Selamat Datang di Blog Resmi **Majlisarrahman.blogspot.com ** Majelis Dzikir Ratibul Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad wa Maulidun Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam (Dzikrullah wa Dzikrurrosul SAW) Jakarta - Indonesia. Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Kami**

 photo oji_zpsb336d6d8.gif
Selamat Datang di Blog Resmi **Majlisarrahman.blogspot.com ** TUNJUKKAN KEPERDULIAN DAN BAKTI KITA PADA PEMBENAHAN ISLAM DENGAN TURUT MENYUMBANGKAN HARTA KITA SEBAGAI SAKSI, BANTUAN KITA ADALAH CERMIN KADAR IMAN KITA, RASULULLAH SAW BERSABDA : SETIAP HARI TURUN DUA MALAIKAT MULIA KE BUMI DAN BERDOA, WAHAI ALLAH BERI ORANG YANG BERINFAQ KESEJAHTERAAN, DAN BERI ORANG YANG KIKIR KEHANCURAN ( shahih Bukhari ). Terimakasih Sudah Mengunjungi Blog Kami**

Kamis, 08 November 2012

Syekh Abdul Rauf Al-Singkili, Harmonisasi Syariat dan Tasawuf

Nama Syekh Abdur Rauf Al-Fansuri As-Singkili yang memiliki nama panjang Syekh Abdul Rauf bin Ali Al-Jawi Al-Fansuri Al-Singkili dilahirkan di Fansur dan dibesarkan di Singkil, Aceh, pada awal abad ke-17 Masehi
Ulama besar asal Aceh ini sangat terkenal dengan pemikirannya. Sejak kecil ia sudah mempelajari ilmu-ilmu zahir seperti tata bahasa Arab, membaca Alquran dan tafsir, hadis dan fikih, mantiq (logik), filsafat, geografi, ilmu falak, ilmu tauhid, sejarah dan pengobatan.
Ia pun sempat mendalami ilmu-ilmu batin seperti ilmu tasawwuf dan tarekat. Dalam laman www.ddii.acehprov.go.id disebutkan, Abdul Rauf lalu menjadi ahli (pakar) dalam ilmu-ilmu tersebut.
Di bidang keagamaan Abdul Rauf pertama kali belajar pada ayahnya, Syehk Ali Fansuri yang bersaudara dengan Syekh Hamzah Fansuri. Menginjak remaja Abdul Rauf menimba ilmu di Timur Tengah.
Berawal dari melaksanaan ibadah haji, ia lalu menetap selama 19 tahun di Timur Tengah. Nenek moyang Al-Singkili dipercaya berasal dari Persia (Iran) dan datang ke  Kesultanan Samudera Pasai pada akhir abad ke-13. Mereka kemudian menetap di Fansur (Barus), kota pelabuhan yang penting di pantai Sumatera Barat.
Tidak hanya di Makkah, ia juga mempelajari ilmu agama dan tasawuf di Kota Madinah, di bawah bimbingan guru-guru terkenal. Di Madinah ini pula Abdul Rauf berkesempatan berguru pada khalifah (pengganti) dari tarekat Syattariyah bernama Ahmad Kusyasyi dan juga Maula Ibrahim.
Hal ini terungkap dalam kata penutup salah satu karya tasawuf yang menyebutkan guru dan tradisi pengajaran yang diterimanya. Karya tasawufnya ini juga menjadi model pewarisan sufisme di dunia sufi Melayu.
Dalam laman www.melayuonline.com disebutkan bahwa Abdul Rauf juga berguru di beberapa kota di Timur Tengah meliputi kota-kota di Yaman, Doha di Qatar hingga Kota Lohor di India. Disebutkan pula, Abdur Rauf mengamalkan 11 tarekat, di antaranya Syattariyah, Kadiriyah, Kubrawiyah, Suhrawardiyah, dan Naqsyabandiyah.
Ajaran tasawuf pada banyak karya Abdul Rauf menekankan transendensi Tuhan di atas makhluk ciptaan-Nya. Di mana ia menolak pandangan wujudiyyah, yang menekankan imanensi Tuhan dalam makhluk ciptaan-Nya.
Dalam karyanya yang berjudul Kifayat Al-Muhtajin, ia berpendapat bahwa Tuhan menciptakan alam semesta. Makhluk ciptaan-Nya sebagai wujud yang mutlak tetap berbeda dari Tuhan. "Diumpamakan dengan tangan dan bayangan, walau tangan sulit dipisahkan dengan bayangan, bayangan bukan tangan yang sebenarnya," jelas dia.
Secara umum dan mudah dipahami bahwa Abdul Rauf ingin mengajarkan tentang harmoni antara syariat dan sufisme. Keduanya harus bekerja sama. Hanya melalui kepatuhan pada syariat maka seorang yang berada di jalan sufi bisa menemukan hakikat kehidupannya.
Pandangan ini berseberangan dengan pendekatan Nuruddin Al-Raniri. Namun, ia cenderung memilih jalan damai dan sejuk untuk berinteraksi dengan aliran wujudiyyah. Ia tak secara terbuka menyatakan menentang pandangan-pandangan lain. Jalan damai ini lantas mengurangi pertentangan dalam Islam akibat tafsir yang kurang tepat.
Sejalan dengan kepatuhan total pada syariat, Abdul Rauf berpendapat bahwa dzikir penting bagi orang yang menempuh jalan tasawuf, seperti terkandung dalam karyanya bertajuk Umdat Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufradin, di mana dasar dari tasawuf adalah dzikir yang berfungsi mendisiplinkan kerohanian Islam.
Dalam berdzikir ada dua metode yang diajarkannya, yaitu dzikir keras dan dzikir pelan. Dzikir keras seperti pengucapan "La ilaha illa Allah" sebagai penegasan akan keesaan Sang Pencipta. Dzikir menurut dia bukanlah membayangkan kehadiran gambar Tuhan melainkan melatih untuk memusatkan diri.
Di samping itu, Abdul Rauf berpandangan bahwa tauhid menjadi pusat dari ajaran tasawuf. Pandangan-pandangan dasar Abdul Rauf tentang tasawuf ini tertera dalam kitab Tanbih Al-Masyi. La ilaha illa Allah menurut dia, memiliki empat tingkatan tauhid: penegasan, pengesahan ketuhanan Allah, mengesahkan sifat Allah dan mengesahkan dzat Tuhan.
Abdul Rauf sebelumnya sudah mendapatkan ajaran tentang ilmu tasawuf tentang tarekat Syattariyyah dan tarekat Qadiriyyah. Sampai akhirnya ia diberi ijazah dalam dua tarekat tersebut. Karena itu, ia mendapat gelaran "Syekh" yang artinya pemimpin tarekat. Dalam mempelajari tarekat ini Abdul Rauf juga belajar kepada dua orang guru India yang berada di Tanah Arab; Syekh Badruddin Lahori dan Syekh Abdullah Lahori.
Di bidang syariat, Abdul Rauf menyusun sebuah kitab yang lengkap membahas perkara syariat.
Hasil pemikirannya tentang hal-hal yang terkait permasalahan kehidupan sehari-hari terangkum dalam kitab berbahasa melayu dengan judul Mirat Al-Turab fi Tashil Ma‘rifah Al-Ahkam Al-Syar'iyyah li Al-Malik Al-Wahab (Cermin Para Penuntut Ilmu untuk Memudahkan Tahu Hukum-hukum Syara' dari Tuhan).
Dengan segala pengetahuan dan pemahamannya, Abdul memilih tak membahas tentang tata cara ibadah, melainkan menuliskan pandangannya terhadap hukum atau tata cara yang aplikatif dalam menjalani kehidupan sehari-hari berdasarkan Alquran.
Dalam kitab Mirat Al-Turab dibahas tiga hal utama, yaitu hukum perdagangan dan undang-undang sipil atau kewarganegaraan, hukum perkawinan, dan hukum tentang jinayat atau kejahatan.
Hukum perdagangan dan UU sipil mencakup urusan jual beli, hukum riba, kemitraan dalam berdagang, perdagangan buah-buahan, sayuran, utang-piutang, hak milik atau harta anak kecil, sewa menyewa, wakaf, hukum barang hilang dan lainnya.
Di bidang hukum perkawinan dibahas tentang nikah, wali, upacara perkawinan, hukum talak, rujuk, fasah dan nafkah. Sedang hukum jinayat membahas tentang hukuman pemberontakan, perampokan, pencurian, perbuatan zina dan hukum membunuh.
Dalam bidang tafsir Abdul Rauf menghasilkan karya berjudul Tarjuman Al-Mustafid. Sebuah karya terjemahan Alquran dalam bahasa Melayu dari kitab tafsir yang lain, atau disebut Tafsir Al-Jalalain.
Sampai akhir hayatnya, ia belum sempat menyelesaikan tafsir ini sehingga karya ini lalu diselesaikan oleh muridnya, Daud Rumi, dan beberapa pengarang lainnya.
Merintis tafsir Alquran dalam bahasa Melayu
Seperti tertulis dalam laman www.psq.or.id, disebutkan bahwa hampir semua pengkaji sejarah Alquran dan tafsir di Indonesia sepakat menjadikan Abdul Rauf Al-Singkili sebagai perintis pertama tafsir di Indonesia, bahkan di dunia Melayu.
Tafsir yang bernama Tarjuman Al-Mustafid ini sangat diterima dan mendapat tempat di kalangan umat Muslim. Tidak hanya di Indonesia, tafsir ini pernah diterbitkan di Singapura, Penang, Bombay, Istanbul, Kairo dan Makkah.
Dua pendapat besar dilontarkan para ahli tentang tafsir ini. Pertama, terjemahan tersebut lebih mirip sebagai terjemahan Tafsir Al-Baidhawi, yang juga mencakup terjemahan Tafsir Jalalain. Dan tafsir tersebut mengambil sumber dari berbagai karya tafsir berbahasa Arab.
Kedua, Tarjuman Al-Mustafid adalah terjemahan Tafsir Jalalain. Dan hanya pada bagian tertentu saja tafsir tersebut memanfaatkan Tafsir Al-Baidhawi dan Tafsir Al-Khazin. Lebih khusus disebutkan karya Syekh Abdul Rauf ini sebagai saduran daripada sebagai terjemahan.
Metodologi tafsir yang digunakan Abdul Rauf dinilai sangat sederhana. Tafsir Al-Jalalain yang dikenal sangat ringkas dan padat di tangan Abdul Rauf diterjemahkan menjadi lebih ringkas. Ia menerjemahkan kata per kata tanpa menambahkan pemahaman-pemahamannya sendiri. Penjelasan yang tidak perlu pada Tafsir Al-Jalalain ditinggalkannya.
Waktu tepat kapan tafsir ini disusun tidak pernah diketahui, karena Abdul Rauf tidak pernah menulis angka tahun. Namun, rintisan tafsir ini diabadikan oleh seluruh pencinta tafsir Alquran di Tanah Melayu, dengan menjadikan Tafsir Jalalain sebagai tafsir standar atau tafsir pemula yang dipelajari di hampir seluruh pesantren di Nusantara./ROL

