukan pemugaran
yang cukup besar. Masjid Assalafiyah diperluas ke belakang, lalu
dibangun dua lantai, dan dibangun menara baru.
Gubernur
Suryadi Sudirja sempat memugar masjid ini sebanyak dua kali, yaitu pada
periode 1992-1993 dan periode 1994-1995. masjid ini terakhir kali
dipugar oleh Gubernur Sutiyoso pada periode 2003-2004. Walaupun sudah
banyak dipugar, bangunan Masjid Assalafiyah masih sangat mempertahankan
keasliannya, yaitu bangunan asli yang terdiri dari empat pokok, masih
dipertahankan dari mulai pokok dari kayu jati hingga atapnya. Bahkan
gentingnya pun masih asli.
Wisata Ziarah
Makam
Pangeran Jayakarta tak pernah sepi dari kunjungan para peziarah. Mereka
tak cuma datang dari Jakarta dan sekitarnya, tetapi bahkan dari
berbagai daerah di luar Jawa. Kata Rosyid, “Peziarah banyak, terutama
pada setiap malam Jumat.” Sebagai pejuang yang melawan Belanda di
Jakarta, Pangeran Jayakarta dianggap sebagai salah seorang pahlawan
Jakarta. Karenanya, sudah jadi tradisi bagi gubernur Jakarta untuk
berziarah ke makamnya setiap hari ulang tahun Ibu Kota. Hal sama juga
dilakukan Panglima Komando Daerah Militer Jakarta Raya (Kodam Jaya)
dalam rangka memperingati hari jadi kesatuan militer, setiap tanggal 24
Desember.
Di
hari-hari biasa, selalu ada saja pengunjung yang berziarah ke makam
Pangeran Jayakarta. Kegiatan rutin di masjid ini tidak berbeda dengan
masjid pada umumnya. Ada pengajian remaja setiap hari Jumat malam, ada
pengajian ibu-ibu di hari Minggu, juga pengajian untuk umum pada hari
Sabtu. Sementara, di hari-hari besar, ada beberapa peringatan yang
diadakan di Masjid Assalafiyah. Sebagaimana layaknya masjid, setiap hari
besar islam dirayakan disini, seperti hari Maulid Nabi, Isra’ Mi’raj,
dan tahun baru Islam. Ulang Tahun Jakarta atau Haul Pangeran Jayakarta
sendiri sudah menjadi agenda Pemerintah Daerah DKI Jakarta untuk
mengadakan peringatan sekaligus ziarah ke makam Pangeran Jayakarta.
Tercatat
beberapa peninggalan sejarah masjid ini hilang tak ketahuan rimbanya.
Yang tersisa hanya empat tiang penyangga dan sebuah kaligrafi Arab
berbentuk sarang tawon di dalam plafon menara masjid. Seperti nasib
masjid tua lainnya, As-Salafiyah sekarang lebih terlihat lapang.
Penampilannya pun terkesan mewah dengan keramik dan marmer menutupi
hampir seluruh temboknya. Persis sama dengan masjid-masjid seumurnya,
tampaknya ukuran asli As-Salafiyah hanya seluas empat pilar dengan
selasar sepanjang 5 meter di setiap sisinya –separuh bagian barat
bangunan–. Dan inilah masjid tua yang paling banyak memiliki makam di
sisi selatan, barat, dan utara.
Mudah
saja memilih angkutan untuk menuju ke Masjid As-Salafiyah. Terminal
Pulogadung atau Pasar Klender adalah terminal yang terdekat dengan
masjid. Dari Senen ada Metro Mini T-47, dari Kampung Rambutan ada Patas
98, dari Rawamangun ada Angkot T-26, dan dari Kampung Melayu ada Kopaja
T-501. [muyawan karim]
Langganan:
Komentar (Atom)
























