Alm. Ustadz Syegaf Al Jufri dan Wasiatnya

Sabtu lalu (23/7/2011), tepatnya pukul 07.20 WIB, Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri, tokoh yang dituakan komunitas Ahlul Bait di nusantara, tutup usia pada umur 78 tahun. Pada tahun 1932, Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri lahir di kota Solo. Beliau termasuk pengusaha batik sukses. Meski demikian, beliau tidak meninggalkan dunia pendidikan yang ditekuni semenjak muda, bahkan anak-anak.. Di dunia pendidikan, Almarhum Ustadz Syegaf bin Husein Al-Jufri berhutang budi pada sekolah Rabithoh Al Alawiyah dan seorang ulama, Habib Ahmad bin Abdullah Assegaf yang juga sastrawan Arab dan pengarang buku sastra "Fataat Garut." Di masa hidupnya, Ustadz Syegaf menunjukkan kecintaan luar biasa pada ilmu dan ulama. Hal itu tercermin pada rasa hormatnya yang luar biasa kepada Ustadz Husein Al-Habsyi. Beliau juga sangat dekat dengan Ustadz Husein Al-Habsyi. Karena kedekatannya, Ustadz Syegaf menyambungkan tali persahabatan ke ikatan persaudaraan dengan menikahkan putrinya dengan salah satu putra Ustadz Husein Al-Habsyi.
Semasa beliau hidup, Almarhum Ustadz Syegaf mempelajari dan memperdalam buku-buku Ahlul Bait seperti Nahjul Balaghah, Ghurarul Hikam dan Tafsir Mizan, karya Allamah Thathaba'i. Kecintaan Ustadz Syegaf pada ilmu dapat dilihat dari koleksi ribuan buku yang tersimpan di perpustakaan rumahnya. Perpustakaan itu terletak di latar rumahnya yang juga sering dijadikan sebagai pengajian dan diskusi ilmiah.
Di latar rumahnya, Almarhum Ustadz Syegaf seringkali mengadakan pengajian-pengajian umum yang dihadiri ribuan peserta. Selain itu, beliau juga seringkali melakukan diskusi-diskusi ilmiah dalam sekup terbatas untuk mengkaji berbagai topik yang lebih mendalam seperti kajian filsafat.
Selain itu, Ustadz Syegaf juga mempunyai jiwa seni yang luar biasa. Beliau mahir memainkan biola. Bahkan setelah diskusi, para peserta seringkali dihibur dengan kemahiran memainkan biolanya. Karena jiwa seni ini, Ustadz Syegaf tergolong sebagai tokoh yang unik.
Sosok Ustadz Syegaf Al Jufri
Almarhum Ustadz Syegaf Al Jufrie di kalangan komunitas Ahlul Bait lebih cenderung dikenal sebagai tokoh yang dituakan. Bahkan banyak orang yang lebih mengenal beliau dengan panggilan "Ami Syegaf." Ami dalam bahasa Arab berartikan paman. Istilah "Ami" juga seringkali digunakan untuk menghormati orang yang dituakan.
Di masa hidupnya, Ustadz Syegaf benar-benar mencerminkan sosok yang mulia dan sabar. Beliau juga dikenal dengan jiwa yang rendah diri kepada siapapun, khususnya masyarakat kecil. Mahasiswa yang datang bertemu dengan Ustadz Syegaf di rumahnya, selalu ditanya ongkos pulang.
Mengenai kesabaran Ustadz Syegaf, ada cerita menarik yang bisa menjadi tauladan bersama. Ketika salah satu anaknya yang bernama Haidar Al Jufri meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan, beliau berusaha tabah atas peristiwa tersebut. Bahkan beliau memaafkan supir bus yang menabrak mobil yang dikendarai anaknya, tanpa jaminan apapun.
Ketika melihat supir bus di pengadilan, Ustadz Syegaf kepada hakim, dengan tegas menyatakan memaafkan supir bus tersebut. Ketika ditanya anak-anaknya, mengapa harus memaafkan supir bus tersebut, Ustadz Syegaf menjawab, "Kecelakaan itu diluar kehendaknya. Supir itu juga punya keluarga yang harus dihidupi."
Mayor Husein Masyhur yang juga menjadi korban kecelakaan bersama anaknya, bahkan sempat koma hampir satu tahun lebih, melanjutkan ceritanya dan mengatakan, " Supir bus itu bahkan sempat disantuni oleh Ami Syegaf. Padahal Haidar adalah di antara anak kesayangannya dan paling dekat dengan ayahnya." Semua cerita ini menunjukkkan ketabahan, kedermawanan dan perhatian beliau kepada orang kecil seperti supir bus.
Selain itu, Ustadz Syegaf menaruh penghormatan yang luar biasa kepada orang tuanya, khususnya ibu. Di masa kecilnya, keluarga Ustadz Syegaf termasuk miskin. Karena kondisi ekonomi yang sulit saat itu, Ustadz Syegaf bahkan sempat membantu ekonomi keluarga dengan menjual telur asin yang dibuat oleh ibunya ke kampung-kampung. Selaku anak terbesar, Ustadz Syegaf menunjukkan perhatian yang besar kepada adik-adiknya. Di mata keluarganya, Ustadz Syegaf diakui sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, suami yang baik kepada istrinya dan ayah tauladan bagi anak-anaknya.
Di kalangan anak-anak muda, Ustadz Syegaf dikenal sebagai sosok motivator yang baik. Banyak mahasiswa dari Yogya berbondong-bondong mendatangi Ustadz Syegaf untuk mendapatkan motivasi dari beliau.
"Ketika mau berangkat melanjutkan pendidikan ke luar negeri, saya mendapat nasehat sidq al niyah atau ketulusan niat. Nasehat itu benar-benat terngiang hingga kini," kata Muhammad, seorang mahasiswa asal Yogya yang terkenang dengan nasehat Ustadz Syegaf.
Hisyam Suleiman ketika mengenang Ustadz Syegaf Al Jufrie,  mengatakan, "Almarhum Ustadz Segaf Al Jufrie selalu memanggil anak muda dengan panggilan Anakku. Ini menunjukkan rasa cinta yang dalam kepada anak-anak muda."
"Beliau adalah orang yang alim, tapi juga humoris. Anak-anak muda sangat mencintainya. " tambah Hisyam

Wasiat
Sebelum wafat, Ustadz Syegaf sebagai tokoh yang dituakan di kalangan komunitas Ahlul Bait di nusantara, meninggalkan wasiat-wasiat. Sebagaimana disampaikan anak-anaknya, Ustadz Syegaf sebelum meninggal, berpesan untuk menjauhi maksiat, bertakwa kepada Allah Swt, berbakti kepada orang tua serta memohon ampun dan mendoakan kedua orang tua.
Selain itu, Ustadz Syegaf juga berwasiat supaya memupuk belas kasih kepada sesama, tidak boleh merasa paling baik dan benar. Muhammad Adinegoro ketika menjelaskan pesan ayahnya, mengatakan, "Saat berhadapan dengan seseorang, anggaplah orang yang ada di depanmu lebih baik dari kamu."
Bagir Al Jufri dalam menjelaskan pesan ayahnya sebelum meninggal dunia, mengatakan, "Abah (baca; Ayah) selalu berpesan kepada keluarga, sahabat dan komunitas Ahlul Bait supaya selalu menjaga ukhuwah islamiyah dan menghindari segala hal yang bersifat sensitif."
"Jalinlah silaturahmi kepada orang-orang yang memusuhi kita, " jelas Husein Jufri , salah satu anak Ustadz Syegaf, ketika menjelaskan wasiat ayahnya.
Lebih lanjut Husin Al Jufri menjelaskan bahwa ayahnya selama hidupnya mempraktekkan apa yang disampaikannya dalam wasiatnya. Di bulan Ramadhan, Ustadz Syegaf selalu mengadakan acara buka bersama dengan mengundang berbagai kelompok aliran seperti NU, Muhammadiyah, LDII, Al-Irsyad, Majlis Tabligh, MTA, Pondok Ngruki dan berbagai tokoh masyarakat di kota Solo.
Nikmah, salah satu adik Ustadz Syegaf, menjelaskan, "Di hari-hari terakhir,  kakak saya berpesan supaya menjaga ukuwah di kalangan para pecinta Ahlul Bait dan sesama muslim, serta menghindari perpecahan sesama umat Islam dan mengalah kepada ahlul qiblat."
Dalam wasiatnya, Ustadz Syegaf menganjurkan supaya selalu bersemangat untuk mencari ilmu dan menghindari majelis yang sia-sia . Beliau juga menekankan menghindari fanatisme golongan. Bahkan menurut Ustadz Syegaf, fanatisme golongan yang diistilahkannya dengan ashobiah, termasuk perbuatan syirik.
Masih mengenai pesan-pesan beliau,  Damar S Mudrick, salah satu orang yang dekat dengan Ustadz Syegaf Al Jufri, mengatakan, "Ami Syegaf Al-Jufri secara khusus pernah menelpon saya dan menyampaikan wanti-wantinya supaya jangan berpihak ketika ada perselisihan di antara komunitas."
Lebih lanjut Damar mengatakan, "Saya ketika duduk berdua dengan Ami Syegaf pada suatu malam. Tiba-tiba, beliau berpesan bahwa dunia itu menipu. Pesan itu memang sederhana, tapi nasehat itu terus terngiang hingga kini."
Ustadz Syegaf pulang ke rahmatullah pada hari Sabtu, tanggal 23 Juli 2011. Pada hari itu juga, jenazah beliau dimakamkan di kota Solo. Seusai acara pemakaman, seorang ustadz mengenang perhatian besar Ustadz Syegaf atas Hari Al-Quds Sedunia yang diperingati setiap jumat terakhir pada bulan Ramadhan, dan mengatakan, "Meski sakit dalam kondisi infus, tolong bawa saya dalam acara Al-Quds." (IRIB/AR)

Ustadz Husein Al-Habsyi, Pejuang dan Guru Sejati

Ustadz Husein Al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921 M. Pada usia yang masih belia  beliau sudah harus erjuang sendiri karena wafatnya orang tuanya. Adapun Ayah beliau, Sayid Abu Bakar Al-Habsyi yang mempunyai garis keturunan dengan Sayid Ali Al-‘Uraidy putra Imam Ja’far Shodiq a.s. Selanjutnya beliau  diasuh, dididik dan ditempa oleh pamannya yang ‘Alim dan wara’, yakni Ustadz Muhammad Baraja’. Dan dari sinilah kemudian ilmu dan wawasanya berkembang. Berawal dari pendidikan  dasar di Madrasah Al-Khairiyah; sebuah lembaga pendidikan  diniah tertua di Surabaya. Pada umurnya 10 tahun beliau sudah aktif
mengikuti pengajian rutin yang membahas masalah-masalah fiqih, tauhid dan lainnya. kemudian pada usia 12  tahun beliau sudah mampu membaca kitab-kitab Berbahasa Arab.
Setelah lulus akhirnya mengajar di madrasah Al-Khoiriyah, bersama kakaknya, Ustaz Ali Al-Habsyi yang kemudian bersama-sama hijrah ke Pinang Malaysia. Beliau juga pernah berguru kepada;Ustadz Abdul Qadir Balfaqih  (seorang ulama besar dan ahli hadis), Syeh Muhammad Robah Hassuna (seorang ulama dari Qolili, Palestina yang berkhidmat mengajar di madrasah Al Khairiyah), Al-Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad (seorang ulama besar dan terkenal dengan analisa-analisa yang sangat dalam, beliau adalah mufti kerajaan Johor Baru, Malaysia dimasanya), Assayid Muhammad Muntasir Al-Kattani (Ulama’ Maghribi, Maroko) dll.
Di Johor  beliau juga mengajar di madrasah Al –Aththas dalam kurun waktu yang cukup lama, sehingga murid beliau banyak tarsebar di berbagai daerah di Malaysia, dan tidak sedikit pula yang di kemudian hari menjadi ulama dan tokoh penting negeri jiran tersebut .
Setelah beberapa lama tinggal di Malaysia beliau menikah dengan putri pamannya yang bernama Fatimah binti Abdurrahman Al-Habsyi , dan setelah dikaruniahi beberapa putra karena terjadi berbagai peristiwa politik semasa penjajahan Inggris atas semenanjung Malaysia akhirnya dengat sangat terpaksa beliau meninggalkan negeri tersebut dan kembali ke kampung halamannya di Surabaya .
Sepulang dari Malaysia, Ustadz Husein Al-Habsyi memulai aktifitas dakwah dan banyak berkecimpung di dunia politik. Dalam menapaki jenjang karirnya, beliau sempat menduduki kepengurusan teras bersama DR. M. Natsir dalam Partai Syuro Muslimin Indonesia. Bahkan beliau terpilih sebagai Ketua Komisi  Hak Asasi Manusia.
Sekian lama setelah beliau tidak aktif dalam partai, Ustadz Husein mulai berfikir bahwa perjuangan Islam lebih “absah” melalui pendidikan agama bukan “politik praktis”. Dalam pikirannya terbersit keinginan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam.
Sikap beliau yang anti “Barat” dan “Sekularisme” mendorongnya untuk menerapkan sistem pendidikan  dan peraturan yang sangat ketat bagi santri. Ustadz Husein semakin mantap dengan metode pendidikan yang   diterapkan.
Pada tahun 1971 beliau mendirikan Pondok Pesantren di kota Bondowoso Jatim. Keberadaan beliau di Bondowoso sangat menguntungkan bagi perkembangan pendidikan masyarakat di sekitarnya, karena sebagai orator ulung dan ulama’, beliau mampu menjelaskan ajaran Islam dengan baik dan memikat pendengarnya.  Setelah dari Bondowoso, karena berbagai hal, akhirnya  beliau hijrah dan mendirikan  Yayasan Pesantren Islam ( YAPI ) Bangil. Kemudian perkembangan demi perkembangan - disamping karena bertambahnya murid yang cukup banyak - akhirmya  membuka Pesantren-Putra di Kenep-Beji, Pesantren-Putri dan TK di Kota Bangil.
Dari kehidupan beliau, hampir seluruh Waktu, tenaga dan pikirannya beliau tercurah untuk kemajuan para santri. Selain mengawasi jalannya seluruh perkembangan yang terjadi di Pesantren, beliau juga terjun langsung   ke bawah mengajar para santri dalam berbagai disiplin ilmu seperti; Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Tafsir, Tauiyah dan lain-lain, sehingga metodenya mampu membuahkan hasil yang luar biasa bagi anak didiknya. Hal tersebut juga terlihat dari alumni-alumni yang mampu tampil sebagai tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing.
Selain  mereka juga dapat dengan mudah melanjutkan pendidikan di berbagai pendidikan tinggi di luar negeri seperti; Mesir, Pakistan, India, Qatar, Saudi Arabiyah dan negara-negara timur tengah lainnya.
Dalam ceramahnya ustadz Husein Al-Habsyi; baik di hadapan santri maupun di hadapan kaum muslimin  dalam mimbar Jum’at, Idlul Fitri, Idul Adha dan kesempatan-kesempatan lain selalu menekankan akan pentingnya persatuan kaum muslimin, toleransi antar madzhab, memberikan kebebasan berfikir (khususnya bagi para santrinya), sehingga mereka tidak mudah dikotak-kotakkan oleh faham-faham/ aliran-aliran yang sempit.
Dengan aplikasi gagasan-gagasannya, beliau telah mampu menciptakan era baru dalam pemikiran kaum muslimin yang lebih mengedepankan kepentingan-kepentingan Islam di atas kepentingan-kepentingan madzhab atau kelompok. Hal ini terbukti sebagaimana buah hasil didikan beliau pada santri-santrinya yang sekarang tersebar di berbagai belahan bumi Nusantara. Di mana mereka menjadi motor keterbukaan pemikiran dan asatidzah lintas madzhab yang tidak dipersempit oleh pemikiran tertentu yang cupet.
Untuk tujuan yang sama juga, Ustadz Husein Al-Habsyi telah meluangkan waktu-waktunya yang sangat padat dan berharga, untuk mengadakan safari da’wah, menyisir daerah-daerah terpencil kaum muslimin seperti Sorong, pedalaman Ambon, beberapa daerah di Kalimantan, Sulawesi dan Sumatera, bahkan di masa  akhir hayatnya beliau juga menyempatkan pergi ke  negeri Jiran demi meniupkan ruh keterbukaan dan semangat da’wah Islam.
Beliau juga seringkali menghadiri berbagai seminar dan konfrensi- baik di dalam maupun di luar negeri - membahas berbagai masalah fondamentaldan urgen umat Islam seperti seminar pendekatan Sunnah – Syi’ah di Kuala Lumpur Malaysia dll. Dan demi menegakkan dakwah Islam, tidak jarang beliau menghadapi berbagai gangguan, teror dan kesulitan-kesulitan yang dilakukan baik oleh kalangan ulama’ yang sempit wawasanya, kaum awam yang terprofokasi oleh isu-isu menyesatkan maupun oleh penguasa.
Fitnah demi fitnah dilontarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai beliau dan misi Islam yang sedang beliau perjuangkan. Sehingga tidak jarang beliau harus berhadapan dengan penguasa pada zaman itu sampai dijebloskan ke dalam penjara. Namun semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan dan ruh tawakkal yang luar biasa.
Bahkan dengan lapang dada dan hati yang tulus, beliau memaafkan mereka yang karena kejahilan dan ketidaktahuan akan misi Islam yang murni melah melakukan hal-hal yang menyulitkan dan menggangu beliau.
Pemakaman Ust. Husein Al-Habysi
Setelah beliau berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri demi Islam dalam dunia pendidikan dan dakwah, beliau memenuhi panggilan Ilahi ke alam Baqa’ pada  hari Jum’at 2 Sya’ban 1414/ 14 Januari 1994  dirumah beliau Jl. Lumba-lumba Bangil.
Sementara itu ribuan para pentakziah larut dalam duka dan dengan khusyu’ turut mengiringi jenazah beliau   dari rumah duka ke Masjid Jamik Bangil untuk di shalatkan , kemudian menghantar ke pemakaman.
Dan beliau dimakamkan  pada hari Sabtu 3 Sya’ban 1414/15 Januari 1994 di belakang Masjid Tsaqalain yang terletak di komplek Pesantren Putra “Al-Ma’hadul Islami” YAPI, Desa Kenep Beji Pasuruan.
Semoga Allah merahmati dan mengumpulkan beliau bersama orang-orang suci yang beliau cintai, Amin

Imam Ali as dan Musafir Non Muslim

 
Pada hari itu udara kota Kufah sangatlah nyaman. Angin sepoi bertiup perlahan dari arah kota memberikan ketenangan bagi jiwa dan semangat manusia. Seorang musafir bergerak ke arah kota Kufah. Dia telah melewati perjalanan yang jauh untuk mencapai suatu tempat di sekitar Kufah dan kini ia merasa kelelahan. Dia berpikir sendirian, alangkah menyenangkannya jika dia mempunyai teman seperjalanan, supaya dia punya teman untuk berbicara dan tidak merasa lelah akan perjalanan tersebut. Ketika itu pula, tampak  sesosok tubuh dari kejauhan. Sang musafir merasa gembira dan berkata sendirian, "Aku akan bersabar sampai orang itu datang menghampiriku. Mungkin saja dia bisa menjadi teman seperjalananku." Sosok dari kejauhan itu akhirnya mendekat. Ternyata seorang lelaki itu berwajah menarik dan bercahaya. Terlihat senyum terukir di bibir lelaki itu. Ketika keduanya berdekatan, mereka saling bertanya khabar. Ternyata, lelaki itu juga akan pergi ke Kufah. Sang musafir yang kesepian tadi merasa gembira karena kini dia memiliki teman seperjalanan.
Lelaki yang baru tiba itu tidak lain dari Imam Ali as. Tetapi, Imam Ali menyembunyikan identitasnya kepada musafir tersebut. Keduanya sama-sama meneruskan perjalanan. Mereka lalui perjalanan bersama itu sambil berbincang-bincang. Tak lama kemudian, Imam Ali as mengetahui bahwa teman seperjalanannya itu bukan Muslim. Namun, Imam Ali tetap memprlakukannya dengan baik, sampai-sampai lelaki non Muslim itu merasakan persahabatan dan kecintaan terhadap Ali as. Tutur kata dan akhlak Imam Ali sedemikian baiknya sehingga telah meninggalkan kesan kepada lelaki itu, sampai-sampai dia melupakan rasa lelahnya.
Dia lalu berhenti sejenak dan berkata kepada Imam Ali, "Sungguh menakjubkan, kebetulan sejam yang lalu aku memohon teman seperjalanan untuk menemaniku agar beratnya perjalanan ini tidak terasa. Lihatlah betapa Allah telah mengabulkan permintaanku. Sampai kini, aku tidak pernah menemui orang sebaik dan sepintar engkau dalam berbicara."
Imam Ali hanya tersenyum ketika mendengar kata-kata lelaki ini dan  mereka kembali meneruskan perjalanan mereka. Perjalanan itu berakhir dengan dua arah. Satu jalan ke Kufah yang menjadi tempat tujuan Imam Ali as dan jalan kedua merupakan arah yang dituju lelaki non Muslim itu. Imam Ali tidak mengambil jalan ke arah Kufah dan terus berjalan mengikuti teman seperjalanannya. Lelaki itu sibuk berbicara sehingga tidak menyadari hal tersebut. Beberapa saat kemudian, dia menyadarinya dan bertanya, "Sahabatku, engkau telah salah memilih jalan, sewaktu di persimpangan tadi engkau seharusnya memilih jalan ke Kufah."
Imam Ali, "Aku tahu. Tetapi aku ingin mengiringimu sampai engkau menyelesaikan pembicaraanmu." Lelaki itu merasa takjub mendengar ucapan Imam Ali tersebut, lalu berkata, "Akhlakmu sungguh baik sekali. Aku ingin mengetahui lebih banyak tentang dirimu. Sebutkanlah namamu dan apakah pekerjaanmu?"
Imam Ali menjawab, "Sahabatku, aku adalah Ali bin Abi Thalib." Lelaki non Muslim itu yang sudah sering mendengar nama Ali dan mengetahui dia adalah pemimpin umat Islam, amat terkejut. Kebimbangan menyelimuti dirinya. Dia berkata sendirian, "Ya Tuhanku, sejak tadi hingga kini, ternyata aku sedang bersama khalifah umat Islam dan aku tidak mengetahuinya sama sekali.
Lalu, dia berkata kepada Imam Ali as, "Ketawadhu'an dan kebaikan akhlak Anda memang layak mendapat pujian. Apakah mereka yang dididik dengan ajaran Islam memiliki akhlak seperti Anda?"
Pada saat itu jendela ke arah cahaya dan hakikat terbuka di hadapan matanya. Imam Ali as kemudian menyampaikan ajaran Islam kepada musafir itu. Tidak berapa lama kemudian, dengan bimbingan Imam Ali, dia memeluk agama Islam dan bergabung dengan barisan kaum Mukmin. Dengan demikian, kebaikan, kelembutan, dan sifat baik Imam Ali as telah membuka hati lelaki non Muslim itu untuk menerima kebenaran ajaran Islam.
Rasulullah Saw bersabda, "Berlaku baiklah kepada sesama manusia. Mereka menyukai kalian selagi kalian hidup dan menangisi kalian ketika kalian meninggalkan dunia ini." []
Sumber: IRIB Indonesia

Badshah Khan: Tokoh Antikekerasan yang Terlupakan


Judul buku itu adalah Non Violent Soldier of Islam. Judul yang menyiratkan sebuah kenyataan getir bahwa seolah predikat "Non Violent" adalah berita besar kalau terkait dengan Islam. Buku yang saya dapat dari dosen saya ketika berkuliah di Kanada itu mengisahkan tentang sosok luar biasa asal India/Pakistan, Badshah Khan. Disayangkan, memang, di tengah hiruk pikuk gerakan Ahimsa yang dipilih Gandhi dan dikenal luas di dunia, nyaris tidak banyak yang diketahui orang tentang Badshah Khan.
Siapa sebenarnya Badshah Khan? Pria tinggi besar menjulang ini terlahir dari kalangan suku Pashtun, sebuah suku di perbatasan Afghanistan dan Pakistan yang terkenal gemar berperang. Mata dibalas mata seakan melengkapi rumus balas dendam turun temurun di antara suku Pashtun, atau Pashto. Jika nama Pashtun dan Badshah Khan relatif tidak dikenal, tetapi nama Taliban pastilah familiar. Hakikatnya Taliban juga berasal dari suku yang sama.
Namun Badshah Khan adalah sebuah anomali. Ke dalam suku yang memiliki karakter keras dan tak segan membalas dendam ini Khan malah memperkenalkan gagasan perdamaian dan antikekerasan. Bahkan, Khan dan Gandhi adalah kawan sejalan yang sama-sama berjuang untuk kaumnya, untuk kemerdekaan negaranya dari penjajahan kolonial Inggris ketika itu. India belum lagi lahir sebagai sebuah negara.
Di antara gagasan Khan yang luar biasa sekaligus dianggap tidak masuk akal oleh banyak orang di sukunya pada saat itu adalah pembentukan Khudai Khidmat Gar--Pasukan Pelayan Tuhan. Sekelompok orang yang dibentuk bukan untuk berperang bahkan ketika terpaksa harus berhadapan langsung dengan pasukan Inggris, mereka tidak boleh menyandang sebilah senjata pun! Orang-orang gila, begitu komentar banyak orang ketika itu.
Namun memang itulah prinsip Khan yang tidak segera dipahami orang: kekerasan hanya akan menghasilkan kekerasan yang sama. Jadi, dengan cara bagaimana Inggris bisa dihalau jika bukan melalui angkat senjata seperti perjuangan kemerdekaan yang terjadi di banyak tempat? Gerakan tanpa kekerasan adalah satu-satunya jawaban. Prinsip ini sejalan dengan Gandhi yang mempromosikan Ahimsa untuk menghentikan aksi brutal pemerintah kolonial Inggris.
Pelan-pelan gagasan yang semula tampak aneh ini malah mulai menunjukkan hasil. Menghadapi orang-orang yang tidak mau membalas dan mengangkat senjata rupanya membingungkan pihak penjajah. Tentu saja banyak korban jatuh di pihak Khan dengan Khudai Khidmat Gar-nya. Namun, sehebat apa pun tekanan yang diterima, tak satu pun dibalas kembali dengan penyerbuan dan pengerahan pasukan besar-besaran. Seiring waktu Inggris pun mundur dari negeri sari. Kelembutan ternyata memenangkan pertempuran.
Namun, konflik tidak lalu mereda. Daratan besar di Asia Selatan yang luas itu tercabik-cabik di antara kepentingan agama. Peristiwa yang terkenal dengan Partition ini menimbulkan luka sejarah yang luar biasa besar. Migrasi penduduk yang semula bersatu di bawah penjajahan Inggris tercerai-berai di antara kepentingan politik dan pada akhirnya membagi wilayah berdasarkan agama. Umat Hindu membentuk negara India, dan Muslim India pindah ke wilayah di seberangnya dan lalu mendirikan Pakistan.
Bagaimana nasib Gandhi dan Khan? Sesungguhnya kedua tokoh luar biasa yang dengan gerakannya berhasil mengusir koloni penjajah yang bersumpah setia kepada Ratu Inggris ini akhirnya menderita didera kepicikan berpikir kaumnya sendiri. Gandhi tewas oleh pengikut ekstremis Hindu yang tidak sepakat dengan Ahimsa-nya, sementara Khan dipenjarakan oleh para pemimpin Pakistan, republik baru yang ikut dia dirikan dengan menyumbangkan gagasan tanpa kekerasan.
Perjuangan Khan memberi mata baru bagi saya bahwa dunia ini seringkali memang membutuhkan orang-orang gila. Orang-orang dengan gagasan radikal tapi membumi–dapat dipraktikkan. Khan mengajarkan kita dan dengan sangat sukses memberikan contoh bahwa kelembutan mengatasi kekasaran dan kekerasan. Dalam kung fu, ilmu Tai-Chi yang berurat berakar pada gerakan-gerakan yang lembut terbukti mampu menghadapi jurus-jurus keras.
Sebagai seorang Muslim saya sering kali tidak paham dengan banyak pihak lainnya yang mengaku Islam tapi malah berbuat onar bahkan melukai kemanusiaan. Islam sangat menjunjung tinggi martabat manusia dan bahkan penghilangan jiwa itu termasuk dosa kemanusiaan yang luar biasa besar: terhadap siapa pun dan pengikut keyakinan mana pun! Jadi, atas dasar apa tindakan kekerasan itu dilakukan?
Dalam perjalanan pulang ke tanah air saya bertemu seorang mahasiswa teologi yang kuliah di salah satu universitas swasta di Yogyakarta. Bersama kami berdiskusi bahwa yang diperlukan umat beriman saat ini bukanlah lagi soal dominasi-subordinasi. Bukanlah bahwa agama yang satu lebih baik dibandingkan yang lain. Doktrin ini harus secara sadar kita kesampingkan agar bisa bersama-sama mewujudkan gagasan kemanusiaan yang universal. Bukankah sebenarnya hidup yang teramat singkat ini akan lebih baik diisi dengan kenikmatan persaudaraan, kasih sayang dan kerukunan? Sebagaimana pesan Khan, “Dunia saat ini semakin aneh. Anda menyaksikan begitu banyak perusakan dan kekerasan. Sementara kekerasan selalu menciptakan kebencian dan ketakutan.  Saya percaya pada perjuangan tanpa kekerasan dan saya katakan bahwa tak akan pernah ada perdamaian serta ketenangan di dunia ini sebelum prinsip non-kekerasan ini terwujud, karena non-kekerasan itulah cinta yang membangkitkan jiwa manusia."
Persis sebagaimana disampaikan Gandhi, jalan non-kekerasan itu bukan salah satu jalan mewujudkan perdamaian, tapi satu-satunya jalan. (***)
Oleh: Salman Faridi,
Alumni Program Master Islamic Studies UIN Sunan Kalijaga-McGill University, Kanada,
saat ini adalah CEO Bentang Pustaka Yogyakarta.

Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber: Ingin Menjadi Pelayan Al-Qur’an





www.majalah-alkisah.comSalah satu peserta didiknya seorang nenek berusia 76 tahun. Ternyata, si nenek tak bisa membaca Al-Qur’an. Namun karena kesungguhannya, subhanallah, dalam waktu sembilan bulan ia telah hafal Al-Qur’an.

Syaikh Ali Jaber, demikian sapaan akrab Syaikh Ali Saleh Muhammad Ali Jaber, lahir di kota Madinah Al-Muna­warah pada tanggal 3 Shafar 1396 H, bertepatan dengan tanggal 3 Febuari 1976 M. Ia menjalani pendidikan, baik formal maupun informal, di Madinah.
Tahun 1410 H/1989 M, ia tamat ibti­daiyah, tahun 1413 H/1992 M tamat tsa­nawiyah, tahun 1416 H/1995 M tamat aliyah. Tahun 1417 H/1997 M hingga saat ini ia mulazamah (melazimi) pela­jaran-pelajaran Al-Qur’an di Masjid Nabawi, Madinah.
Sedari kecil Ali Jaber telah menekuni membaca Al-Qur’an. Ayahandanyalah yang awalnya memotivasi Ali Jaber untuk belajar Al-Qur’an, karena dalam Al-Qur’an terdapat semua ilmu Allah SWT. Dalam mendidik agama, khusus­nya Al-Qur’an dan shalat, ayahnya sa­ngat keras, bahkan tidak segan-segan me­mukul bila Ali Jaber kecil tidak men­jalankan shalat. Ini implementasi dari hadis Nabi Muhammad SAW yang membolehkan memukul anak bila di usia tujuh tahun tidak melaksanakan shalat fardhu. Keluarganya dikenal sebagai keluarga yang religius.
Di Madinah ia memiliki masjid besar yang digunakan untuk syiar Islam. Se­bagai anak pertama dari dua belas ber­saudara, Ali Jaber dituntut untuk mene­ruskan perjuangan ayahnya dalam syiar Islam. Meski pada awalnya apa yang ia jalani adalah keinginan sang ayah, lama-kelamaan ia menyadari itu sebagai ke­butuhannya sendiri. Tidak mengheran­kan, di usianya yang masih terbilang be­lia, sebelas tahun, ia telah hafal 30 juz Al-Qur’an.
Sejak itu pula Syaikh Ali memulai ber­dakwah mengajarkan ayat-ayat Allah SWT di masjid tersebut, kemudian belanjut ke masjid lainnya. Selama di Madinah, ia juga aktif sebagai guru tahfizh Al-Qur’an di Masjid Nabawi dan menjadi imam shalat di salah satu masjid kota Madinah.
Tahun 2008, ia melebarkan sayap dakwahnya hingga ke Indonesia. Kebe­tulan ia menikahi seorang gadis shalihah asli Lombok, Indonesia, bernama Umi Nadia, yang lama tinggal di Madinah. Pada tahun yang sama, ia melaksana­kan shalat Maghrib di masjid Sunda Ke­lapa Jakarta Pusat. Selepas shalat ada salah seorang pengurus masjid memin­tanya untuk menjadi imam shalat Tara­wih di masjid Sunda Kelapa, karena saat itu hampir mendekati bulan Ramadhan.
Sejak itulah ia terus mendapat keper­cayaan masyarakat di sejumlah tempat di Indonesia. Demi menunjang komuni­kasinya dalam  berdakwah, ia pun mulai belajar bahasa Indonesia.
Diterima Semua Kalangan
Kini, aktivitas ayah satu orang anak ini semakin padat, di antaranya meng­ajar tahfizh Al-Qur’an di Islamic Centre Cakranegara, Lombok, NTB, sekaligus men­jadi imam besar dan khatib, imam shalat Tarawih, dan pembimbing tadarus Al-Qur’an selama Ramadhan 1429 H/2007 M, di Masjid Agung Al-Muttaqin Cakra­negara, serta imam shalat ‘Idul Fithri 1429 H di Masjid Agung Sunda Ke­lapa, Menteng, Jakarta Pusat, pengajar di Pesantren Tahfidz Al-Qur’an Al-Asykar, Puncak, Jawa Barat, muballigh pada beberapa majelis ta’lim di Jakarta dan sekitarnya. Ia juga berdakwah me­lalui media bersama Ustadz Yusuf  Man­sur melalui program Nikmatnya Sedekah di salah satu stasiun televisi swasta, dan Indonesia Menghafal.
Sebagai seorang hafizh, ia begitu meng­inginkan agar banyak di antara umat Islam Indonesia juga dapat hafal Al-Qur’an. Ia ingin menjadi khadimul Qur’an, pelayan Al-Qur’an, yang meng­abdikan dirinya untuk mengajarkan Al-Qur’an.
Menurutnya, semua bisa hafal Al-Qur’an, bahkan hafal Al-Qur’an itu mu­dah. Yang sulit adalah mengamal­kan­nya.
Tahun 2009-2010 ia pernah menda­tangkan keluarganya untuk membantu program menghafal Al-Qur’an di Indo­nesia. Kesebelas adiknya, baik yang laki-laki maupun perempuan, juga hafal Al-Qur’an.
Kini ia baru menyadari manfaat di­dikan orangtuanya yang keras dalam mengajarkan agama. Syaikh Ali benar-benar merasakan manfaatnya dalam belajar Al-Qur’an. “Saya merasa bersyu­kur atas pendidikan yang diberikan orangtua kepada saya,” katanya.
Ia berharap bisa bermanfaat untuk umat Islam dan juga untuk dirinya sen­diri, dan meraih ridha Allah SWT. Syaikh Ali juga merasa bersyukur bisa begitu diterima semua kalangan, baik masya­rakat maupun pejabat. “Ini semua tidak terlepas dari kekuasaan Allah SWT dan berkah Al-Qur’an serta orangtua. Allah SWT berjanji akan mengangkat dan me­ninggikan orang-orang yang menekuni Al-Qur’an.”
Hafal Al-Qur’an itu Mudah
Di Indonesia, ia memiliki program mudah menghafal www.majalah-alkisah.comAl-Qur’an. Hanya de­ngan waktu enam bulan kita bisa hafal Al-Qur’an, karena pada dasarnya meng­hafal itu memang mudah. Bahkan de­ngan ketekunan dan kesungguh-sung­guhan bisa hafal Al-Qur’an dengan wak­tu yang lebih singkat.
Salah satu metode menjaga hafalan adalah menyimpan hafalan melalui sha­lat sunnah qabliyah dan shalat sunnah malam dengan membacanya. Ada juga dengan membacanya sesaat sebelum tidur. Menurutnya, ini cara terbaik. Esok hari, ketika bangun tidur, insya Allah hafalan Al-Qur’an-nya tidak hilang.
Sebetulnya tidak ada syarat khusus bagi yang ingin menghafal Al-Qur’an, karena semua umat Islam bisa hafal Al-Qur’an, baik tua maupun muda, bisa mem­baca Al-Qur’an atau tidak. Terbukti, beberapa tahun silam, ketika ia masih di Madinah, ada salah satu peserta didiknya seorang nenek berusia 76 ta­hun. Si nenek ternyata juga tak bisa membaca Al-Qur’an. Namun karena kesungguhannya, subhanallah, dalam waktu sembilan bulan ia telah hafal Al-Qur’an.
Kejadian ini menunjukkan bahwa Al-Qur’an itu diturunkan memang mudah dipahami oleh umat-Nya. Ini sesuai janji Allah SWT. Hanya saja, mereka yang sudah lancar membaca Al-Qur’an akan semakin mudah menghafal Al-Qur’an. Kini sang nenek ini telah tiada, ia me­ning­gal dunia ketika sedang melak­sana­kan shalat malam. Allahummaghfirlaha warhamha....
Menurut Syaikh Ali, belakangan sis­tem mudah menghafal Al-Qur’an sudah tumbuh subur. Karena memang sebetul­nya menghafal Al-Qur’an itu mudah. Yang sulit itu adalah memahami kan­dungan Al-Qur’an dan mengamalkan­nya. Inilah mukjizat Al-Qur’an, mudah dihafalkan.
Menurut Syaikh Ali Jaber, ada empat target ahli Al-Qur’an: menghafal Al-Qur’an, istiqamah membaca Al-Qur’an, memahami isi kandungan Al-Qur’an, dan terakhir mengamalkan isi kandungan dalam Al-Qur’an. Allah SWT melarang berdusta, maka jangan berdusta. Allah SWT melarang memakan harta riba, ma­ka jangan melakukannya.
Allah SWT akan membuka rahasia keutamaan sesuatu setelah seseorang berani berkorban empat hal, yaitu waktu, tenaga, harta, dan pikiran. Berapa lama waktu yang telah dihabiskan untuk menghafal Al-Qur’an. Begitu juga te­naga, berhari-hari, bahkan sampai ada yang bertahun-tahun rela mengorban­kan tenaganya untuk menghafalkan Al-Qur’an tanpa lelah. Kemudian harta yang dimiliki juga ia rela korbankan untuk menghafal Al-Qur’an, baik untuk mem­bayar tenaga atau guru, akomodasi diri sendiri, maupun untuk sedekah. Dan ter­akhir pikiran. Ketika menghafalkan Al-Qur’an, sese­orang hendaknya memu­sat­kan pikiran­nya agar target menghafal­nya sesuai dengan yang telah diren­canakan.
Fenomena yang banyak terjadi, me­nurutnya, umat hanya menginginkan yang serba cepat, tapi tanpa mengor­bankan waktu, tenaga, uang, dan pikir­an, untuk menghafal Al-Qur’an. Berbagai program dan metode canggih seperti yang telah dipaparkan oleh Syaikh Ali sekalipun tetap membutuhkan waktu dan keseriusan, tidak bisa hanya sekali atau dua kali saja.
Sebagai kitab suci, Al-Qur’an memi­liki peran yang sangat penting dalam kehidupan umat Islam. Terlebih bagi para pendakwah. “Dalam berceramah, kita selalu mengutip ayat suci Al-Qur’an. Kurang sempurna peran seorang mubal­ligh bila dalam setiap seruannya kepada umat Islam tidak mendasarkannya pada dalil kalamullah dan kalam Rasulullah SAW,” kata Syaikh Jaber.
SEL*AP

Baitul Hikmah dan Peranannya Terhadap Peradaban Islam



 
Baitul Hikmah hancur diratakan dengan tanah, dan buku-bukunya dibuang sungai oleh tentara Mongol

Oleh: Jauhar Ridloni Marzuk

KEMAJUAN
sebuah peradaban biasanya berbanding lurus dengan penguasaan ilmu pengetahuan. Mesir Kuno pada abad ke-5 sebelum Masehi, mampu memimpin dunia dengan penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak dimiliki oleh bangsa lainnya. Di masa ketika manusia masih masih primitif, Mesir telah mampu membangun irigasi secara teratur, menguasai ilmu seni pahat dengan lukisan dan patung-patung dewa yang mempesona, ilmu astronomi hingga arsitektur. Bahkan menurut sebagian sejarawan, huruf hyeroglif yang dipakai saat itu adalah sususan huruf pertama yang digunakan oleh manusia.

Faktor seperti ini juga yang menjadi sebab gemilangnya peradaban–peradaban setelahnya, seperti Yunani; Persia, Romawi hingga Islam.
Peradaban Islam mencapai puncak kejayaanya pada masa Dinasti Abbasiyah. Di masa ini, Islam menjadi kiblat peradaban dunia. Ketika Barat dan belahan dunia lainnya masih dirundung konflik dan penderitaan yang tidak kunjung berakhir, Baghdad telah menjelma menjadi kota paling metropiltan di dunia. Taman-taman indah menghiasi setiap sudut kota, lampu penerang bertebaran, bangunan-bangunan cantik dengan arsitektur mengagumkan berdiri di sekeliling kota.

Penyebabnya bukan karena luas wilayah kerajaan yang mencapai 2/3 dunia, tapi karena penguasaan ilmu pengetahuan yang tidak ada tandingannya.
Pada masa ini seniman, teknokrat, ilmuwan, pujangga, filsuf, dan saudagar berkontribusi terhadap perkembangan di bidangnya masing-masing. Ilmu agama, kesenian, industri, hukum, literatur, navigasi, filsafat, sains, sosiologi, dan teknik mengalami perkembangan yang sangat pesat. Pada masa ini juga lahir sebuah institusi keilmuan modern pertama di dunia yang menjadi cikal bakal perkembangan ilmu pengetahuan ini; Baitul Hikmah.
Nama Baitul Hikmah diambil dari kata ha-ka-ma- yang artinya bijaksana. Dari kata ini juga keluar isitlah Hakim (orang yang bijaksana). Hal ini bukan tanpa alasan, menurut Prof. Dr. Nazeer Ahmed, ini dikarenakan dalam Islam, seorang ilmuan bukan hanya orang yang melihat alam dari luar, tetapi dia adalah orang bijak (man of wisdom) yang melihat alam dari dalam dan menyatukan antara ilmu pengetahuan yang dia dapat ke dalam pokok-pokok dasar segala sesuatu.
Jadi inti dari seorang ilmuan bukanlah terpaku pada pengetahuan untuk mencari ilmu pengetahuan, tetapi realisasi dari dasar-dasar pokok itu untuk menyerap ciptaan Tuhan dan keteraturan alam yang menunjukkan kebijaksanaan Tuhan.
Baitul Hikmah didirikan oleh Khalifah Harun Ar Rashid pada tahun 813 M dan terletak di jantung kota Bahgdad. Walaupun pada awalnya hanya sebuah perpustakaan, tetapi Baitul Hikmah bukanlah perpustakaan seperti yang kita kenal saat ini. Baitul Hikmah bahkan lebih menyerupai universitas. Di sini adalah tempat pertemuan para intelektual, pusat kajian dan diskusi, sanggar terjemah, laboratorium penelitian, dan tempat penerbitan buku.
Baitul Hikmah menjadi pusat pertemuan ilmu-ilmu pengetahuan dari Barat (Yunani) dan dari Timur (India, Persia dan China) yang selanjutnya dikembangkan oleh para cendekiawan Islam menjadi berbagai ilmu pengetahuan, seperti matematika, filsafat, astronomi, kedokteran, fisika bahkan juga metafisika.
Di tempat ini, buku-buku dari Barat dan Timur dikaji, didiskusikan, dikritisi, diterjemakan dan dan kemudian ditulis ulang.
Dari India misalnya, berhasil diterjemahkan buku-buku Kalilah dan Dimnah maupun berbagai cerita Fabel yang bersifat anonim. Berbagai dalil dan dasar matematika juga diperoleh dari terjemahan yang berasal dari India. Selain itu juga diterjemahkan buku-buku filsafat dari Yunani, terutama filsafat etika dan logika. Sedangkan karya-karya satra diambil dari Persia.
Kemajuan ilmu pengetahuan bukan hanya pada bidang ilmu eksakta saja, ilmu-ilmu Naqli seperti Tafsir, Teologi, Hadits, Fiqih, Ushul Fiqh dan lain-lain juga mengalami perkembangan signifikan. Perkembangan ini memunculkan tokoh-tokoh besar dalam sejarah ilmu pengetahuan, seperti; Al-Kindi, Al-Khwarizmi, Muhammad Jakfar bin Musa, Ahmad bin Musa, Abu Tammam, Al-Jahiz, Ibnu Malik At-Thai, Abul Faraj, Al-Farabi, Ibnu Sina, Al-Biruni, Ibnu Misykawaih, hingga sejarawan besar Ibnu Khaldun sebagian ulama yang belajar di Baitul Hikmah. Mereka lah yang berpengaruh besar terhadap perkembagan ilmu pengetahuan selanjutnya, bukan hanya untuk Islam tapi juga Barat dan Eropa.
Setelah meninggalnya Harus Ar-Rashid, pemeliharan Baitul Hikmah kemudian dilanjutkan oleh penerusnya, Al-Ma’mun.
Tidak kalah dengan pendahulunya, di masa Al-Makmun, Baitul Hikmah terus mengalami kemajuan. Al-Makmun mengundang para ilmuwan di seluruh dunia Islam untuk berbagi ide, informasi, dan pengetahuan di perpustakaan ini. Ketertarikannya terhadap filsafat juga mendorongnya melakukan terjemah besar-besaran terhadap karya-karya dari Yunani.
Baitul Hikmah terus mengalami perkembangan di masa setelah Makmun, Al-Mu’tashim dan Al-Watsiq, namun mengalami kemerosotan di masa Al-Mutawakkil, dan kemudian musnah pada masa Al-Musta’shim akibat serangan tentara Mongol yang dipimpin oleh Hulagu Khan, cucu Genghis Khan, pada tahun 1258.
Namun Baitul Hikmah hancur diratakan dengan tanah, dan buku-bukunya dibuang sungai. Konon, warna air Sungai Tigris yang melalui Bagdad, berubah menjadi merah dan hitam selama seminggu. Merah dari darah para ilmuwan dan filsuf yang terbunuh, sedangkan hitam dari tinta buku-buku berharga koleksi Baitul Hikmah yang luntur setelah dibuang ke sungai itu.*
Penulis sedang kuliah di Al Azhar, Mesir. Aktif di Pusat Kajian Pemikiran dan Peradaban Islam, Nun Centre

Red: Cholis Akbar

Menengok Kejayaan Islam di Andalusia: Mungkinkah Kembali?



 
Perkembangan khasanah ilmu di Cordova


Oleh: Nuim Hidayat
KEJAYAN Andalusia tidak bisa dilepaskan dari peranan besar Khalifah Bani Umayah yang pertama di sana. Abdul Rahman I (756-788M) adalah seorang pemimpin yang terpelajar, berwibawa dan amat meminati bidang kesusasteraan. Karena begitu cintanya pada bidang ini, ia mendirikan satu tempat khusus di dalam istananya yang diberi gelar "Darul Madaniyat" untuk kegiatan kesusasteraan kalangan wanita Andalus.
Pada zaman Abdul Rahman I, golongan cerdik pandai dan alim-ulama begitu dihormati dan dipandang tinggi oleh pemerintah, para pembesar dan masyarakat Andalus. Pemerintah telah memberi penghormatan yang tinggi kepada ulama dari Timur seperti al-Ghazi Ibn Qais dan Abu Musa al Hawari untuk menyampaikan ilmu agama di sana.
Dr Salmah Omar dalam disertasinya tentang "Andalus Semarak Tamadun di Eropah" menyatakan: “Pengganti Abdul Rahman I (788-796M) juga seorang pemerintah yang menitikberatkan kegiatan keilmuan. Pada zaman pemerintahannya, beliau telah membina beberapa buah sekolah untuk mempelajari bahasa Arab yang juga bahasa rasmi Andalus pada waktu itu. Jasa beliau yang paling besar dalam perkembangan keilmuan ialah perluasan penggunaan bahasa Arab dalam kehidupan seharian termasuklah urusan keagamaan di gereja, sekaligus melemahkan penggunaan bahasa Latin di seluruh semenanjung Iberia. Beliau juga Berjaya menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa lingua franca dalam hubungan antarbangsa pada zamannya dan zaman berikutnya." (Joesoef Sou’yb, 1972:47)”

Pada zaman pemerintahan Abdul Rahman II (822-852M), kemajuan dan perubahan banyak dilakukan pula. Ia membangun banyak gedung sekolah dan institusi-institusi keilmuan bagi orang yang tidak mampu. Institusi ini dibangun di kota-kota penting dan ditanggung sepenuhnya biayanya oleh pemerintah. Ia kemudian membina Cordova sebagai tempat keilmuan dan prasananya. Iamembangun tempat untuk cendekiawan berdiskusi, masjid, jembatan dan taman yang indah serta perpustakaan yang bagus di kota tersebut.
Hal itu terus dikembangkan pemerintah berikutnya. Dr Salmah, mengutip FO Callaghan menceritakan: “Semasa abad pemerintahan khalifah, Cordova menjadi saingan sebenar kepada Baghad sebagai pusat kebudayaan dunia Islam. Khalifah Abdul Rahman III dan al Hakam II adalah dua ilmuan yang menyambut mesra sarjana dari Eropa, Afrika dan Asia.”
Usaha-usaha penerjemahan buku juga aktif dilakukan pemerintah. “Abdul Rahman III telah meneruskan usaha-usaha menaungi kegiatan penerjemahan yang telah dimulakan oleh Abdul Rahman II. Ramai sarjana yang berbakat di Andalus dan Timur berkumpul di istana beliau dan mereka diberi ganjaran yang lumayan. Sebagai contoh. Beliau bermurah hati member kurniaan kepada para sarjana Yunani dan Yahudi seperti Nicolas dan Hasdai. Pada zaman pemerintahan beliau, banyak hasil karya Yunani telah diterjemah ke dalam bahasa Arab dan ada juga beberapa buah karya asal dalam bahasa Arab meliputi pelbagai bidang ilmu pengetahuan.” (Salmah Omar, 2009:16).
Pada masa pemerintahannya ini, penduduk Cordova telah meningkat menjadi lebih 500 ribu orang dan dengan terbangunnya universitas-universitas, penerbitan buku-buku, industri kertas dan berbagai kegiatan intelektual, maka ia menjadi  kota yang maju berbanding kota lain di Asia dan Eropa.
Dr Salmah, dosen di UPM Serawak Malaysia ini melanjutkan: “Pada zamannya Universiti Cordova telah diperbesar dan dipertingkatkan peranannya sehingga muncul sebagai universiti yang terbaik dan terbesar di dunia. Universiti Cordova ini telah berupaya menandingi Universiti Al Azhar di Kaherah (Kairo) dan Nizamiyah di Baghdad. Ia telah Berjaya menarik ramai pelajar sama ada Kristian, Yahudi dan Islam, bukan sahaja dari Andalus tetapi juga dari Negara-negara di Eropa, Afrika dan Asia.”

Begitu juga khalifah al Hakam II sangat cintakan ilmu pengetahuan dan buku-buku. Di perpustakaan miliknya terdapat lebh dari 400ribu buah buku dan 44 katalog yang kebanyakan sudah dibacanya.  Ia juga senang memberi catatan terhadap buku-buku itu.

Pemerintah al Muwahiddun yang meneruskan kekuasaan setelah Bani Umayah jatuh pada 1031M, juga melanjutkan aktivitas keilmuan di sana. Mereka turut serta dalam memperkenalkan pemikiran Asyariyah dan Imam Ghazali. Pemerintah saat itu berusaha gigih mengumpulkan para cendekiawan dari seluruh dunia untuk mengisi tenaga-tenaga pengajar pada universitas-universitas yang mereka dirikan.

Khasanah Ilmu
Universitas Cordova yang letaknya di Masjid Cordova adalah tempat yang paling baik untuk belajar pada saat itu. Saat itu telah ada jurusan astronomi, matematika, kedokteran, teologi dan undang-undang/hukum. Amir Hasan Siddiqi sebagaimana dikutip Salmah menyatakan: “Pada abad ke-10 M Apabila Cordova (ibu Negara kerajaan Umaiyah Spanyol) mula menyaingi Baghdad, pasang surut aliran budaya  dan pembelajaran yang bertimbal balik. Semasa abad yang berikutnya, bertambah ramai lagi pelajar dari wilayah Islam Timur dan Kristian Eropah berduyun-duyun datang ke Universiti Cordova, Toledo, Granada dan Seville untuk menimba ilmu dari perigi ilmu pengetahuan yang mengalir ke sana dengan banyak sekali.”

Granada muncul sebagai pusat pemerintahan Islam dan perkembangan keilmuan yang terpenting di sebelah barat Andalusia. Universitas Granada dibangun oleh Sultan Yusuf I pada tahun 1349M. Universitas itu terkenal dengan panggilan Darul Ilm atau al Madrasah an Nasriyyah.  Ia mempunyai beberapa jurusan seperti undang-undang/hukum, kedokteran, kimia, falsafah dan astronomi.

Buku adalah satu hal yang terpenting dalam menunjang keberadaan universitas, Saat itu, menurut Dr Salmah, Andalus menjadi pusat penerbitan buku yang terbesar di Eropa. Dari Andalus, perusahaan membuat kertas tersebar ke Italia dan Prancis serta kemudian ke seluruh Eropa. Sebelum terjadi Perang Salib, buku dan kertas menjadi warisan Islam Andalus kepada Eropa Barat.

Philip K Hitti seperti dikutip Salmah menggambarkan kejayaan Andalusia ini : “Sambil sains Arab merosot di bumi Islam Timur, ia berkembang maju di Baratnya. Bandar raya Cordova mengambil alih tempat Baghdad sebagai pusat pembelajaran, sementara Toledo dan Seville pula berkongsi dalam keintelektualan. Sarjana Arab Sepanyol membangun di atas asas yang disediakan oleh rekan seagama mereka di Iraq, Syria, Mesir dan Parsi. Zaman keemasan mereka meliputi secara kasarnya dari abad ke-11 hingga 12.”

Mengutip Anwar G Chejne, Salmah menggambarkan keindahan Cordova: “Pada abad ke-10 M, Cordova mengatasi keindahan Constantinople, dengan hospital, university, masjid dan istana yang sungguh cantik, perpustakaan awam, kolam mandi awam dan taman dengan persiaran yang sangat indah. Semua kemudahan itu ada di Bandar raya utama Negara Sepanyol Islam, dan ia membantu mewujudkan persekitaran intelektual yang melahirkan bijak pandai agung Andalusia.”
Perpustakaan umum dibangun di setiap wilayah Andalusia. Di kota Cordova saja terdapat sebanyak 70 buah perpustakaan umum yang bisa digunakan oleh seluruh masyarakat di situ.
Tokoh ulama yang terkenal di Andalusia, saat itu antara lain: Ibnu Rush, Ibnu Hazm, Ibnu Abdil Barr dan Qadi Iyad.  Ibnu Rush (1126-1198M) seorang dokter dan ahli hukum yang terkenal di masanya. Ia telah mengumpulkan ensiklopedia perobatan dan beberapa komentarnya tentang Aristotle, ringkasan dan resumenya menjadi buku teks selama beratus-ratus tahun. Karyanya yang terkenal Bidayatul Mujtahid; dan Tahafut al Tahafut yang menjawab Tahafut al Falasifah karya Imam Ghazali.
Ibnu Hazm (994-1064M) terkenal dengan karyanya al Muhalla, al Fasl fil Milal wan Nihal, Risalah fi Ushululil Fiqh dan al Ahkam fi Ushulil Ahkam. Ibnu Abdil Barr (978-1070M) dengan karya agungnya al Isti’ab lis Shahabah dan al Humaydi. Sedangkan Qadhi Iyad yang terkenal pada abad ke-12, adalah seorang ulama pakar dalam bidang hadits, fiqh dan sejarah. Ia telah menghasilkan kitab sedikitnya 20 buku tentang hal tersebut. Ia merupakan tokoh dalam mazhab Maliki dan pernah bertugas sebagai penasihat kerajaan al Murabitun.
Kapankah tradisi dan khasanah ilmu itu kembali lagi?*
Penulis buku "Imperialisme Baru"(GIP)
Rep: Administrator
Red: Cholis Akbar

Umar bin Abdul Aziz: Umara yang Ulama



 
Foto Ilustrasi

Oleh: Nuim Hidayat
SUATU ketika sahabat Abdullah bin Zubair berkata, “Suatu malam aku sedang menemani Umar bin Khattab berpatroli di Madinah. Ketika ia merasa lelah, ia bersandar ke sebuah dinding di malam gelap buta, Ia mendengar suara seorang wanita berkata kepada putrinya, ‘Wahai putriku, campurlah susu itu dengan air.’ Maka putrinya menjawab, ‘Wahai ibunda, apakah engkau tidak mendengar maklumat Amirul Mukminin?’ Ibunya bertanya, ‘Wahai putriku, apa maklumatnya?’ Putrinya menjawab, ‘Dia memerintahkan petugas untuk mengumumkan, hendaknya susu tidak dicampur dengan air.’ Ibunya berkata, ‘Putriku, lakukan saja, campur susu itu dengan air, kita di tempat yang tidak dilihat oleh Umar dan petugas Umar.’ Maka gadis itu menjawab, ‘Ibu, Amriul Mukminin memang tidak melihat kita. Tapi Rabb Amirul Mukminin melihatnya.“
Umar mendengar perbincangan ibu dan anak itu. Maka ia menugaskan pengawalnya untuk menandai rumah itu dan mencari informasi lebih lanjut tentang anak gadis itu. Setelah itu, Umar kemudian memanggil putra-putranya dan mengumpulkan mereka, Umar berkata, ‘Adakah di antara kalian yang ingin menikah?’ Ashim menjawab, ‘Ayah, aku belum beristri, nikahkanlah aku.’ Maka Umar meminang gadis itu dan menikahkannya dengan Ashim. Dari pernikahan inilah lahir seorang putri yang di kemudian hari menjadi ibu bagi Umar bin Abdul Aziz. Sedangkan ayahnya adalah Abdul Aziz bin Marwan, salah seorang gubernur yang shaleh dari Bani Umayah.
Umar bin Abdul Aziz terkenal dengan kezuhudannya, kealimannya dan kepeduliannya yang tinggi terhadap urusan rakyat. Suatu ketika seorang penduduk mengadukan kepada Umar tentang nasibnya. Ia melaporkan bahwa ada pejabatnya yang telah merampas toko-tokonya. Pejabat itu lantas dipanggil Umar dan kemudian ia memerintahkan pejabat itu untuk mengembalikan toko itu kepada penduduk yang memilikinya. Tapi pejabat itu bandel, ia tidak menaati perintah Umar.
Khalifah Umar kemudian memanggil polisinya dan mengatakan, ”Jika dia mengembalikan toko itu kepada pemiliknya, maka tinggalkanlah dia. Tetapi bila orang itu (pejabat) masih membangkang juga, maka pancunglah kepalanya.” Karena ancaman yang keras itu, akhirnya pejabat itu mengembalikan toko itu kepada pemiliknya.
Kiai Firdaus AN dalam bukunya "Kepemimpinan Khalifah Umar bin Abdul Aziz" menceritakan, di masa Umar bin Abdul Aziz, terjadi fitnah adanya ‘saling mencaci’ antara pengikut Sayidina Ali dan Bani Umayah. Pencacian itu kadang-kadang dilakukan di mimbar-mimbar. Umar bersedih, karena ia mengetahui kehebatan dan kealiman Sayidina Ali. Maka kemudian ia memerintahkan kepada rakyatnya untuk menghentikan pengutukan terhadap Sayidina Ali dan menyuruh para khatib untuk menggantinya dengan membaca surah an Nahl ayat 90 dan atau surah al Hasyr ayat 10.
“Sesungguhnya Allah menyuruh berbuat adil dan berbuat kebajikan (ihsan), member kepada kaum kerabat, dan Allah melarang perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia member pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS: an Nahl 90)
“Ya Tuhan kami beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan Kami sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (QS: al Hasyr 10)
Untuk menjaga keadilan dan kelancaran administrasi Negara, maka Umar bin Abdul Aziz melarang para gubernur dan pejabat-pejabat berdagang untuk kepentingan pribadi, keluarga maupun familinya.
Umar menulis surat berikut: “Kami berpendapat, bahwa seorang Imam (pemimpin Negara) tidak pantas untuk berdagang. Begitu pula tidak halal bagi seorang gubernur untuk berdagang di dalam wilayah kekuasannya. Karena seorang Amir bila ia berdagang ia akan mudah melakukan monopoli dan membenarkan perbuatan yang merusak Negara, sekalipun ia berusaha keras untuk tidak berbuat demikian.”
Untuk itu, agar para pejabatnya tidak berbisnis dan tidak menyelewengkan uang negara, maka Umar memberikan gaji yang cukup tinggi kepada para pejabatnya. Karena begitu makmurnya Negara saat itu, hingga gaji para pejabat itu sampai ada yang berjumlah tiga ratus Dinar.
Memang kemakmuran dan keadilan mewarnai Negara pada saat itu. Yahya Ibnu Said berkata, ”Umar bin Abdul Aziz telah mengutus aku ke Afrika Utara untuk membagi-bagikan zakat penduduk di sana. Maka aku laksanakanlah perintah itu. Lalu aku cari orang-orang fakir untuk kuberikan zakat itu pada mereka. Tetapi kami tidak mendapatkan seorangpun juga dan kami tidak menemukan orang-orang yang menerimanya. Umar betul-betul telah menjadikan rakyatnya kaya. Akhirnya kubeli dengan zakat itu beberapa orang hamba sahaya yang kemudian kumerdekakan.”
Meski rakyatnya kaya, Umar hidup sederhana. Kezuhudannya terkenal di seluruh penjuru wilayahnya. Ia memberi anak-anaknya pakaian dan makanan yang sederhana. Sering anak-anak perempuannya disuguhi dengan makanan kacang dan bawang merah, sambil dia menangis dan berkata, ”Apa gunanya wahai anak-anakku. Kalian hidup dengan mengecap bermacam-macam makanan yang lezat, tetapi yang mempersiapkan itu karenanya pergi masuk neraka.”
Umar memang umara yang sekaligus ulama. Pendalamannya yang mendalam terhadap agama, menjadikannya pemimpin yang adil, bijaksana dan menjadikan Islam bersinar terang karena pemimpin dan masyarakat menerapkannya bersama. Ia bukan pemimpin yang zalim yang menyebabkan agama menjadi rusak. Dalam Mukhtarul Haditsun Nabawiyyah, Sayyid Ahmad Hasyimi mengutip hadits Rasulullah saw: “Pernyakit agama ada tiga: orang yang faqih tapi fajir (suka berbuat dosa besar), imam yang jair (suka berbuat zalim) dan mujtahid yang jahil (bodoh).” (HR Ad Dailami dari Ibnu Abbas).
Karena itu, kakeknya Umar bin Khattab pernah memberi nasehat kepada rakyatnya. ”Perdalamlah ilmu agama, sebelum kamu menjadi pemimpin.” (tafaqqahu qabla an tusawwadu).
Dan Umar bin Abdul Aziz pernah memberi kepada gubernur-gubernurnya: “Adapun kemudian daripada itu, Allah Azza Wajalla telah memuliakan pemeluk-pemeluknya dengan agama Islam, menjunjung tinggi mereka serta menghormatinya. Sebaliknya mengecilkan dan merendahkan martabat orang-orang yang menentang mereka itu. Dan Allah telah menjadikan mereka sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk kepentingan umat manusia. Dari itu janganlah sekali-kali kalian menyerahkan kepemimpinan mereka kepada orang-orang dzimmi. Karena nanti mereka membelenggu tangan dan mengunci lisan orang Islam, yang dengan begitu kalian berarti merendahkan mereka setelah Allah memuliakan mereka dan menghinakan mereka setelah Allah meninggikan martabat mereka…”
Khalifah yang mulia ini lahir pada 63H (682M) dan hanya memerintah selama dua setengah tahun saja (717-720M). Ia meninggal pada usia 38 tahun, karena diracun oleh sekawanan orang yang dendam dengannya. Pembunuhnya berhasil ditangkap dan mengaku mendapat bayaran seribu Dinar. Uang itu akhirnya dimintanya dan dimasukkan ke Baitul Mal.*
Nuim Hidayat adalah penulis Buku ‘Imperialisme Baru

Red: Cholis Akbar

“Si Pengganggu” dari Timur dan Penggagas Pan-Islamisme



 


SEORANG manusia langka yang mampu menggelegarkan dunia Timur agar bangun dari tidurnya yang panjang, dialah Djamalauddin al-Afghani. Seorang yang gigih mengembara ke berbagai belahan dunia, hanya untuk mengobarkan bibit persatuan Islam, yang bagi sebagian orang hal ini menjadi sebuah ancaman. Tak jarang, semasa hidupnya, ia diperlakukan bak hama dan penyakit, baik oleh penjajah kolonial ataupun penguasa muslim sendiri. Ia dianggap pengganggu dan pembuat onar.
Djamaluddin tumbuh di masa keputusasaan yang amat menyedihkan. Saat itu dinasti Islam secara keseluruhan tampak seperti orang yang berpenyakit akut. Kemunduran, stagnansi, dan penjajahan beserta belenggu yang ada di dalamnya telah membelit setiap orang. Penjajah kolonial, dengan bermodalkan senjata dan keilmuan modern telah bertindak sewenang-wenang dalam menebarkan kejahatan, maksiat dan eksploitasi. Bukan hanya sumber daya alam yang diperas, akan tetapi ajaran Islam itu sendiri yang jadi sasaran.
Islam dipojokkan sebagai ajaran yang konservatif, beku dan sempit. Ajaran ini dituding sebagai akar kemunduran dan degradasi. Mereka kemudian menawarkan sebuah terobosan dengan nama westernisasi berikut gaya hidup yang tercipta di era Renaisscance, serta memperkenalkan teknologi-teknologi yang telah dijangkau oleh ilmuwan-ilmuwan di Barat.
Kebodohan yang menggurita menjadikan kaum muslimin semakin putus asa. Akibatnya, kaum muslimin kian ragu hatinya terhadap ajaran Islam itu sendiri. Di masa yang penuh keputusasaan inilah seorang Djamaluddin lahir. Namun ia tidak mau bersikap membebek menurut kepada kebanyakan kaum muslimin saat itu. Ia pelajari pelan-pelan seluk beluk zamannya. Ia lalu berpendapat bahwa Islam bebas dari tuduhan-tuduhan yang disematkan oleh Barat.
“Sangat memalukan saat mereka (kaum Muslimin.red) menyatakan diri sebagai pemeluk ajaran Islam namun mengkhianati semua perintah dan larangan-Nya,” ujarnya.
Djamaluddin al-Afghani hadir di tengah rimba kegelapan, ia meneguhkan tekad untuk berjuang keras menghidupkan negeri yang mati dan menyuburkan tanah yang kering kerontang. Ia adalah manusia langka. Segenap penjuru alam, berbagai belahan dunia yang mengenal dirinya, akan merasakan pancaran jiwa seorang Djamaluddin. Timur dan Barat, tanpa lelah ia jelajahi satu per satu.
Persatuan Haji
Haji merupakan fenomena yang membuktikan kebenaran dari Al-Qur’an itu sendiri. Allah menegaskan bahwa bangunan sederhana yang ada di Makkah akan mampu menarik jutaan hati manusia untuk berduyun-duyun mendatanginya. Sebagaimana dalam firman-Nya:
"Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta yang kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh." (QS. 22:27)
Segenap kaum muslimin pun tergerak dan berdatangan ke tanah Makkah itu. Tak terkecuali sosok Djamaluddin al-Afghani. Momentum haji inilah yang menjadi sarana bertemunya segala jenis manusia tanpa melihat perbedaan yang melekat pada dirinya. Semua bersatu pada kesatuan harmoni ritual ibadah, dalam balutan pakaian yang sama, mengitari Ka’bah yang satu. Semua dilakukan dengan ikhlas dan suci hati, lillahi ta’ala.
Ibadah Haji dengan segala keutamaan di dalamnya akhirnya dipilih oleh Djamaluddin untuk membangkitkan spirit perjuangan mengembalikan kejayaan Islam ke segenap penjuru. Ia mulai membangun komunitas persatuan haji. Ide-idenya tentang pembaharuan Islam mulai tersebar saat itu. Agaknya ia tahu bahwa ketika kaum muslimin ini betul-betul menjalankan ibadah haji dengan keimanan yang mendalam, mereka akan lebih mudah tersadarkan dan tersentuh hatinya. Di sinilah Djamaluddin menggambarkan keadaan dan kondisi umat Islam yang tampak begitu menyedihkan, terbelakang dan terpuruk.
Semangat dari haji ini kemudian mendorong pemikiran Djamaluddin ke arah yang lebih jauh, yakni politik dan kekuasaan Islam. Menurutnya Islam dan politik memiliki keterkaitan erat sebagai bagian dari kewajiban seorang Muslim dalam menjalankan syari’atnya secara kaffah. Penjajahan di dunia Islam begitu menyita perhatiannya. Ia menilai institusi kekhilafahan (Turki-Utsmani) telah jauh mengalami kemunduran secara perlahan namun pasti.
Ia berpendapat bahwa yang menjadi persoalan saat ini adalah konsep pemerintahan absolut yang diusung kekhilafahan. Konsep monarki absolut betul-betul rapuh kenyataannya. Ia mudah terbelenggu politik, terprovokasi lalu terpecah belah. Djamaluddin menawarkan sesuatu yang cukup revolusioner bagi sultan Utsmani saat itu, konsep Jumhuriyah, atau secara istilah dekat dengan istilah “Republik”. Tentu saja Republik yang dimaksud berbeda dengan yang dibawa oleh filsuf bernama Plato.
Di dalam “Republik” versi Djamaluddin, seseorang dapat menyalurkan pendapatnya dengan jaminan kesamaan statusnya di hadapan hukum dan pemerintahan. Apa yang hendak diagendakan seorang Djamaluddin adalah prinsip syura dan ijma’. Dua padanan kata yang nantinya ia sempurnakan ketika merambah ke berbagai belahan dunia.
India
India sebenarnya bukanlah tempat yang asing bagi Djamaluddin. Ia pernah belajar di sini sewaktu kanak-kanak. Dan ketika ia kembali untuk menyusun rencana strategi anti-Barat, ia lucuti satu per satu “pakaian” para penjajah yang menyembunyikan kehinaan. Langkah-langkah politiknya membuat orang-orang Inggris di India gerah. Mereka ingin segera mengusir singa itu, si pembuat onar, Djamaluddin.
Suatu saat Djamaluddin berbicara kepada seorang wakil negara Inggris, “Sungguh, tindakan intimidasi pemerintah Inggris terhadap turis yang terusir seperti aku ini menggambarkan rendahnya cita-cita mereka, lemahnya kekuatan mereka, minimnya rasa keadilan mereka, dan tidak amannya posisi mereka. Meskipun kenyataannya mereka berkuasa atas negeri ini, namun mereka justru lebih lemah daripada negeri-negeri yang mereka kuasai.”
Djamaluddin kemudian mengeraskan suaranya dengan lebih lantang, “Wahai penduduk India! Demi kebenaran yang mulia dan keadilan yang luhur, seandainya kalian semua dianggap oleh mereka sebagai ratusan juta lalat, niscaya dengungan kalian dapat memekakkan telinga orang-orang Inggris Raya. Seandainya kalian berjumlah ratusan juta. Lalu Allah salin rupa kalian semua dan masing-masingnya Allah jadikan kura-kura, kemudian kalian berenang di lautan dan kalian rambah semua kepulauan Inggris, niscaya kalian mampu menarik kepulauan itu ke dasar lautan dan kalian pulang ke negeri kalian dalam keadaan merdeka!”
Ia lalu meninggalkan bara api yang berkobar yang akhirnya menjadi terusir dari India.
Afghanistan dan Asia Kecil
Di sini mulanya Djamaluddin diupah untuk mengajar putra sulung Raja Afghanistan. Kesempatan ini ia manfaatkan untuk merumuskan konsep revolusioner tentang reformasi dan modernisasi Islam sebagai cara untuk menghimpun kekuatan kaum Muslimin.
Namun sayangnya, sepupu anak Raja dengan dukungan Inggris menggulingkan pemerintahan di Afghanistan. Lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki. Ia adalah sosok pengganggu bagi Inggris.
Suatu saat, Djamaluddin mulai menyampaikan pidato di Universitas Konstantinopel. Ia menyatakan bahwa Umat Islam perlu belajar tentang semua ilmu pengetahuan modern, tetapi pada saat yang sama, mendidik anak-anak mereka secara lebih tegas dalam nilai-nilai, tradisi dan sejarah Islam. Modernisasi dalam pandangan Djamaluddin tidak harus berarti westernisasi. Kaum muslimin bisa mencari bahan modernisasi yang khas dalam Islam itu sendiri, tidak harus berbau barat. Pesan ini diterima baik oleh hampir seluruh kalangan. Ia kini memiliki reputasi dan jabatan yang cukup berkelas di Turki Utsmani.
Namun, usahanya di sini tidak mendapatkan tanggapan positif dari ulama-ulama ortodoks di sana. Tindakan Djamaluddin dianggap merendahkan martabat mereka. Dan lagi-lagi, Djamaluddin harus angkat kaki.
Menuju Mesir
Di sini Djamaluddin mengajar di kelas-kelas, memberikan kuliah di Universitas al-Azhar. Tetap, ia bersikukuh dengan visinya tentang modernisasi Islam. Ia pun tak segan mengkritik rezim di sana, ia mengatakan bahwa, penguasa negara itu haruslah hidup dalam kesederhanaan, hidup di tengah-tengah rakyat, sebagaimana yang dilakukan khulafaurrasyidin. Di sini pula ia menyempurnakan konsep Jumhuriyah dengan dua padanan Syura dan Ijma.
Syura yang Djamaluddin maksud artinya adalah semacam mekanisme yang melaluinya pemimpin muslim meminta saran dan persetujuan dari masyarakat. Sementara Ijma berarti “konsensus”. Konsep ini bersumber dari perkataan Nabi: “Umatku tidak akan pernah bersepakat pada suatu kesalahan.” Para ulama menggunakan ucapan ini sebagai pembenaran untuk menyatakan bahwa ketika mereka sepakat tentang sesuatu yang fundamental, hal itu tidak perlu dipertanyakan lagi.
Dari syura dan Ijma ini, Djamaluddin mengemukakan bahwa para penguasa tidak akan memiliki legitimasi tanpa dukungan rakyat mereka. Dan hal ini tentu saja membuat penguasa setempat gerah. Ia dicekal secara perlahan dan pada tahun 1879 ia benar-benar terusir. Lagi, ia harus pergi, dan kali ini tujuannya eropa.
Paris
Di kota inilah mulai disematkan istilah Pan-Islamisme oleh Barat ke dalam diri Djamaluddin al-Afghani. Di sini ia banyak menulis berbagai artikel yang terpublikasi dalam bahasa Inggris, Persia, Arab, Urdu dan Perancis. Salah satu jurnal yang cukup menjadi fenomenal adalah al-Urwah al-Wutsqa, yang dikelola oleh murid Djamaluddin yakni Muhammad Abduh.
Di dalam jurnal itu, Djamaluddin menyatakan bahwa semua yang tampak sebagai beragam perjuangan lokal antara muslim dan negara-negara Eropa atas berbagai persoalan yang khusus: antara Iran dan Rusia mengenai Azerbaijan, antara Yunani dan Utsmani, antara Inggris dan Mesir mengenai pinjaman Bank, dll., sebenarnya bukanlah peperangan yang berbeda-beda mengenai masalah yang berbeda melainkan gambaran satu perjuangan besar antara dua entitas: Islam dan Barat.
Setelah jurnalnya ditutup, ia sempat mampir di Amerika, kemudian London, saat ia berdebat dengan ayah dari Winston Churchil tentang kebijakan Inggris di Mesir. Uzbekistan, tempat ia mulai menerjemahkan al-Qur‟an atas izin Tsar yang kemudian malah membangkitkan semangat Islam, kemudian Iran, tempat dia mereformasi peradilan dan menyerukan pemboikotan tembakau yang jelas ini membawanya kembali berurusan dengan ulama dan penguasa setempat, dan terakhir adalah Utsmani.
Istanbul
Sultan Hamid berpandangan bahwa ide Djamaluddin tentu akan memberinya semacam dividen politik. Ia kembali mengajar, menulis, berpidato. Ia mengatakan kepada orang-orang yang berdatangan kepadanya dalam rangka mencari ilmu: bahwa “ijtihad” adalah prinsip utama Islam; akan tetapi berijtihad harus berangkat dari prinsip-prinsip yang mengakar pada al-Qur‟an dan hadits. Setiap muslim memiliki hak atas interpretasinya sendiri terhadap kitab suci dan wahyu, TAPI Umat Islam sebagai sebuah komunitas harus melatih diri mereka sendiri untuk memahami prinsip-prinsip pertama yang tertanam dalam wahyu itu.
Kesalahan besar Umat Islam, kata Djamaluddin, adalah karena mereka berpaling dari ilmu pengetahuan Barat sembari merangkul pendidikan dan adat istiadatnya. Yang seharusnya mereka lakukan adalah mereka harus merangkul sains Barat tetapi menutup gerbang mereka bagi adat istiadat sosial dan sistem pendidikan Barat.
Sultan Hamid tahu apa yang merisaukan Djamaluddin. Ia sediakan banyak fasilitas bagi seorang singa yang sedang kelaparan itu. Dengan tegas Djamaluddin mengatakan bahwa pemerintahan haruslah diubah dan konsep syura harus dijadikan dasar.
Sultan pun naik pitam. Ia menyampaikan sebuah pesan, “Penghormatan sultan kepadamu belum pernah ada tandingannya. Namun hari ini kami melihatmu menceramahinya dengan logat bahasa yang asing, sementara kamu sendiri memain-mainkan tasbih di depannya.”
Dengan tutur kata tajam, Djamaluddin menjawab, “Subhanallah!! Sungguh, sultan bisa memainkan peran menundukkan jutaan rakyat untuk mengikuti kehendaknya tanpa ada satu orang pun di antara mereka yang berani menyanggah perintahnya. Lalu apakah Djamaluddin tidak berhak untuk memainkan tasbihnya kapanpun dia mau?”
Dialog itu pun berakhir dengan kematian Djamaluddin. Penyakit kanker mulut mendera dirinya. Ia pun pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Auman singa yang senantiasa kelaparan itu tak terdengar lagi, namun ide dan spirit pan-Islamis tetap terasa membara hingga hari ini.
Bahkan hingga melahirkan generasi-generasi berikutnya, seperti Hasan al-Bana yang mendirikan Al Ikhwan al Muslimun di Mesir.*/Iman Adipurnamasedang melanjutkan studi S2 di Taipei. Penulis adalah peminat topik keislaman

Red: Cholis Akbar

Hukum Suap Dan Gaji Dari pekerjaan yang Diperoleh Karena Suap


Diasuh Oleh DR H M Taufik Q Hulaimi MA Med, Direktur Ma’had Aly an-Nuaimy Jakarta (Mencetak Kader Dai Nasional). Alamat: JlSeha II No I Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12220. Tlp 021-7251334
Assalamu'alaikum Wr, Wb.
Yang kami hormati Ustad Taufik,
Ananda ingin menanyakan beberapa hal mengenai suap/sogok dalam hukum Islam, misalnya seseorang agar dapat diterima menjadi PNS/Karyawan memberikan imbalan berupa sejumlah uang kepada pihak tertentu supaya dapat lulus dan diterima menjadi PNS/Karyawan. Yang ingin saya tanyakan :
1. Apakah hukumnya suap/sogok dalam Hukum Islam (baik yang menerima maupun yang memberi serta yang terlibat dalam sogok/suap tersebut) ?
2. Jika orang tersebut diterima sebagai PNS/Karyawan lantaran sogok tersebut, apakah Halal gaji yang terima setiap bulannya?
3. Ada beberapa teman mengatakan bahwa dosa sogok/suap, merupakan dosa yang diampuni, jadi tidak apa-apa melakukan sogok, karena menurutnya setelah diterima, kita dapat melakukan tobat. Bagaimanakah menurut Ustadz dalam hal ini?
Demikian pertanyaan Ananda, mohon maaf jika terdapat kata-kata yang kurang sopan, mohon  penjelasan dari Ustad Taufik secara lengkap dan detil, karena Ananda sangat membutuhkan pencerahan dari Ustad Taufik. Terima kasih banyak Ananda ucapkan, atas penjelasan Ustad.
Dari Dabak di Baturaja

Jawaban:
Islam Mengharamkan Suap
Islam secara tegas mengharamkan suap atau sogok. Rasulullah saw bersabda: ”Allah melaknat penyuap (ar-raasyi) dan yang disuap (al-murtasyi).” Kedua belah pihak, penyuap dan penerima suap dilaknat Allah SWT. Oleh karena itu hukum suap haram.
Kaidah Fathu Dzaraai’
Dalam Usul fikih terdapat sebuah kaidah Usul fiqih yang disebut Fathu Dzarai’. Prinsip kaidah ini membolehkan yang haram apabila dipastikan atau diperkirakan dalam pembolehan tersebut mewujudkan manfaat yang lebih besar  atau mencegah mafsadah. Tentunya manfaat dan mafsadah disini menurut syariat Islam bukan menurut aturan yang lain.
Suap dibolehkan dalam kondisi tertentu.
Suap yang diharamkan dalam teks hadis diatas adalah suap yang mengandung unsur zhalim (merugikan orang lain). Seperti menzhalimi hak orang lain, mengambil sesuatu yang bukan haknya, menghalalkan yang haram atau sebaliknya, mempengaruhi keputusan yang merugikan pihak lain dan sebagainya.
Hukum suap akan berbeda apabila tidak mengandung unsur zhalim. Seperti mengambil sesuatu yang menjadi haknya, melakukan suap karena untuk mencegah bahaya yang lebih besar atau mewujudkan manfaat (yang sesuai dengan syariat) yang besar. Dalam keadaan seperti ini maka si pemberi suap tidak berdosa, hanya penerima suap yang mendapat dosa. Hal ini sesuai dengan kaidah fathu dzarai’.
Apabila seseorang sudah ikut proses penerimaan PNS dengan benar kemudian ia diterima. Namun nomor NIP tidak bisa keluar karena pihak berwenang meminta sejumlah uang. Dalam hal seperti ini maka dibolehkan bagi calon PNS tersebut untuk membayar sejumlah uang kepada pihak berwenang agar Ia bisa mempunya NIP. Ia tidak menzhalimi siapapun, suap tersebut hanya untuk mengambil hak dia. Ia tidak berdosa. Dosa hanya ditimpakan kepada pihak berwenang.

Hukum Gaji dari Pekerjaan yang diperoleh dari hasil suap
An-nahyu (larangan) dalam fiqih dibagi menjadi tiga jenis. Pertama: Larangan karena hal yang dilarang memang tidak baik, seperti mencuri, berzina dan lain sebagainya. Kedua larangan bukan karena hal yang dilarang tidak baik akan tetapi karena ada sesuatu yang tidak baik menyertai hal yang dilarang, dan hal tersebut tidak terpisahkan (mulaazim lahu). Seperti; larangan jual beli sesuatu yang tidak ada barangnya. Larangan ini bukan karena jual belinya tapi karena barang yang dijual tidak ada dihadapan penjual dan pembeli yang mana hal ini bisa menimbulkan penipuan. Ketiga: larangan Karena sesuatu yang menyertai hal yang dilarang tapi hal tersebut terpisah dari hal yang dilarang. seperti: mengkhitbahi seorang perempuan yang sudah dikhitbah oleh orang lain, kemudian menikahinya. Khitbah terpisah dari menikah.
Jenis pertama dan kedua apabila dilakukan maka tidak berdampak  apa-apa. Pencuri tidak memiliki barang curian, zina tidak merubah status pezina, jual beli barang yang tidak ada dihadapan penjual dan pembeli ( bai’-al-ma’duum) tidak sah, kepemilikan barang tidak pindah ke pembeli, juga kepemilikan uang tidak pindah ke pedagang.
Jenis ketiga berbeda dengan jenis pertama dan kedua. Jenis ketiga walaupun dilarang namun tetap berdampak hukum. Mengkhitbah  perempuan yang sudah dikhitbah orang lain haram, namun apabila dilanjutkan dengan nikah maka nikahnya tetap sah.
Mendapatkan pekerjaan dengan suap haram. Namun apakah gaji dari pekerjaan yang diperoleh dengan suap juga haram? Apabila masalah kita qiyaskan ke masalah mengkhitbah perempuan yang sudah di khitbah kemudian menikahinya. Maka kesimpulannya adalah. Menyuap untuk memperoleh pekerjaan haram (dengan catatan menzhalimi orang lain). Gaji yang diperoleh dari pekerjaan tersebut tetap sah dan tidak haram. Dengan syarat gaji tersebut diperoleh karena ia bekerja dengan baik dan melakukan tuntutan pekerjaanya. Apabila karyawan tadi tidak melakukan tuntutan kerja dan tidak bekerja dengan baik maka hukumnya berbeda. Gaji tersebut tetap haram.
Beniat Taubat Sebelum Melakukan Maksiat:
Ada tiga syarat agar diterima taubatnya. Pertama:  meninggalkan maksiat, Kedua: menyesal terhadap dosa yang dilakukan, Ketiga: bertekad untuk tidak mengulangi maksiat tersebut. Apabila seseorang berniat taubat sebelum melakukan maksiat maka sesungguhnya ia tidak ada niat untuk taubat, tidak mau meninggalkan maksiat, tidak menyesal dengan maksiat tersebut dan ada niat mengulanginya.
Disisi lain apakah ia menjamin bahwa ia masih hidup ketika maksiat itu selesai dilakukan? Tidaklah ia khawatir  tidak ada kesempatan untuk  bertaubat atau ia meninggal ketika melakukan maksiat. Juga, apakah ada jaminan bahwa Allah akan mengampuni dosanya seandainya ia melakukan maksiat tersebut. Bisa jadi Allah SWT marah karena ia mempermainkan hukum Allah SWT dan Allah SWT menutup hatinya kemudian ia menikmati hasil maksiat tersebut dan menjauhkannya dari taubat. Naudzubillah min dzalik.

Wallahu ‘Alam

"Allah SWT Belum Pilih Saya Naik Haji"



Banyak orang yang mampu berangkat haji ketika ditanya kenapa belum naik haji maka biasanya ia menjawab,"Allah belum pilih saya naik haji."

Padahal jawaban seperti ini sangatlah tidak tepat karena seakan-akan dia menyalahkan Allah SWT, yaitu "Saya belum berangkat haji gara-gara Allah belum pilih saya."


Andaikata jawaban dia benar lalu kenapa dalam beberapa hadist, Nabi Muhammad saw. mengancam kepada orang-orang yang memiliki kemampuan untuk berangkat haji tetapi justru dia tidak mau pergi.

1. Ali r.a. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda,” Barangsiapa telah memiliki bekal dan kendaraan yang bisa menyampaikannya ke Baitullah (untuk pergi haji), dan ia
tidak menunaikannya, maka tidak ada bedanya ia mati dalam keadaan Yahudi atau Nasrani. Setelah itu, untuk menguatkan sabdanya, beliau saw membacakan ayat,’ Walillahi ‘alannaasi…dst’. “ (Hadits Riwayat Tirmidzi; Kitab Misykat)


2. Ali bin Abi Thalib ra berkata Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang mempunyai bekal dan kendaraan yang bisa dibuat pergi ke Baitullah (ka’bah), lalu tidak berhaji maka tidak ada jalannya kecuali mati dalam keadaan yahudi atau Nasrani.” (HR Tirmidzi dan Al Baihaqi)

Dari dua hadist di atas jelas-jelas disebutkan bahwa seseorang yang memiliki kemampuan naik haji tetapi tidak berangkat haji karena kemauannya dia sendiri bukan karena Allah swt belum pilih dia. Andaikata karena kemauan Allah swt lalu kenapa Nabi saw mengancam mereka dalam kedua hadist itu.

Para sahabat pun juga mengancam orang yang mampu naik haji tetapi dia tidak mau berangkat.

1. Umar bin Khathab ra berkata: “Sungguh aku ingin mengutus beberapa lelaki ke beberapa kota ini sehingga bisa melihat orang yang mempunyai kekayaan lantas tidak berhaji, lalu mereka diwajibkan membayar pajak sebab mereka bukanlah menjadi muslim lagi.”

2. Said bin Jubair berkata: “Ada tetanggaku kaya raya, tidak mau pergi haji, lantas meninggal dunia aku tidak mau melakukan shalat jenazah.”


Dari riwayat-riwayat tersebut mengingatkan kepada orang muslim agar segeralah berhaji jika sudah mampu. Baik dalam kesehatan badan, bekal harta benda maupun syarat lainnya. Kalau tidak ingin matinya seperti yahudi atau Nasrani.

Sebab siapa tahu, kematian sudah dekat. Jangan suka menunda nikmat untuk ibadah haji. Kebanyakan orang menyatakan “belum siap”, padahal harta sudah punya.

Dalam Al-Qur’an jelas disebutkan bahwa Allah swt telah mewajibkan ummat Islam untuk melaksanakan haji, bagi mereka yang mampu melaksanakan perjalanan ke Baitullah. Tetapi pada kenyataannya banyak di masyarakat kita orang yang mengaku sebagai orang Islam dan dipandang telah mampu melaksanakan ibadah haji, tidak juga tergerak untuk segera berhaji. Dan tipe orang semacam itu ternyata sudah ada sejak zaman Rasulullah saw.

Karena itu Rasulullah memerintahkan kepada umat Islam yang telah mampu, untuk segera melaksanakan ibadah haji, dengan sabda beliau:
تَعَجَّلُوا  إلى الحجّ يعنى الفريضة فإنّ أحدكم لا يدرى ما يعرض له 

“Bersegeralah kalian untuk berhaji, yakni haji wajib. Karena seseorang tidak tahu apa yang akan terjadi pada dirinya” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan bahwa seseorang, jika sudah punya kesempatan (Biaya, waktu, kesehatan dll) diperintahkan untuk segera melaksanakan haji. Sebab kalau ditunda, bisa-bisa kesempatan itu hilang. Misalnya sudah ada biaya, tapi dipakai untuk beli tanah dulu, mungkin nanti tanah tidak akan barakah bahkan bisa jadi terjual lagi, kesempatan haji pun hilang.  Tapi kalau buat haji dulu, InsyaAllah seperti yang sudah dijanjikan Allah, Allah akan mengganti biaya yang dikeluarkan untuk haji tersebut.

Syaikh Yusuf Qaradhawi, Kaum Muslimin Harus Mengontrol Kemarahannya

"Reaksi atas penghinaan kepada Nabi Muhammad SAW SAH (legal) dan hal yang kita kehendaki. Ini adalah KEWAJIBAN IMAN. Membela Nabi SAW adalah AMAL ISLAMI. Namun, seorang Muslim harus bertindak sesuai HUKUM ISLAM dan TELADAN dari NABI SAW. Kita tidak boleh BERBUAT yang bertentangan dengan ajaran Nabi SAW, padahal kita menganggap sedang membela-Nya.
Kaum Muslimin harus mengontrol kemarahannya. Kita harus fokus kepada tujuan kita. Kita harus menghentikan PENGHINAAN ini dan MENGHUKUM mereka yang bertanggung jawab. Dalam menjalankan tujuan ini, kita harus menghindari tindakan yang justru mengundang penghinaan yang sama, dan alih-alih hanya akan melindungi mereka yang melakukan penghinaan dengan dalih KEBEBASAN BEREKSPRESI.
Penghinaan atas keyakinan tidak memiliki tujuan lain kecuali menciptakan kekacauan. Dan menjawab provokasi ini dengan kekerasan hanya akan MEWUJUDKAN apa yang menjadi keinginan mereka (Kekacauan).
Kewajiban Muslim tidak hanya merespon penghinaan itu, namun juga memperkenalkan kehidupan, pesan moral dan nilai akhlak mulia Nabi kepada dunia.
Serangan barbar atas kedutaan AS BUKAN MERUPAKAN AJARAN ISLAM. Menurut hukum dan moralitas Islam yang kita wajib pegang teguh adalaah bahwa DUTABESAR, PARA PEDAGANG atau INDIVIDU DALAM IKATAN PERJANJIAN yang masuk ke negara Muslim harus DIJAGA KESELAMATANNYA. Nabi SAW telah melarang membunuh UTUSAN (duta besar)."
Nasihat ULAMA' Dunia DR. Yusuf Qardhawi